Baluran, Africa Van Java

Mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan dimana itu Baluran. Awalnya memang saya pun tidak mengetahuinya, sampai empat bulan sebelum memulai Trip BBB (bromo-baluran-bali) ini saya diceritakan tentang Baluran oleh Saras. Dia yang memang sangat bersemangat untuk kesini. Kalau anda bernah melihat iklan Citra edisi perempuan, nah pas scene Titi Sjuman lah diambil di Baluran. Ya ya.. sudah terlintas di kepala baluran itu tempat seperti apa, yang pasti Baluran adalah satu dari tujuh Taman Nasional di Pulau Jawa. Saat menyiapkan trip beberapa bulan yang lalu, saya mulai mencari info mengenai Taman Nasional Baluran ini, dan kemudian saya mendapatkan gambar gambar yang menarik dan wow.. sebuah pemandangan menarik tentang savana, ratusan hingga ribuan spesies burung yang ada disana, serta snorkling di pantainya. Semua terlihat begitu menyenangkan.

Menyambung cerita perjalanan sebelumnya, trip ke Taman Nasional Baluran dimulai tanggal 19 Juni 2010. Dari Bromo kami langsung menuju ke kabupaten Situbondo. Cukup jauh memang, kira kira menghabiskan waktu 6 jam penuh. Dari awal di Bromo, supir travel kami memang sudah bilang kalau kami hanya boleh di Bromo sampai jam 9, dikarenakan perjalanan dari Bromo ke Baluran tersebut cukup lama, si supir sampai bilang “iya, nanti saya takut kalau pulangnya kemaleman dari sana”, saat itu saya mulai bertanya tanya kenapa ya bapak supir yang cukup sangar tampangnya ini begitu takut, karena jauhnya atau karena apa?

Saras bergaya di Savanna Bekol

Tiga jam pertama saya habiskan dengan tidur, karena malamnya tidak bisa tidur dan ditambah trip ke Bromo yang berangkat jam 1 pagi. Selama di perjalanan, nampaknya baru memasuki kawasan Situbondo yang bisa dilihat hanya jalan lurus, cukup terik di luar, dan sepanjang perjalanan hanya hutan bakau dan pantai. Kemudian kami berhenti untuk makan siang, di warung makan sederhana dan sepi. Tidak terbayangkan juga memang tempat seperti ini bisa ramai, seperti perkampungan nelayan, udara sangat panas, terlihat gersang, dan memang tidak ada apa-apa. Benar benar negeri antah barantah, sangat asing berada disana.

Setelah melanjutkan perjalanan, kurang lebih satu jam kemudian, kami melihat papan informasi “Selamat datang di kawasan Taman Nasional baluran” ya kami semua mulai teriak senang dan gembira. Sekedar  info, papan informasinya itu kalau boleh dibilang sangat seram, kayak di film film Jurasic Park atau film film horor lainnya, namun yasudahlah, don’t judge book by it cover. Perjalanan dilanjutkan!

Menuju Batangan (sumber: eastjava.com)

 

Setelah melihat plang tersebut, kami mulai memasuki jalan lurus, di kanan kiri jalan hanya ada hutan jati, gak ada yang lain, sinyal pun lenyap! Di depan dan di belakang mobil kami hanya ada truk truk besar yang jalannya pun tidak cepat namun tak juga lambat. Satu jam kemudian, setelah melewati jalan panjang itu kami sampai di pintu masuk Taman Nasional Baluran tersebut, oohh jadi plang yang satu jam sebelumnya kami lihat itu apa? Yaa.. entahlah, mungkin itu hanya sebagai penunjuk kalau kami telah masuk kawasan TN Baluran. Saat itu saya sadar kenapa bapak sumpir kami takut pulang kalau sudah sore, jalan sepi dan panjang seperti itu siapa yang tidak takut menyetir sendirian?

Kemudian kami melapor ke pos dan membeli tiket masuknya. Suasana di pintu masuk Batangan tersebut cukup ada kehidupan, ada beberapa rumah atau mungkin wisma, dan sepertinya ada yang jual makanan juga. Okay! Setelah mengurus tiket kami langsung tancap ke Bekol. Kami mulai memasuki jalanan aspal yang sudah hancur dan hanya menyisakan batuan besar bertumpuk tak rapi. Sekeliling kami hutan dan banyak semak belukar, sepanjang perjalanan kami bisa melihat ayam hutan yang sedang mencari makan. Jalanan tersebut gelap, karena terlalu lebatnya pepohonan di sekitar, kami bisa melihat gunung Baluran yang puncaknya dikelilingi awan. Nampaknya sore memang telah datang, dedaunan mulai terlihat aga menguning, tersinari oleh matahari senja.

Info yang kami dapat, perjalanan dari Batangan ke Bekol berjarak 17 KM, logikanya bisa ditempuh dengan waktu 20 menit saja, namun dikarenakan jalanan yang rusak, maka perjalanan itu menghabiskan waktu sekitar 45 menit sampai 1 jam. Akhirnya kami sampai di Bekol, terleih dahulu kami melapor ke pos dan mengurus wisma yang akan kami sewa. Harga sewa satu wisma yaitu 270ribu, ada tiga kamar, dan satu kamar mandi. Begitu sampai di wisma nya, ternyata ya memang seadanya, kamar kamarnya berdebu, tempat tidur kasur yang seadanya, bantal yang bau apek karena memang sudah lama tidak dipakai, dan kamar mandi yang kotor baknya. Belum lagi listrik yang Cuma menyala dari pukul 6 sore sampai 11 malam.  Yah semuanya memang harus dinikmati.

Savanna view from bungalow

 

Begitu sampai kami langsung beres beres di kamar masing masing. Sekitar setengah jam beres beres kami langsung jalan jalan sore di sekitar sabana yang ada tepat di depan wisma kami. Jangan dibayangkan sabana itu seluas apa, karena memang luaaaaas banget. Saat itu kami sangat menimati hembusan angin yang berhembus di sabana tersebut, sambil melihat sesekali petugas yang melewati jalan bebatuan yang rusak itu, entah menuju kemana mereka. Benar benar damai disana, Cuma ada kami berdelapan dan alam Baluran yang sangat luas, sangat beragam, dan sangat alami.

bersambung ke bagian 2

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.