Labuan Bajo (2)

Pagi hari di Pasar Pelabuhan, Labuan Bajo

Labuan Bajo, atau biasa juga disebut Labuhan Bajo adalah sebuah kota kecil di sebelah ujung barat Pulau Flores. Kota kecil ini berawal dari sebuah desa kecil, desa nelayan, yang kemudian berkembang menjadi sebuah daerah yang makin ramai dengan industri pariwisatanya. Sekarang, hotel-hotel telah menjamur di sepanjang jalan Yos Soedarso, Soekarno Hatta, dan segala penjuru pintu gerbang pariwisata Nusa Tenggara Timur. Tidak hanya sampai disitu, berbagai macam dive operator maupun liveaboard pun kian menjamur di tempat ini, semuanya menawarkan paket mengintip keindahan bumi flores bagian barat.

Sebenarnya cukup mudah untuk menjangkau daerah ini. Sekarang sudah banyak maskapai penerbangan yang melayani, seperti Merpati Airline, Wings Air, dan TransNusa. Maskapai penerbangan tersebut biasanya beroperasi dari Denpasar, Bali, jadi untuk mencapai Labuanbajo dibutuhkan transit di pulau dewata tersebut. Pilihan jalur darat pun dapat dipilih, misalnya saja, saya yang terbang ke Bali kemudian melanjutkannya ke Pulau Lombok yang langsung diteruskan dengan bus malam menuju Bima yang selanjutnya berganti dengan mini bus tujuan Sape. Dari ujung timur Pulau Sumbawa, yaitu Pelabuhan Sape, kita dapat meneruskannya dengan ferry menuju Labuan Bajo, yang jarak tempuhnya sekitar delapan hingga sepuluh jam. Jadi, total perjalanan darat dari Lombok hingga mencapai Labuanbajo adalah sekitar 24 hingga 26 jam! luar biasa bukan!

“Disana (Flores) itu pemandangannya luar biasa indahnya! tapi sayang, penduduknya miskin-miskin” ucap Pak Nok, pemilik penginapan tempat saya menginap sewaktu di Gili Trawangan. Siang itu, saya ngobrol-ngobrol dengan Pak Nok mengenai rencana saya untuk pergi ke Pulau Komodo. Ternyata, dulu pak Nok sempat bekerja sebagai tour guide sailing trip Lombok-Kepulauan Komodo, dia begitu takjub dengan keindahan alam Nusa Tenggara Timur, padahal di kampung asalnya saja, Lombok, sudah menawarkan begitu banyak keindahan alam. “Disini (Lombok) banyak yang sudah menyombongkan mengenai kekayaan alamnya, mereka belum tahu keadaan disana (Flores), uuhh disana luar biasa deh” ucap beliau untuk menegaskan. Duh! rasanya makin ga sabar buat menjelajahi daerah itu, dan sekarang saya sudah disini, walau hanya sampai Labuan Bajo, tapi saya yakin di Labuan Bajo ini, tidak kalah indahnya dengan wilayah bagian NTT lainnya.

Hari ini (Senin, 25 Juli 2011), sekitar 6.30 pagi itu, saya sudah keluar penginapan untuk solat subuh di masjid, masjidnya tidak terlalu jauh dari pelabuhan, berada di depan jalan raya. Kemudian saya mengendap-endap, mengambil wudhu dan sholat di dalam masjid itu. Perasaan saya dalam hati takut, takut kalau ditegur karena sholat subuh sesiang itu, haha takutnya tragedi di Phuket terulang, diceramahin ulama sewaktu liburan. Untung lah, saya masih dianggap orang normal, mungkin memang waktu solat subuhnya yang siang juga, jadi saya hanya telat 1 jam.

Sekitar pukul 7 saya dan Ray sudah berada di pelabuhan untuk mencari kapal yang bisa mengangkut kami ke Pulau Komodo. Ternyata, sudah tanya sana sini dan tawar sana sini, kami (atau mungkin saya) tidak cocok dengan harga yang ditawarkan. Mereka menawarkan kami harga termurah yaitu 800 ribu untuk ke Pulau Komodo (sudah termasuk menginap) dan 600 ribu untuk ke Pulau Rinca. Yah.. uang saya aja tinggal 400 ribu rupiah, dan itu bekal untuk sampai balik ke Jakarta. Akhirnya kami ke pasar pelabuhan, disana banyak kapal warga yang merapat untuk berbelanja, kebanyakan dari pulau-pulau di sekitar Labuan Bajo. Setalah tanya sana sini, kami menemukan kapal warga yang hendak balik ke Pulau Komodo, katanya dia berangkat sekitar jam 10 atau 11, dan waktu itu sudah jam delapan lewat, kami memutuskan untuk menunggu di kapal. Sembari menunggu, kami bergantian untuk sarapan dan menjaga tas di kapal.

Kondisi kapalnya sih menurut saya normal, tapi saya tidak yakin apakah kapal itu layak untuk didiami selama empat jam lebih selama di perjalanan nanti. Apalagi ada bau tidak sedap yaitu bau bensin yang sangat menyengat. Jangankan tempat alas duduk, tempat duduk aja tidak ada, kita semua harus menyatu dan berbaur dengan belanjaan, jadi harus pintar-pintar mencari posisi duduk. Pokoknya luar biasa banget deh. Selama empat jam lebih kami menunggu,kapal tak kunjung berangkat! padahal seluruh barang belanjaan dan penumpang yang berjubel sudah masuk ke dalam perahu. ah gila! barang belanjaannya banyak sekali, belum lagi penumpangnya yang berjumlah sekitar 20 orang. Mesin kapal pun mati dan tidak kunjung benar padahal dari tadi dibenerin. Di dalam hati saya panik, belum lagi serangan bau bensin yang menyengat, luar biasa bikin saya pusing dan sesak napas. Kemudian Ray was-was juga, dan mengajak saya untuk keluar dari kapal motor ini, dan berinisiatif untuk mencari kapal sewaan lain. Dengan sekitar akrobat, karena untuk keluar dari perahu ini mesti loncat ke perahu di sebelahnya, dengan catatan membawa ransel segede bagong. luar biasa banget..

Sembari dikejar waktu yang makin sore, saya dan Ray bergegas ke pelabuhan. Sesampainya disana, kami kembali ditawari harga sewa kapal yang tidak jauh berbeda dengan yang tadi pagi, ya sudah lah saya pasrah, mungkin kalau tidak jadi berangkat ya sudah, atau mesti ditunda esok hari. Kemudian, karena tahu waktu saya terbatas disini, si Ray memaksa saya untuk mengejar perahu motor yang tadi, karena kalau mesti besok akan tidak kekejar waktu balik saya ke Bali. Saya dan dia kembali ke pasar pelabuhan, ternyata kapal motor yang tadi kami naiki sudah menjauh dari dermaga. Saya bingung sekali, disuruh mengejar tapi saya bingung gimana caranya, ga mungkin juga nyebur ke laut kan.. Ternyata ada kapal lain yang juga akan ke Pulau Komodo, kapal motor itu hanya berpenumpang tiga orang beserta dua awak kapal. Kapal motor itu membawa bahan bahan bangunan seperti semen dan kayu kayu. Kemudian saya dan Ray segera naik karena kapal akan segera berangkat. Fiuh.. Akhirnya saya bisa tersenyum kembali setelah beberapa saat lalu tegang dan cemas. hahaha

Perahu motor semakin menjauhi Labuan Bajo. Semoga saja arusnya bagus sehingga cepat sampai, khawatir kalau sesampainya disana langit sudah mulai gelap. Tidak tahu medannya dan tentu ngeri akan si naga yang berkeliaran, Komodo. hiiii

You may also like

8 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.