Awas! Sarang Penipu

Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Pelabuhan Padang Bai, untuk pertama kali juga akan merasakan mengarungi laut lebih dari satu jam. Sebelumnya saya memang pernah naik ferry, dari Ketapang menuju Gilimanuk, hanya 45 menit tapi serasa seharian lamanya. Saat itu perut mual dan kepala pusing, walau tidak sampai muntah tapi rasanya sudah cukup banget. Nah, kali ini, tantangan baru, perjalanan Padang Bai – Lembar akan memakan waktu 4 sampai 5 jam!!

Siang itu, sekitar pukul 12 saya bersama dua orang teman saya sudah sampai pelabuhan Padang Bai. Untuk kepraktisan saya naik shuttle bus dari Legian, yaitu dengan Perama. Diitung-itung sih lebih mudah dan tidak terlalu mahal, hanya 60 ribu tarifnya dari Kuta ke Padang Bai. Sementara itu, tarif ferry sudah naik menjadi 36 ribu rupiah setelah sebelumnya saya mencari data di internet yang mengatakan bahwa tarifnya 31ribu rupiah.
Begitu saya membeli tiket, saya langsung di serbu oleh bapak-bapak disana, entah lah saya tidak tahu apa kerjaan mereka, saya kira calo tapi kok dia ga jual tiket, lagipula saya kan sudah beli tiket yang resmi. Mereka bilang, mereka akan mengatarkan kami ke kapal. dengan tergesa-gesa saya mengikuti mereka, takut-takut tiketnya diambil, ketika saya ingin minta kembalikan tiketnya, mereka malah bersikeras dan ngotot ga mau balikin tiketnya, alih-alih mereka bilang hanya agar mereka dapat upah dari agen ferry tersebut. Ya sudah, dari banyak cerita yang saya baca, memang banyak orang yang bekerja seperti ini, nganterin penumpang biar dapet upah dari yang agent. Akhirnya, saya pun berhasil masuk KM Suramadu.

Siang itu, ferry baru berangkat pukul 1 siang. untungnya, ruang VIP dibuka, dan tidak dikenakan charge pula! hasilnya, saya bisa guling gulingan di tempat duduk yang nyaman ditambah ruangannya yang adem lantaran ber-AC. dari pada di luar, tempat duduk keras, dan live AC alias angin cepoi-cepoi.

Akhirnya kapal menepi di pelabuhan Lembar, sekitar jam setengah enam sore itu. Kumpulan awan yang berwarna magenta dan lapisan awan halus berwarna orange kekuningan menghiasi pemandangan sore itu. Rasanya indah dan tenang banget.

Setelah turun dari ferry dan menginjak dataran Pulau Lombok, saya diserbu dengan beberapa supir angkot. Banyak yang menawarkan tumpangan menuju Senggigi, hingga ada seorang bapak bapak yang ngotot agar saya naik mobil dia saja. Awalnya dia menawarkan tarif 60ribu seorang, namun saya menawar hingga 30ribu yang akhirnya setelah jual mahal dia pun mau dengan harga segitu, itu saja saya sudah merasa ditipu! huuu
Sampai di Senggigi saya tidak langsung dibawa ke tempat tujuan, melainkan di-drop ke tourist information dulu, yang sesungguhnya itu adalah percaloan penginapan dan segala jasa lainnya. Saya kurang suka sengan hal-hal kayak gini, kalau udah masuk ke tempat kayak gini otomatis bakal disuruh nginep di tempat yang mahal mahal bukan? mau liburan murah malah kena perangkap calo deh. Akhirnya saya hanya minta peta wisata disana, kemudian saya mangkir, dan menuju penginapan yang saya tuju. Sebelumnya dibilang bahwa Hotel Elen, tempat yg saya tuju ini sudah penuh, tapi saya tidak percaya sampai saya datang langsung. Setelah datang memang penuh sih.. tapi kan toh saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Kemudian ke beberapa penginapan yang direkomendasikan di lonely planet pun semuanya penuh. Alhasil saya menginap di tempat kenalan bapak supir itu, di daerah batu bolong.

Setelah malamnya bertemu dengan ibu pemilik penginapan tersebut, saya mulai membahas masalah tiket ferry sewaktu menyebrang ke Lombok tadi. Dia bilang itu pasti calo, ya otomatis tiket yang tadi dia ambil akan dijual kembali. Grrrrr… langsung gondok setengah mati, tidak rugi secara materi sih, hanya saja… hanya saja harga diri saya jatuh tuh tuh tuh! merasa goblok banget. udah sering ketemu hal kayak gitu masih aja ketipu! bodoh!

Kemudian saya juga bertanya mengenai keliaran tempat yang bernama Bangsal, Bangsal adalah tempat terakhir sebelum kita menyebrang ke Gili islands. Menurut yang saya baca di Lonely Planet Indonesia, disana banyak sekali hustlers dan scammers. Kemudian ibu pemilik penginapan itu cerita kalau tiket boat menuju Gili Trawangan misalnya, sudah habis dibeli oleh para calo, yang kemudian setelah jam 10 pagi tiket akan sudah habis dan loket tiket akan merekomendasikan untuk mencharter boat, yang berarti budget akan melambung tinggi! uoohh.. licik sekali bukan? oleh karena nya si ibu tersebut merekomendasikan untuk memakai jasa dari dia, sehingga kita tidak perlu lagi repot tawar-menawar dengan para calo dan penipu-penipu disana. Ya sudah, saya pikir memang lebih aman jika semuanya sudah diurus. Akhirnya saya mendapatkan paket 50ribu dari senggigi sampai ke Gili Trawangan. Katanya, semua sudah ditanggung jadi kami tinggal duduk manis 🙂

Keesokan harinya, kami harus berangkat pukul 9 pagi dari Senggigi. Saat itu, seisi mobil berisi para bule, hanya saya dan dua orang teman saya yang turis lokal, rasanya seperti stranger! haha Ya, anggap saja kami sedang berlibur ke karibia atau kepulauan pasifik gitu.. hehe

Sepanjang perjalanan, kami bisa melihat garis pantai di sebelah barat pulau lombok. Jalannya yang naik turun bukit membuat saya dapat melihat pemandangan sekitar yang luar biasa indahnya. Sebelah kiri jalan tentu jurang jurang yang di bawahnya langsung pantai, pantai dengan pasir yang beraneka ragam warnanya serta air laut yang menyegarkan mata! ada hijau turqois, biru muda, biru tua. ah keren! kemudian di ujung laut terlihat juga Gunung Agung yang berada di pulau dewata, sementara itu di sebelah kanan terlihat hamparan hutan dan pepohonan kelapa serta perpaduan bukit bukit dan Gunung Rinjani yang bersembunyi di belakangnya. Benar-benar sarapan yang mengenyangkan mata!

Sesampainya di Bangsal, kami langsung dikerubungi oleh para calo dan pemilik cidomo (delman/bendi/andong). Mereka menawarkan jasa untuk mengantarkan penumpuang ke Pelabuhan Bangsal. Tarif yang mereka pasang yaitu 20ribu untuk bertiga!! gila aja!! dari info yang saya dapat aja cuma 3000/orang! selain itu kalau jalan juga tidak terlalu jauh. Nah, mobil berpenumpang atau angkutan umum memang dilarang masuk ke wilayah ini, nampaknya ini sejenis kongkalingkong antara pemilik cidomo dengan supir angkutan umum (baik itu angkot, bemo, taxi, dan pemilik jasa shuttle bus).

Akhirnya, setelah mengambil gembolan, kami jual mahal dan bersikeras untuk jalan saja ke loket boat yang berjarak kurang dari 1 KM. Kami meninggalkan para bule yang tadi satu mobil, kasian juga sih, pasti mereka pusing dikerubungi macam tikus mati yang dikerubungi oleh lalat!

Baru jalan sebentar, ada suara dari belakang ada suara suara memberikan penawaran. “10 ribu dek bertiga” suara bapak bapak aga pelan. Kami pun tetap berjalan sambil bisik-bisik “eh gimana tuh 10 ribu bertiga?”. Langsung saja kami bertiga berbalik arah dan langsung naik ke cidomo tersebut. Ternyata memang tidak jauh, paling kalau jalan hanya lima menit, tetapi, ya sekalian memberi rejeki lah ya ke pemilik cidomo nya.. hehe
Sesampainya di loket yang kalau kata Lonely Planet sebagai “Ramshackle boat terminal” kami langsung meminta tiket terusan menuju Gili Trawangan, nyatanya kami belum bisa dapat tiket karena travel agent nya belum menyetor bayarannya ke loket tersebut! Alhasil, sambil ketar-ketir, kami menunggu hingga jam 10, waktu keberangkatan yang dijanjikan oleh travel agent tersebut. fiiuuhh… Janjinya sih tinggal duduk tenang dan tinggal mindahin pantat aja, nyatanya cidomo tadi aja harus bayar lagi, kemudian harus menunggu gini!
Akhirnya setelah menunggu setengah jam dengan rasa ketar ketir dan emosi, kami mendapatkan tiket terusan tersebut. memang sih si travel agent tersebut datang, tapi jangan gini dong caranya, ga well organized gini kan.. bikin serem walau hanya rugi sekian puluh ribu rupiah, tapi harga diri jatoh meeen.. masa bisa-bisanya ditipu sama warga lokal juga!

Hikmah yang saya ambil, jangan terlalu percaya dengan warga lokal, apalagi warga lokal yang memiliki kepentingan bisnis. Yang namanya turis pasti akan dikenakan biaya yang lebih dibanding warga lokal itu sendiri, jangankan turis asing, turis lokal pun bisa kena kibul, kasian ya..

Ternyata tiket ke Gili Trawangan itu selalu ada setiap saat, tidak pernah tuh dibilang habis setelah jam 10, mungkin yang seperti itu kalau ke Gili Meno atau ke Gili Air karena memang dalam sehari tidak banyak yang ingin kesana. jangan-jangan saya ditipu lagi oleh ibu-ibu pemilik penginapan di batu bolong itu? waaaaaaaah sial! ditipu biar muat-muatin mobil travelnya! biar dia ga rugi bensin! ah edan emang pariwisata Indonesia!
Tips yang paling manjur untuk menghadapi para scammer tersebut adalah KEEP CALM! Keep calm and head straight for the ramshackle boat terminal to get your ticket —— Lonely Planet

You may also like

3 Komentar

  1. Wah,banyak bgt penipu di bangsal ini. Pertama saya dtg ke bangsal sm suami saya dr senggigi saya naek shuttle campur sm org bule dll bayar @60rb (katanya bakal dianter sampai ke bangsal) tp sampai di bangsal ga langsung dianter ke pelabuhannya,diberhentiin dulu di (katanya shuttle stop) nah disana tu saya ditipu. Mulai dr sampai ke pelabuhannya plg jalan cm bentarrr doank,tp saya dan suami dipaksa naek cidomo dgn tarif 50rb. Pdhal dkettt bgt,jalan mentok palinggg lama cm 5mnt. Dan abis itu,saya ditipu lg, jd rencana saya mau di gili T 2 malam,trs paginya langsung ke senggigi trs ke airport. Pertamanya manis bilang murah dan sudah diaturin sama kapal jg dengan harga 225rb. Saya pikir uda lah drpd repot lg cari taxi. Ehhh ternyata,kapalnya itu kita naek yg public 15rb/org. Uda gt waktu saya bayar 225rb itu ternyata per person!! Waktu saya mau minta balik lg uangnya,mereka ga mau bilang ga bisa. Akhirnya daripada saya keilangan duit,saya tambah lg tiket 1 org lg. Gilaaaa,total jd 450rb! Pdhal public boat nya aja cm 15rb/org. Trs klo kita naek taxi ke bandara itu 220rb. Total cm 250rb! Entahlah apa emang itu cara mereka cari duit. Tp bener2 ga halal! Dan mentalnya mereka itu loh ampun bobrok bgt. Parah!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.