Impulsif bukan berarti tak terencana

Kebanyakan dari teman saya bilang kalau perjalanan yang seru itu ya yang impulsif, nyatanya kesempatan untuk impulsif dalam merencanakan perjalanan sangatlah kecil. Bisa dibilang pengalaman saya melakukan perjalanan yang benar benar impulsif adalah ya saat jalan jalan ke Bandung. Ceritanya pagi itu setelah memberikan berkas untuk pembuatan paspor di kantor imigrasi Jakarta Selatan, saya bersama yunus, eji, dan nobi kebingungan untuk mengisi waktu luang hari ini. Ya tiba tiba aja gitu tercetus ide untuk ke Bandung. Langsung memberhentikan kopaja menuju Stasiun Gambir dan tancap mang.. beli tiket menuju Bandung deh!

Untuk perjalanan dekat seperti itu memang sah-sah aja langsung tancap ke tempat tujuan. Beda halnya dengan beberapa perjalanan saya lainnya yang bisa dikatakan impulsif juga. Impulsif disini bukan berarti tanpa rencana. Pejalan yang baik dan bertanggung jawab adalah pejalan yang dengan matang merencanakan perjalanannya tersebut. Seperti membuat itinerary, budgeting, persiapan fisik jika diperlukan, dan persiapan-persiapan lainnya sesuai tempat yang ingin dituju.

Biasanya sih saya impulsif hanya sebatas membeli tiket pesawat saja. Partner impulsif saya ya itu si yunus, mata kami langsung ijo ketika melihat promo pesawat, dan pasti otak langsung encer banget deh. Pertama kali kami beraksi ketika booking untuk trip ke Phuket. Awalnya sih denger ada promo gila-gilaan airasia. awalnya si Yunus mengusulkan untuk ke Hong Kong, setelah cek rute airasia ternyata tidak ada yg direct dari Jakarta. Yasudah, karena anti ke Singapore, malas ke Malaysia, karena Bangkok pun mahal, akhirnya saya impulsif aja mencetuskan destinasi Phuket. urusan ada apa disananya sih urusan belakangan, toh masih ada waktu beberapa bulan untuk browsing dan lainnya.

Pengalaman kedua yang tidak bisa dilupakan adalah pengalaman ketika booking pesawat ke Macau. Gila.. saat itu saya benar-benar tidak megang uang cash maupun di ATM. Uang sih ada tapi masih di client. Akhirnya setelah hilang akal sehat, saya berusaha selama kurang dari 24jam untuk meminta pembayaran dari jasa design layout buku yang saya kerjakan. Semua itu sia-sia karena ternyata uangnya ditransfer ke ATM BCA yang notabene tidak bisa melakukan payment ke maskapai yang mengadakan promo tersebut, sedangkan Yunus hanya butuh tambahan uang sebesar 100 hingga 200ribu. Hampir patah semangat, akhirnya setelah melewati satu malam, Yunus menelpon saya pagi harinya, dari sebrang dia langsung bilang “welcome to Macau!” Yeeeeeaaaay!!!! dapet deh tiket pulang pergi Jakarta-Macau hanya Rp. 296.000

Kemudian ketika saya benar benar ngebet ingin ke kepulauan derawan, saya sangat berambisi untuk mendapatkan tiket Jakarta-Balikpapan. Entah bagaimana caranya, mungkin dengan kekuatan pikiran, beberapa hari dari saat itu saya pun berhasil mendapatkan tiketnya. Voila.. tiket dapat tinggal cari info deh mengenai rute perjalanan dan sebagai macamnya.. Sama halnya ketika saya ingin sekali untuk pergi ke pulau komodo atau pun lombok. Jalan satu-satunya sih mesti dapetin tiket jakarta-Bali minimal. Alhasil tak lama kemudian saya pun berhasil mendapatkan tiket Surabaya-Bali-Surabaya-Jakarta dengan hanya rp. 27.000

Ya walaupun tiket ke balikpapan maupun bali nya hangus lantaran maskapai yang saya booking itu bangkrut tapi jauh dari hal itu saya sudah mempersiapkan semuanya, kecuali dana.. haha Intinya sih, impulsif dalam mengambil keputusan untuk jalan jalan itu bagus banget. Kebanyakn dari teman saya yang hanya bisa iri-irian mendengar cerita saya mampun melihat foto foto jalan jalan saya adalah orang yang terlalu banyak pertimbangan. Misalnya ketika saya tawari promo dan baru tahu kalau harus bayar sejumlah uang saat itu juga, mereka langsung mundur.. Ya diluar dari itu juga kebanyakan dari mereka terlalu memikirkan nanti izinnya bagaimana, nanti biayanya gimana, nanti tidur dimana, nanti aman ga, nanti makannya apa tuh, nanti bisa pulang ga, dan pertanyaan pertanyaan sejenis yang kadang cukup membuat males dengernya.

Seperti yang saya bilang, impulsif ya cukup di menentukan destinasinya, bukan dalam persiapannya. Toh setelah booking pesawat masih ada waktu lebih dari satu bulan untuk menyiapkannya. Syukur-syukur booking yang untuk enam sampai tujuh bulan kedepan. Ya tapi diluar dari hal yang saya katakan tadi, semua ini memang tergantung pada diri masing masing. Kebanyakan dari teman saya itu pula datang dari keluarga yang susah memberikan izin kepada anaknya untuk bepergian, apalagi pergi keluar provinsi maupun pulau. Kalau saya sih berprinsip, kalo ada kesempatan kenapa ga diambil, toh semuanya emang sifatnya jodoh, kalo emang jodoh ya jadi berangkat, kalo ga jodoh…. tunggu sampai berjodoh.. 🙂

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.