Baluran, Africa Van Java (bagian 2)

Pemandangan dari gardu pandang

Ketika membuka pintu pagi itu, di depan mata saya sudah tersedia hamparan hutan sabana yang menyegarkan mata, sungguh pemandangan yang sangat jarang dilihat. Akhirnya pagi datang juga, semalaman saya dihantui dengan ketakutan kegelapan malam d Baluran. Listrik yang hanya menyala dari pukul 18.00-23.00 membuat gerak di tengah malam serasa dibatasi. Dibatasi oleh ketakutan dan halusinasi gelapnya alam baluran di luar sana, belum lagi hewan hewan malam yang berkeliaran mencari mangsa di malam hari, maklum ini taman nasional, jadi semua hewannya bebas dilepas begitu saja.

Pagi itu sekitar pukul 7.00 saya dan merlin jalan jalan keatas, diatas bukit belakang penginapan ada sebuah gardu pandang. Ketika berjalan kesana kami sempat berpapasan dengan dua orang wisatawan asing. Ya rupanya ada juga yang menginap disini selain kami berdelapan. Lewat gardu pandang itu kami bias melihat alam baluran yang benar benar Africa van java. Ah sungguh pagi yang luar biasa, sebelah timur sana ada matahari yang baru tampak diatas sebuah lautan, diseberang lautan itu terlihat jelas Taman Nasional Bali Barat. Sebelah barat kami Gunung Baluran yang puncaknya diselimuti awan. Sebelah selatan sana ada hamparan savanna bekol yang luas, ditutup dengan hutan diujungnya. Sebelah selatan kami adalah hutan hutan dengan hutan yang cukup lebat.

Gunung Baluran

Pagi itu pun tidak lupa dibuka dengan sarapan, ya sarapan seadanya. Di Baluran tidak ada jajanan, boro boro warung, yang ada ya cuma pos penjaga dan wisma wisma yang kosong. Kami hanya menyantap pop mie yang kami beli dari malang. Setelah sarapan, ada kejadian yang sangat mengejutkan. Saat ingin menyusul merlin yang menuju ke penginapan dari dapur (dapur-penginapan kira kira 200m), saya melihat merlin mulai dikerubungi dan dikejar oleh monyet monyet liar yang memang selalu berkeliaran di sekitar penginapan. Saya bingung mesti mengejarnya atau gimana, yang jelas monyetnya sekitar belasan sampai dua puluh ekor. Kemudian saya bersama Ovy, Cepe, dan Eji menyusul teman teman yang berada di penginapan. Ternyata mereka kekunci di kamar. Begitu kami buka, merlin langsung meringis kesakitan sambil memegangi kakinya. Ternyata dia disengat lebah ketika ingin keluar dari kamar yang terkunci lewat jendela. Dari bawa jendela para lebah langsung mengerubungi dan menyengat kaki merlin. Sungguh kesialan yang sangat luar biasa di pagi itu.

Foto di gardu pandang 😀

Pantai Bama

Sekitar pukul 10.00 kami mulai berjalan menuju pantai bama, dari info yang kami dapat disana bias snorkeling, makanya salah seorang teman kami membawa alat snorkel. Sambil berjalan di jalan berbatu yang membuat kaki ngilu, belum lagi matahari yang menyengat, apalagi itu savanna, tidak ada pohon besar yang melindungi kami dari panasnya mentari, kami pun menyempatkan untuk berfoto foto, suatu ritual yang tidak akan pernah terlewat di setiap trip kami.Rasanya sudah jauuuuuh sekali berjalan, tapi kok  tidak sampai sampai. Katanya sih jarak Bekol ke Bama sekitar 3km tapi ini rasanya lebih dari tiga kilometer. Di perjalanan kami pun melihat rusa rusa serta banteng jawa yang sudah mau punah di kejauhan hutan savanna. Tidak lupa monyet monyet liar menghiasi dipinggir jalan, mungkin minta distop dan ditawar. Sejak kejadian penyerangan monyet terhadap teman kami, saya dan semua teman teman kami tidak lagi simpatik dengan mereka, hanya mahluk liar yang pantas digiles. HahahaAkhirnya sekitar 1 jam kurang berjalan kami sampai juga di pantai bama. Voila! Pantainya biasa aja, disana juga ada penginapan dan ada banyak penghuninya. Lagi lagi disana banyak monyet. Monyetnya lebih liar karena tidak malu malu mencuri barang yang kami bawa jika kami lengah.Setelah Tanya sana sini bagaimana caranya snorkeling disana, kami hanya mendapatkan jawaban “kalau mau snorkeling ya berenang sendiri ke tengah”. Ngek ngok… percuma saja jalan sejauh 3km kesana. Akhirnya kami hanya duduk duduk di tepi pantai sambil ngaso ngaso. Karena saat itu sudah siang, perut terasa lapar, ya kami mencari makan saja. Lagi lagi makan mie, tapi kali ini mie instan yang kami beli di sebuah warung disana, ah ada juga warung disana. Rp 3000 saja Mie goring instan tanpa telor. Cukup lah mengganjal sampai pelabuhan ketapang sore nanti, atau mungkin sampai mendarat di Bali?

Perjalanan menuju pantai Bama

Tak tau lagi mesti ngapain, akhirnya kami balik ke bekol, di tengah perjalanan kami mendapatkan tumpangan, namun hanya bisa menampung para wanitanya saja, akhirnya kami laki laki bertiga jalan menyusuri jalan berbatu yang rusak parah. Tanpa banyak ba-bi-bu kami berjalan terus, tak sadar kepala mulai pusing. Rupanya sengatan matahari begitu tajam menghajar kepala kami. Sekitar 30 menit berjalan tanpa berhenti, kami mulai melihat para wanita berdiri dibawah pohon kecil. Seperti pemandu sorak mereka mulai meneriaki kami, member semangat. Kami bertiga pun langsung lari menuju mereka.Sekitar pukul 12.00 mereka, para cewek tidak sabar untuk berfoto foto di tengah savanna bekol. Kami para pria yang dari tadi berjalan cukup nyerah deh untuk diajak foto foto, butuh waktu untuk istirahat. Tanpa pikir panjang saya membaringkan diri ke belakang, ke rerumputan kering dibawa pohon kecil itu. Dari sana saya menyaksikan aksi teman teman saya action di depan kamera. Sungguh jenaka! Belum lagi alam baluran yang benar benar indah membuat saya tersenyum senang, kagum. Padahal kemarin malam baru saja dibuat ternganga oleh indahnya bintang bintang di Bromo serta indahnya alam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

yeaay!

Akhirnya ajakan untuk berfoto foto sungguh menggerakan saya masuk ke dalam savanna. Pose ini pose itu, ah semuanya terlihat bagus disini. Kami pun sampai lupa waktu dan lupa kalau saat itu matahari sungguh panas. Pukul 15.00 kami meninggalkan wisma bekol. Kami menyewa mobil dari bapak penjaga di pos bekol. Mobil itu kami sewa seharga Rp. 200.000. tidak lupa kami membayar penginapan di bekol tersebut, jumlah totalnya Rp. 270.000 kalau tidak salah.Sungguh mengharukan memang, walau hanya semalam kami di Baluran namun cukup melekat, belum lagi pengalaman dan cerita yang di dapat. Di awal perjalanan masuk menuju hutan hutan kearah pintu masuk Batangan yang berarak 17km dari Bekol, kami melihat burung merak yang lari mengumpat ke dalam semak belukar, ah saying sekali ini bukan musim kawin mereka sehingga kami tidak menyaksikan burung merak berkeliaran di sekitar wisma. Selanjutnya perjalanan panjang menuju pelabuhan ketapang di Banyuwangi dihabiskan dengan tidur dan mengobrol.

You may also like

5 Komentar

    1. Wooh maaf baru bales, biaya sewa mobil elf satu juta tujuh ratus ribu. Itu dari malang, sudah termasuk bensin dan supir. namun untuk satu hari aja. Kalau menginap di wismanya sekitar tiga ratus ribu semalam, satu wisma ada dua kamar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.