Tragedi Kapal Motor (1)

Sewaktu perahu pertama mogok

Setelah banyak halang dan rintangan yang dihadapi dari pagi hingga siang ini, akhirnya saya bisa tersenyum bahagia sekaligus miris. Pasalnya, saya seneng banget bisa seolah-olah sedang belayar di perairan cantik ini, disisi lain, kok saya berlayar dengan keadaan seperti ini ya? Perahu penuh dengan semen dan suara mesin yang otok-otok luar biasa mengganggu telinga. Malahan suara kapal motor ini mengalahkan kemerduan sengit suara helikopter, kebanyang?

Sambil menikmati matahari siang itu, belaga sok-sok seperti bule, saya memejamkan mata meresapi angin sepoi-sepoi yang seringkali melewati wajah. Sembari melupakan suara mesin otok-otok itu, saya membayangkan betapa indahnya perairan ini. Andai saja langit siang itu tidak pucat pasih, saya pasti sudah bisa menikmati keindahan bawah lautnya dari atas sini, nampaknya sinar matahari yang tertutupi oleh awan awan yang layu itu juga ikut menutupi keindahan terumbu karang dan ikan-ikan di bawahnya.

Saya kira, saya sudah begitu jauh masuk ke dalam alam bawah sadar. Tiba-tiba suara otok-otok itu lenyap dari gendang telinga saya. Sunyi.. hanya suara angin dan gemercik air yang masuk ke dalam indera pendengaran saya. Kemudian saya menghampiri kapten kapal motor tersebut, ternyata mesinnya mati! ow ow.. dalam hati saya kalap mencari jerigen kosong yang berguna sebagai pelampung, jikalau kapal motor ini tidak bisa menyelamatkan dirinya. Aduh, bagaimana ini? saya belum bisa berenang! dalam hati terus kalut, tapi di luarnya bertampang sebagainya pemberani dan petualang di iklan rokok yang sedang beredar di televisi. Entah lah, semenjak tahu medannya akan seperti ini, dari awal trip ini saya sudah melupakan ketakutan saya akan air. Dulu sih, naik sampan untuk menyebrang sungai ke air terjun cikaso saja saya sudah pucat dan was-was ngeluarin kamera.

Lanjut ke keadaan sebenarnya, entah tragedi macam apalagi yang saya alami ini? kurang lebih setengah jam saya beserta keempat orang penumpang lainnya terjebak di tengah laut yang untungnya sedang kalem. Saya hanya bisa pasrah dan terus membacakan ayat kursi dalam hati.  Kemudian, dari kejauhan, terdengar suara otok-otok yang lain. Ah semoga itu sejenis malaikat penolong yang bisa membawa saya, entah deh kemana saja. Di saat seperti itu, saya sempat melupakan trip saya ke Pulau Komodo, saya tidak mungkin nungguin perahu ini ini diperbaiki atau mungkin menunggu hingga seisi perahu dipenuhi air dan kemudian tenggelam.

Setelah perahu otok-otok lain mendekat, kami mendengar kabar bahagia. Ternyata itu kapal yang juga akan balik ke Kampung Komodo. Horeee bukan main bahagianya! akhirnya kami melakukan transit yang paling spektakuler. Saya mencoba menggabungkan antara merangkak dan melompat. kya… syukur lah saya bisa pindah ke perahu sebelah dengan selamat begitu juga dengan gembolan bagong saya. Rasa sedih dan prihatin menghinggapi, kasian juga dua orang awak kapal itu, harus berjuang untuk memperbaiki mesin kapal, DI TENGAH LAUT!

Selama di perjalanan, saya ditemani oleh pulau-pulau dengan perbukitannya yang cukup menyegarkan mata. Setidaknya ini pemandangan yang baru sekali saya lihat. Sejak saat itu, saya jadi berpikir, sesungguhnya modal utama bagi penduduk atau warga Indonesia adalah kapal pesiar. Gila, sayang aja begitu banyak pulau kosong dianggurin. Bahkan, sewaktu di perjalan itu saya melihat satu pulau kecil isinya pasir putih doang! Entah lah, sebelum perjalanan ini kan saya sering melihat peta kepulauan komodo, sejak sampai disini saya jadi suka nebak-nebak yang mana pulau rinca, yang mana pulau kanawa, dan pulau-pulau lainnya di sekitar sini, nyatanya tidak ada tebakan saya yang benar! hahaha berarti peta dan aslinya itu jauh berbeda kecuali kita melihatnya jauh dari udara.

Perjalanan kali ini, saya benar-benar menikmatinya walau jauh dari kata kemapanan. Mungkin ini lah yang dibilang petualangan, ya, perjalanan hidup saya belum pernah sebegini menantangnya. Bisa saja kan saya parno dan ketakutan setengah mati dengan lautan ini dikarenakan saya yang ga bisa ngapung di air dan beberapa pengalaman buruk tenggelam di kolam renang? nyatanya saya masih bisa tenang-tenang saja dan benar-benar menikmati petualangan ini. Justru dari sana saya jadi berkhayal, berkhayal seperti petualangan Ernesto Guevara dan Alberto Granado yang melintasi benua Amerika Selatan-nya. Saya berkhayal berada di dalam film nya (The Motorcycle Diaries), ketika mereka melintasi danau dan membawa motornya di atas sebuah rakit, kemudian ketika mereka menaiki ferry menyusuri sungai amazon dan menyaksikan kapal kumuh di belakang ferry mereka. Disitu lah saya berada, berada di atas kapal dimana isinya penduduk asli Kampung Komodo. Kapal yang bisa dibilang jauh dari kata layak dan begitu juga penduduknya yang jauh dari kemapanan. Seluruh keterbatasan dan penduduk lokal ini adalah kenikmatan liburan saya sekarang ini. Saya jadi semakin menyatu dan mengenal tanah air ini beserta keberagamannya. Bagaimana dengan anda yang sepanjang tahun hidup di perkotaan?

Desa Papagaran dari kejauhan

Melintasi pemukiman di pesisir Pulau Papagaran membuat saya makin tenang. Masalahnya sewaktu saya tahu bahwa di Pulau Komodo ada kampung komodo, saya jadi bertanya-tanya dan was-was, kok bisa sih ada pemukiman di sarang monster naga itu? pada ga takut apa ya diserang dan dimakan sama reptil terbesar seantero jagat ini? awalnya saya mengira Kampung Komodo terletak di pedalaman Pulau Komodo, yang kampungnya dikelilingi oleh hutan belantara, tidak ada listrik apa lagi sinyal. Setelah melihat desa papagaran itu, kemudian saya bertanya kepada ibu-ibu dari Kampung Komodo, apakah Kampung Komodo juga seperti itu? terletak di pesisir pantai? kemudian dia mengiyakan, ohh jadi Kampung Komodo itu seperti desa nelayan pada umumnya. Jelas saja Pak Nok bilang bahwa penduduk disini (Flores) banyak yang miskin, mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain melaut, sedangkan peralatan mereka saja masih sangat terbatas, dan tentunya ruang gerak mereka dibatasi oleh oknum-oknum yang menguasai daerah tersebut.

Di pertengahan laut, ombak semakin gencar menghujam kapal motor. Luar biasa! sampai airnya menyerang kami yang berada di dalam kapal, ya walau memang kapalnya tidak terlalu tertutup. Baru kali ini saya merasakan hal seperti ini, entah deh, di dalam hati ada perasaan senang tapi was-was. Rasanya diguncang ombak di perahu kecil seperti ini tuh seperti main ombak-ombakan di pasar malam, malahan lebih parah karena ombak yang mengguncang sangat fluktuatif gerakannya. Saya pun was-was, takut kapal terbalik digulung ombak, ah bener-bener gila nih, tapi dalam hati saya ketawa.  kok bisa sih gue berada di posisi kayak gini sekarang??? hahaha

2 tanggapan pada “Tragedi Kapal Motor (1)”

  1. iya nih ajarin dunks mamake… haha
    iya banget dhay, gue rasa ya, harusnya, buat orang Indonesia, punya perahu atau kapal pesiar itu hal kedua terpenting setelah rumah, bukan malah beli mobil yg banyak, kan jd macet ya hahaha

    nah itu. harus banget masuk kurikulum. emang dasar dari kecil kita udh diajarin javacentris ya, jadi dikiranya seluruh tanah di Indonesia ini bisa ditanemin padi apa.. padahal kekayaan bahari nya berlimpah ruah..

  2. eh febry gak bisa renang ya. hahhaa *songong*
    setuju gue, harusnya rakyat indonesia diberi kemudahan untuk berlayar di lautannya yg indah ini ya.

    harusnya, sejak kecil, bangsa kita nih dibekali wawasan bahari yang baik. menurut gue, perlu bgt tuh ada dalam kurikulum. waktu sekolah, kayaknya kita lbh diajarkan bhwa indonesia ini negara agraris, pdhl lautnya lbh luas drpd daratannya. euh..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.