Komodo for dinner

Hari itu semakin sore, langit semakin menguning dan kumpulan awan hitam mulai menegrubung di atap pulau Komodo. Entah lah, saya tidak bisa mengira-ngira kapan kapal motor ini akan sampai. Syukurlah, selama empat jam lebih perjalanan tadi, hingga saat itu, saya tidak merasakan mabok laut. Apalagi di kala pertengahan perjalanan, dimana terdapat pertemuan arus, luar biasa goyangan perahu motor yang saya tumpangi itu. Angin sore semakin dingin menerpa kulit. Kemudian di dalam diri saya, saya semakin ragu akan kekuatan tubuh saya itu, sedemikian lama diterpa angin laut, diguncang, mulai dari kena udara panas hingga dinginnya sore itu. Saya hanya bisa pasrah sambil berharap perahu cepat merapat ke Kampung Komodo atau Loh Liang.

Sambil terus meratapi nasib, saya menghibur diri dengan melihat sekeliling. Menikmati sore hari yang cukup indah, melihat matahari terbenam di tengah-tengah perairan kepualauan komodo. Kemudian melewati sebuah pantai, yang pasirnya kelihatan kemerah-merahan, saya langsung mengambil kamera untuk memotret pantai merah atau yang biasa juga disebut pink beach. Rasanya pink beach ini sih biasa saja, namun ada hal yang membuat saya tambah sumringah! bawah lautnya! ah gila.. waktu itu sudah hampir gelap, tapi keindahan bawah lautnya masih keliahatan dengan jelas.

Bersamaan angin malam yang semakin kencang menghembus, kumpulan rumah panggung di perkampungan komodo itu pun semakin terlihat. Kapal motor ini semakin mendekati dermaganya, yang disana sudah ramai kerabat dekat dari para penumpang, nampaknya mereka sangat menunggu kedatangan perahu motor tersebut. Perasaan saya semakin gelisah, sedari tadi saya kebingungan mengambil keputusan, apakah akan menginap di kampung komodo atau loh liang. Saya hanya takut, hari semakin gelap, belum tahu medan di Loh Liang, belum tahu juga disana bisa menginap dimana. Kelamaan berpikir membuat kapal motor yang sedari tadi berhenti di dermaga kampung komodo segera berangkat menuju loh liang.

Hanya tersisa saya, Ray, dan kedua orang awak kapal yang juga masih muda. Di tengah keheningan kami menembus gelapnya sore itu. Orion semakin menampakkan dirinya. Di kejauhan hanya setitik cahaya terlihat, di daratan Loh Liang itu. Suasana waktu it benar-benar sangat sepi hingga saya pun tak berani bicara. Ketika saya melihat ke belakang, ada beberapa kelap kelip lampu yang terlihat, rupanya itu beberapa nelayan yang mungkin baru berpi melaut dari kampung komodo. Yah.. semangat bapak nelayan, doakan saya selamat dan tidak bertemu komodo malam itu.

Hal pertama yang menyambut saya ketika sampai di Loh Liang adalah dermaga reot yang suaranya semakin mendramatisir keheningan sore itu akibat dihembas gelombang laut. Kemudian Saya dan Ray meminta kedua awak kapal tadi mengantar kami ke Pos Taman Nasional Komodo, Loh Liang. Kami hanya bermodalkan satu buah senternya Ray untuk sampai ke Pos tersebut. Di dalam hati saya terus berdoa, semoga tidak ada hal buruk yang datang. Ketika di tengah jalan, di sekeliling kami ada yang berlari, kedepakkedepuk.. ternyata kawanan rusa merasa terusik oleh kami. Kemudian, setelah lima menit jalan, kami sampai juga di pos penjaganya. Setelah kami bertemu beberapa penjaga atau ranger disana, dua orang awak kapal tadi minta izin balik dan meminjam senter. Rupanya, mereka yang notabene warga lokal pun takut sama si Ora (Komodo dalam bahasa setempat).

Kami sedikit diinterograsi oleh ranger-ranger disana. Mereka menanyakan maksud kami datang, ya kami jawab untuk berlibur. Kemudian kami juga menanya mengenai tempat menginap, mereka bilang kami bisa menyewa bungalow, seharga 400ribu semalam. Gila aja, mana ada uang kami, kemudian Ray mencoba meminta tolong jika ada tempat tidur yang nganggur, karena kami bisa menginap dimana saja. Ranger yang tadi menanyai kami menyuruh kami menghadap ke kepala operasional nya. Ternyata tempatnya jauh dari tempat tadi. akhirnya saya dan ray dipandu oleh seorang ranger yang katanya juga baru bertugas disana. Setelah menghadap dan sedikit memelas, kami diberikan kamar yang tidak terpakai di pondok penjaga. Ternyata di dekat tempat kepala operasional tadi itu ada tiga ekor komodo gede-gede loh. untung aja sudah gelap jadi kami tidak melihat, eh serem juga kalo tiba-tiba mereka menerkam kaki kita! haha tapi tenang… komodo hampir tidak pernah menyerang ketika malam, karena pada umumnya ketika mereka telah asik tidur mereka enggan untuk bergerak, makanya jangan sampai mengganggu kalau ga mau diganggu oleh komodo.

Kami ditunjukkan kamar tersebut yang ternyata satu pondok dengan ranger baik hati yang sedari tadi mengantar kami. Pondok penjaga itu berbentuk rumah panggung yang semuanya dibangun dari kayu. Kamar yang saya tempati itu hanya ada single bed dan dilengkapi dengan kelambu. Jadi saya dan Ray sudah seperti pengantin baru gitu. Tidur harus tumpuk-tumpukan di dalam kasur berkelambu. hahaha Ray mengajak makan, sayangnya kantin sudah tutup. Untungnya, ranger baik hati tadi mengajak kami ke dapur pos loh liang. Disana kami diberi makan, nasi dan ikan tuna, walau sudah dingin tapi sangat bersyukur di tempat seperti itu masih bisa makan layak. Selama makan, kami ngobrol-ngobrol dengan ranger baru tadi. Ternyata dia baru beberapa bulan berjaga di Loh Liang, sebelumnya dia harus berjaga di sisi lain pulau komodo yang tentunya lebih sepi dari loh liang ini. Dia bertugas di Loh Liang dua minggu sekali, karena secara bergantian dia ditempatkan di Labuan Bajo, bersyukur lah dia jika ditempatkan di Labuan Bajo, karena memang rumah dia pun disana. Kemudian, saya menjadi salut dan bangga dengan para penjaga pos taman nasional, sebelumnya pun saya prihatin dengan pos bekol di TN Baluran yang keadaannya sama saja. Entah pemerintah belum memberikan fasilitas yang memadai disana atau memang akibat susahnya akses menjangkau tempat tersebut sehingga fasilitas yang didapat sangat minim untuk pekerja disana? Obrolan kami kadang diganggu oleh tikus-tikus hutan yang gemar berkeliaran di dalam dapur tersebut. Belum lagi babi hutan yang sedang berantem di bawah rumah panggung tersebut. grr… kirain tuh babi lagi dimakan komodo sampe teriak-teriak gitu..

Sekitar pukul 8 malam itu listrik sudah dimatikan. Rasanya malam di baluran setahun yang lalu terulang. Dimana saya benar-benar dibuat takut oleh gelapnya dan seisi mahluk yang ada di sekitarnya. Akhirnya saya menghibur diri sendiri dengan melihat rusa-rusa yang berkeliaran serta taburan bintang yang luar biasa banyaknya. Ini bisa dikatakan milky way ga ya? benar-benar banyak!

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.