Desa Coloane

Toko roti & eggtart paling terkenal dan terenak di Macau ada di seberang
Pagi itu kami terdampar di Largo Presidente A. R. Eanes. Sebuah perempatan jalan di desa Coloane. Namanya doang sih desa, namun kayaknya orang orang yang tinggal disana sudah cukup modern, walaupun disana tidak ada gedung bertingkat sama sekali. Isinya ya hutan hijau, beberapa toko, kantor kantor kecil, dan gereja gereja serta temple.
Disana sangat nyaman, teduh, dan tenang. Jarang ada kendaraan lewat, ya paling paling hanya trayek bus dan beberapa mobil warga lokal serta terkadang truk truk dari pabrik. Beda dengan kampung kampung di Indonesia, walaupun sepi namun masih banyak polusi suara dari motor motor yang ngebut.
Persiapan natal
Pagi itu rasanya cukup teler, mungkin karena kurang tidur dan tidak sarapan. Kami hanya duduk di bangku taman, motret ini itu, rada ga jelas. Di belakang kami ada toko roti dan toko egg tart. Cukup ramai nampaknya sama beberapa turis yang datang, jadi malas kalau ramai begitu. Akhirnya kami jalan terus, sampai menemukan sebuah dermaga menghadap laut. Di sebrangnya terlihat dataran Cina, dekat sekali. Di dekat kami ada sejenis padang alang alang di dekat laut, warnanya kuning, seolah mendramatisasi musim semi kami di Macau. Bukit-bukit terihat dari tempat kami duduk, di atas bukit tersebut terlihat beberapa kincir angin. Wah ternyata disana sudah menggunakan teknologi kincir angin untuk pembangkit tenaga listriknya.
Kami lanjut jalan, ke arah gereja St. Francis Xavier. Disana banyak orang orang memasang pernak pernik menyambut natal. Pepohonan yang rindang, arsitektur gereja peninggalan portugis, rasanya nyaman sekali walau hanya duduk duduk disana. Lalu kami menyempatkan diri untuk masuk ke gereja tersebut, melihat sejarah datangnya portugis. Selama di Jakarta, saya belum pernah masuk ke dalam gereja, ya walau pernah mengintip isi gereja katedral di medan merdeka namun hanya sebatas pintu masuknya saja.
Sesi foto
Kemudian karena capek, saya duduk di bangku bangku jemaat. Tiba tiba nobi mengajak untuk foto foto. Wah baru seru nih, apalagi cahaya dan interiornya mendukung. Lanjut lah yunus juga ikutan motret, kemudian ketika melihat hasilnya, woooww… bagus bagus. Selanjutnya kami menelusuri kampung Coloane, hhmm hanya ada perumahan perumahan warga yang sederhana, terus ada beberapa klenteng, yang menarik adalah lorong jalannya, klasik sekali. Melihat taman yang nganggur, kami berlarian ke taman, main ayunan dan mainan lainnya. Ketika saya mencoba untuk main prosotan, tiba tiba… zooooonk banget! Ada basah basah di celana saya, hhmm nobi juga kena. Aduh apa ya ini? Di taman itu sepi sekali, bisa dibilang cuma ada kami bertiga, ya kontan saya berpikir kalau itu kencing anjing karena dari tadi kami melihat anjing sliweran di sekitar situ.
Cairan yang kami duduki itu tidak berbau, tidak lengket, dan tidak berwarna. Yaudah prasangka kalau itu pipis anjing kami hilangkan. Namun kok ketika yunus berjalan keluar taman, dia hampir saja menginjak tai anjing. Aduh ini diagnosa kalau cairan itu adalah pipis anjing semakin menguat. Ahhh sial!! Lebih kasiannya ya nobi, dia cuma bawa satu celana. Selama perjalanan ke jalan rasa nobi gelisah saja karena tidak mendapatkan tanah untuk mencuci kotoran itu, takutnya tanah di sekeliling daerah sana sudah dikencingi atau dikotori dengan kotoran anjing. Yah bahaya juga nih emang.

Akhirnya kami lanjutkan saja perjalanan ke destinasi selanjutnya, dan nobi pun berhasilkan mendapatkan tanah (suci) dari salah satu pot tanaman di rumah penduduk. Untuk selanjutnya harap hati hati duduk di taman atau pun tempat lainnya. Kotoran anjing lebih bahaya dari apapun! hahaha

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.