Terdampar di Malang, Siap Pulang ke Jakarta

Sekitar pukul 4 pagi kami sudah sampai di terminal kota malang. Perjalan malam dari denpasar ke malang cukup spektakuler, yang paling berkesan adalah melihat pembangkit listrik yang keren banget di daerah situbondo.
Setelah solat subuh, kami mencari angkot yang bisa membawa kami ke stasiun malang. Pagi itu sudah cukup membuat mood saya hancur. Masa angkot yang harusnya hanya muat 12 orang harus diisi oleh 14 orang, super stress nih si supir. Belum lagi bawaan kami serta orang orang dari terminal yang super banyak.
Setengah 6 pagi kami sudah sampai di stasiun malang. Sayangnya loket baru dibuka jam 9 pagi. Karena tidak mau kehabisan tiket maka kami rela menunggu loket sampai dibuka. Konon katanya yang mengantre tiket kereta matarmaja yang seharga Rp 51.00 itu bisa mengantre sampai keluar stasiun.
Kebetulan di depan stasiun sedang ada acara Kompas, naik sepeda Surabaya-Jakarta. Oowww owww.. ga sanggup ngebayanginnya, naik kereta 20 jam aja udah pegel ngebayanginnya.  Kemudian di acara Kompas tersebut ada senam paginya pula. Makin lengkap deh, kalau mau pemanasan dulu sebelum naik matarmaja bisa ikutan..
Sambil menunggu loket dibuka, kami bermain kartu Uno sambil membuat shift-shift-an. Yang kalah maka harus bersedia untuk mengantre. Kebetulan waktu itu saya dan ovi yang kebagian mengantre, tiba tiba terdengar kencang sekali lagu nya Justin Bieber.. “I know you want me.. I know you care…. Bla bla bla”… sontak teman teman yg bermain kartu Uno langsung lari ke luar stasiun.. ckckck oohh orang senam di Malang udah pake lagunya Justin Bieber toh.
Bengong juga nunggu dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Duit pun sudah menipis. Saudaranya retha lagi UAS. Ya nasib lah kami terluntang lantung di Malang. Akhirnya saya, ovy, retha, dan ojan pergi ke Perpustakaan kota malang. Jaraknya dari stasiun kira kira…. Hhmm hhmm… 2KM kurang (mungkin). Alhasil kami olah raga pagi dengan jalan kaki ke Perpustakaan Kota Malang tersebut. Di perjalanan kami melihat stasion kota malang, kafe dengan nuansa world cup, dan tak lupa markas dari Arema yang saat itu dipadati oleh para Aremania (ongis nade; singo edan).
Di perpustakan saya menemukan buku tentang fotografi yang lumayan lengkap, disana pun ada wifi, serta internet, namun karena kami tidak punya kartu anggota ya tidak bisa internetan. Teman kami lainnya malah terdampar di McDonald, katanya sih ga beli apa apa cuma ngobrol aja disana. Haha

Akhirnya jam 3 kami meninggalkan kota Malang dengan menaiki kereta Matarmaja (jadi rutenya Malang-bliTAR-MAdiun-Jakarta). Kami  melewati terowongan yang sangat panjaaaaaang dan membelah bukit, serta jejeran hutan jati yang mulai meredup dimakan senja.

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.