Lintas Sumbawa (cont.)

sumber: http://bit.ly/pVrYI9

Sekitar pukul 9 malam itu, bus berhenti, entah dimana, sekeliling gelap dan hanya ada jalan panjang dan hutan-hutan mengelilingi. Ternyata bus berhenti di depan sebuah rumah makan, ohh ini toh jatah makan malam dari bus nya. Rumah makannya sangat sederhana, tidak seperti kebanyakan rumah makan di jalur pantura yang juga tempat pemberhentian makan malam, lebih kumuh.

Segerombolan orang mulai masuk dan diberikan kupon makan. Kemudian seluruh penumpang berbaris, mengambil piring, dan mengantre makan malamnya. Dari kejauhan saya mengintip menu makanannya, doh! makannya seada-nya banget, hanya ada sepotong ikan bandeng goreng, beserta sayur sop yang saya rasa sudah dingin. Saat-saat kayak gini jadi rindu rumah banget, hiks.

Tiba giliran saya memberikan piring dan kemudian disendokin nasi seikhlasnya dari pemilik warung, kemudian saya mengambil jatah menu makan malam saya itu. Rasanya kok ngantre makanan dan dengan menu kayak gini kayak napi-napi di penjara ya? ya sudah, ini bagian dari perjalanan ini, harus dinikmati, disisi lain saya terus menggerutu, bisa-bisanya bus malam yang harga tiketnya seharga 170ribu ini, makan malamnya seperti ini, dan di tempat yang kayak gitu pula!

Udara kota Sumbawa Besar cukup membuat badan saya menggigil malam itu, ditambah rasa sedih akan kangen rumah, benar-benar ga bisa ngebayangin kehidupan saya beberapa hari ke depan, saya hanya bisa berharap, perjalanan pulang akan jauh lebih baik. Saya sangat tidak nafsu dengan makan malam kali itu, tapi dalam diri terus menguatkan karena tidak ada budget untuk membeli makan. Akhirnya makanan itu habis juga. Akibat rasa dingin yang melanda, saya jadi kebelet pipis, pas mau ke belakang, ternyata ada kotak kebersihan, doh! bilangnya WC gratis, taunya dikenain bayaran juga, akhirnya saya mengurungkan niat, sampe sebegitu miskinnya ya saya ga mampu bayar toilet umum.

Setengah jam setelah makan malam, bus kembali berjalan. Saya bisa melihat-lihat kota Sumbawa Besar di saat malam. Kota ini sangat sepi, dan jalan raya nya tidak lebih panjang dari jalan raya margonda. Masih ada Kota Dompu dan Bima menanti, setidaknya bus akan sampai di Bima 6 sampai 8 jam dari saat itu. Saya pun melanjutkan tidur saya sambil menahan pipis.
Sekitar pukul 1.30 kemudian, bus kembali berhenti di depan terminal yang gelap gulita, oh ternyata ini Kota Dompu! Kota yang tidak lebih besar dari Sumbawa Besar. Ketika meninggalkan kota ini, jalan semakin sepi dan hampir tidak ada kendaraan yang lewat kecuali bus dan truk. Dari arah kejauhan, kota ini terlihat kelap kelip, bintang bintang semakin terang dan ramai menghias malam, duh alam sumbawa!

Hari berganti, pagi itu ternyata saya sampai lebih awal di Kota Bima, kota yang identik dengan kuda bima-nya. Saya terdampar di sebuah terminal pukul 3.30 pagi!! Bus yang tadi mengantar sudah pergi entah kemana, kemudian saya disuruh pindah ke mini bus tujuan Sape yang entah kapan berangkatnya. Saya hanya bisa duduk sambil memeluk ransel saya yang segede karung beras itu. Udara pagi itu sangat dingin, sehingga saya enggan untuk turun, belum lagi suasana terminal yang kurang saya sukai, identik dengan banyaknya penjahat. Ya, terlihat memang di terminal ini.

Duduk sendirian di bangku dekat pintu bus, saya disamperin dua orang anak muda. Apa lagi kalau bukan dipalak! gila, badan saya langsung gemetar takut mereka menodong dengan senjata tajam. Ternyata mereka meminta uang alih alih sebagai buruh dan meminta upah jaga barang di atas bus. Ya berhubung saya tidak menitip barang di atap bus, maka mereka tidak punya alasan untuk meminta uang ke saya. Pergi lah mereka sudah! Kasian juga sempat ada seorang ibu yang tertipu.

Sambil tidur-tidur ayam saya terus nunggu tanpa kepastian. Akhirnya setelah adzan subuh seluruh penumpang sudah masuk ke bus tersebut, begitu juga supirnya. Kemudian, jam setengah 6 bus tersebut mulai meluncur dari Bima. Fiiuuhh.. sejauh ini, ini hal terparah dalam hal menyambut pagi!

Selama di perjalanan, saya lebih memilih tidur sambil sesekali melihat pedesaan dan pemandangan indah di sekeliling. Perjalanannya naik turun, kadang kalau menghadapi tanjakan, bus berjalan dengan sangat lambat, dan tak jarang supir terus ngegas jika melewati tikungan yang bertubi-tubi. Pedesaan ini dan pemandangan sekelilingnya persis seperti desa nenek saya di Bruno, Purworejo. Udara yang sejuk terus memaksa saya untuk terlelap hingga akhirnya saya tertidur sampai di pelabuhan Sape.

Di tempat seperti ini, pelabuhan, saya selalu mengantisipasi bertemu denganscammers dan calo-calo. Akhirnya saya berpura-pura sebagai bagian dari salah satu keluarga yang baru turun bus, kemudian mengendap-endah ke loket karcis dan yeah! berhasil beli tiket tujuan Labuan Bajo. Tanpa menunggu lagi, saya langsung masuk ke dalam ferry yang selama 8 hingga 9 jam nanti akan menemani hari saya. fiuh!

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.