Pagi Bromo..

Jam 1 dini hari saya masih belum bisa tidur, karena mendengar suara suara aktivitas di ruang tamu maka saya keluar, melihat Merlin dan Saras sudah antre kamar mandi. Baiklah, saatnya beres beres, merapihkan barang barang yang telah dikeluarkan dari tas ransel serta sikat gigi dan cuci muka. Segelas teh manis hangat cukup menyegarkan saya di pagi buta itu. Ketika semuanya siap mobil travel yang akan mengangkut kami ke TN Bromo Tengger Semeru itu pun datang.
Langsung saja kami memasukkan gembolan gembolan kami tersebut, karena dari Bromo kami langsung menuju objek selanjutnya dan tidak balik ke Malang. Setelah berpamitan dengan Tante Susi, Punang, dan Mba Titis kami siap berangkat ke tujuan pertama dari trip BBB kami tersebut. Bromo, can’t wait for it.
Untunglah mobil travel yang kami sewa sampai trip B selanjutnya nanti sangat nyaman. Jika anda pernah naik travel menuju Bandung, ya seperti itu lah. Mobil yang mempunyai 11 tempat duduk penumpang itu membawa kami ke Bromo. Tentu di dalam sana kami bisa duduk dengan leluasa, tidak himpit himpitan seperti di angkot. Haha saat saat seperti itu, di mobil travel itu, benar benar merasa seperti raja. Sepanjang perjalanan tidak banyak yang bisa kami lihat, perjalanan yang menempuh kurang lebih 3 jam itu melintasi jalan jalan sepi tanpa rumah penduduk, tanpa lampu jalan. Ya, untunglah jutaan bintang menemani perjalana sepi nan gelap itu. Jutaan bintang, benar benar jutaan bintang saudara saudara!!
Saya tersadar kalau sedikit lagi sampai adalah ketika kuping yang semakin budeg karena naiknya 1 ATM, atau 1 atmosfir. Kemudian disambut oleh “Selamat datang di TN Bromo Tengger Semeru”, saya kira telah sampai, ternyata butuh melintasi jalan yang turun dan menanjak serta berkelok kelok. Belum lagi lampu jalan yang minim, ehhmm tunggu, nampaknya seingat saya waktu itu tidak ada lampu jalan. Baiklah…. kami sampai saudara saudara, kami sampai pemberhentian terakhir untuk mobil. Selanjutnya kami akan meneruskan perjalanan dengan mobil Jeep. Mobil Jeep yang kami pakai tersebut memasang harga 400rb untuk satu Jeep nya, harusnya Jeep tersebut berkapasitas maksimal 7 orang, ya kami paksakan saja berdelapan masuk semua dalam mobil tersebut.
Akhirnya perjalanan penuh menanjak segera dimulai, ketika telah masuk di gerbang tiket, saya baru ingat bahwa tripod lupa dibawa, ah super gawat 100% gawat. Tapi yasudahlah, ga mungkin kan kami balik lagi. Selama di perjalanan kami semua hanya terdiam, tidak ada yang mau membuka obrolan. Suasana di luar sana memang membuat kita semua diam, gelap, sepi, dingin, hanya ada suara angin dan suara suara Jeep yang akan menanjak ke atas. Sekitar 30 menit berlalu, kami sampai di pemberhentian terakhir Jeep tersebut, kemudian sang supir berbicara ke kami
“Nanti saya tunggu disini ya, mobil Jeep nya berwarna biru, nomernya Lxxxx, nama saya Tirta, Air” ucap lelaki yang kira kira berumur 60 tahun itu.
Setelah siap dengan alat tempur kami yaitu jaket jaket tebal, kami segera turun, dan memang sangatlah dingin disini, bbrrr. Salah seorang teman saya, Eji sampai menyewa jaket disana. Sewa jaket disana berkisar antara 5000-10.000. ketika memulai berjalan keatas, nampaknya waktu subuh telah tiba, dari pada tidak sempat maka kami solat subuh terlebih dahulu. Yang ada dipikiran saya, bagaimana ini wudhu nya, ya Allah ga kena air aja udah super dingiiin. Okay ternyata yang solat disana banyak yang tayamum, baiklah saya ikuti saja. Kami semua solat sambil menggigil kedingian.
Saat itu, kami masih bisa menikmati jutaan bintang di langit, belum sampai milky ways, namun bah! Cantik banget.. rasanya makin banyak saja bintang bintangnya. Di atas ternyata sudah banyak orang mengerubungi tempat melihat sunrise tersebut, ya walau masih gelap namun titik sunrise sudah bisa terlihat, langsung lah saya mencari posisi untuk memfoto moment tersebut, dengan shutter speed super lambat terekam lah moment tersebut. mulai putus asa oleh keterbatasan yang ada, lagi pula disana super ramai jadi males untuk motret, maka saya hanya menikmati saja. Mencari posisi yang pas untuk melihatnya sambil mondar mandir.
Oh iya, ada sedikit cerita dari Retha dan Ovy, jadi ketika sunrise makin terang, ada sepasang kakek dan nenek yang saya tafsir sekitar 70 sampai 80 tahun-an duduk di belakang Retha dan Ovy. Sepintas mereka mendengar pasangan itu bersenandung “Tanah air.. ku tidak kulupakan.. kan terkenang seumur hidupku….” ya Allah.. ketika saya mendengarkan cerita tersebut beberapa menit setelah Ovy dan Retha mendengarnya, saya langsung luluh. Bagaimana tidak, disuasana seperti itu, dengan keadaan mereka yang sudah terbatas, di kondisi yang amat sangat dingin, ditengah keramaian, hanya mereka yang benar benar tahu cara mensyukuri tanah dan air Indonesia ini.
Setelah terang, keadaan makin menghangat, hanya angin yang membuat kami malas melepas jaket. Selanjutnya kami hanya berfoto foto di atas sana. Dari sana kami bisa melihat TN Bromo Tengger Semeru seutuhnya, tentunya bisa melihat Mahameru yang berdiri kokoh disana. Sangat kokoh, memasang tampang gagah. Ya memang dia lah gunung tertinggi di Pulau Jawa, disana lah, di puncak itu, atap Pulau Jawa. Someday!
Setelah puas di atas, kami kembali ke Jeep untuk menuju padang pasir bromo dan kawahnya. Perjalanan berubah, semuanya serba turunan serta belokan yang cukup terjal, belum lagi kondisi jalan yang tidak rata. Namun setelah mobil Jeep melaju di padang pasirnya, aahh super keren deh pemandangannya, kita bisa melihat para Jeep itu melaju seperti sedang balapan. Di depan sana, di pemberhentian ada sekitar ratusan mobil Jeep yang diparkirkan. Benar benar seperti pameran Jeep.
Berjalan menuju puncak kawah Bromo menghabiskan waktu sekitar 15 sampai 20 menit, eehhmm atau 30 menit? Haha untuk mencapai puncaknya kami harus menaiki 230-an anak tangga. Begitu sampai atas, voila, hanya kawah. Ya hanya kawah memang, namun dari atas sana kita bisa melihat pemandangan yang luar biasa, sebuah Pura yang dibangun dibawah sana, kumpulan Jeep, orang dan kuda kuda yang berlalu lalang dibawah sana. Pokoknya jika berbicara Bromo, tidak cukup dengan kata kata. Semuanya terlukiskan di foto, saya tidak punya kata kata yang mampu melukiskannya.
Setelah cukup dengan semuanya dan karena kami sudah berjanji hanya sampai jam 9 disini, maka kami balik ke Jeep, dan Jeep nya pak Tirta pun mengantarkan kami ke Cemoro Lawang, tempat kami membuat janji dengan pak travel (aduh lupa nama bapaknya).
Dengan pak Tirta

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.