Trekking The Dragon

Kicauan burung pagi itu ibarat pekikan alarm alam yang diberikan Taman Nasional Komodo (TNK) untuk membangunkan saya. Ketika bangun, saya langsung melihat keluar lewat jendela kamar yang tak bergorden, ternyata rusa-rusa sudah memulai aktivitasnya. Deburan ombak dari kejauhan pun sayu-sayu ikut mengisi irama kicauan burung tadi. Pastinya, pengalaman bermalam di TNK semalam tidak bisa terlupakan. Sama sekali bukan malam yang mistis, hanya saja sedikit sedikit memberitahu saya bahwa pulau ini masih perawan, jauh dari sentuhan tangan-tangan jail.
Setelah bersiap-siap, kami langsung beranjak dari pondokan tempat kami menginap. Kami mencari makan di kafetaria super sederhana. Menunya pun hanya ada Mie rebus, dan disana, saya menemukan harga semangkok mie rebus termahal selama saya jalan-jalan beberapa tahun terakhir, yaitu seharga 15 ribu rupiah, itu pun hanya dengan setengah telor, entah telor apa, mungkin telor komodo berhubung di pulau itu saya tidak melihat satu pun ayam. Sambil makan, saya melihat-lihat souvenir yang dijual. Disana, baju oleh oleh khas komodo dihargai 80ribu rupiah, sementara satu lembar postcard dihargai lima ribu rupiah. Sementara itu ada juga topi dan berbagai souvenir lainnya yang bergambar logo TNK dijual disana.

Peta Tracking

Rencana pagi itu, saya dan ray akan tracking, entah lah mau memilih yang long, medium, atau short track. Setidaknya kami punya waktu sekitar 3 jam untuk jalan-jalan, sebelum kami dijemput oleh perahu otok-otok yang kemarin mengantar kami ke Loh Liang. Sebenarnya sih, ya, saya cukup ngeri untuk tracking yang jauh-jauh, disisi lain ingin banget tracking sampai ke Gunung Ara, pasti pemandangannya bagus banget, hanya saja untuk sampai kesana dibutuhkan waktu 4 hingga 6 jam lebih bolak balik nya.. nanti keburu capek duluan dong kalau sampai dikejar komodo!

Nah, sebenarnya untuk masuk ke TNK ini kita harus bayar uang masuknya, ya berhubung saya masuknya malam, jadi semalam saya tidak bayar, toh loketnya sudah tutup. Pagi itu, saya ke loket pembayarannya, terletak di depan dermaga Loh Liang. berikut rinciannya: Karcis masuk pengunjung Rp.2.500, Karcis pengambilan gambar/foto nonkomersial Rp. 5.000, Nah ini ada lagi karcis masuk tertanda untuk wisatawan Nusantara Rp. 10.000 dan kemudian untuk biaya guide itu Rp.50.000/guide. jadi karena saya berdua ya dibagi dua saja biaya guidenya. Untuk tracking kita bebas memilih mau yang long, medium, atau short. Hanya saya, versi long disini hanya sampai Banunggulung, sedangkan medium itu sampai Sulphurea Hills Top, dan sedangkan medium track kayaknya hanya sampai hutan asam. Kemudian untuk extend tracking yang kata guidenya mesti tambah biaya lagi (karena jauhnya itu) mempunya jalur ke Gunung Ara, Bukit Rudolf, dan destinasi jauh-jauh lainnya. Oke, saya dan ray sepakat untuk mengambil yang medium track karena kata guidenya di sulphurea hill top itu pemandangannya bagus.

Sip! perut sudah kenyang, sudah pakai sepatu, pakai celana panjang, pakai jaket berkupluk, dan ditemai guide yang bawa tongkat nabi musa, yuk berangkat! Entah deh saya kayaknya bener-bener parno, abisnya teman saya itu santai2 aja, malahan dia pakai sendal dan celana pendek, saya sih takut diterkam gitu kan kakinya. Ketika guide bilang kalau anak komodo tinggal di atas pohon lontar, saya langsung pakai kupluk saya, takut kejatuhan. hahaha

Jalur trackingnya menurut saya biasa saja, seperti jalan-jalan di hutan, mungkin cuma perasaan was-was aja yang bikin ngos-ngosan. Di sepanjang jalan kami sering berhenti karena guidenya sembari menjelaskan keadaan sekitar. Misalnya saja kami bertemu banyak kakatua putih berjambul kuning yang hinggap di dahan pohon. Kemudian saya juga diberi tahu sebuah pohon yang menjadi sarang burung langka, atau pun pohon yang menjadi sarangnya anak komodo, hiii… kemudian sampai di hutan asam, kami diberitahu sumber mata air yang menjadi cadangan minuman para hewan disana termasuk komodo, jadi kalau komodo nya haus mereka pasti akan ke hutan asam itu, sekaligus mencari mangsa disana, siapa tau ada rusa lagi minum air kan bisa diterkam.. Nah, disana juga kami melihat bekas-bekas komodo, yang kata guide-nya itu bekas komodo yang lewat dan menggelepar kemarin, ada juga bekas kotorannya yang ternyata berbentuk abu rokok! makanannya boleh sebesar babi hutan, tapi urusan kotoran cukup seukuran sebungkus abu rokok.

Kami melanjutkan track yang menanjak, selanjutnya ke kami naik ke Sulphurea Hill Top. Sulphurea adalah nama ilmiah dari kakatua berjambul kuning, nah itu kakatua yang sedari tadi saya temui bertebaran di dahan pohon. Dari puncak bukit kakatua itu, saya bisa melihat Pos Loh Liang secara keseluruhan. Mulai dari dermaga, laut, hingga lembah lembah di sekitarnya, dan juga Gunung Ara, yang pagi itu masih diselimuti kabut. Ini sih mirip film The Lost World. Disana saya sempat berfoto-foto, sayangnya langit pagi itu mendung sehingga hasil fotonya kurang maksimal.

Lobang Komodo

Di jalan turun dari bukit, saya ditunjukkan oleh guide tersebut sebuah sarang komodo. iih mirip sayang tikus, lobangnya besar masuk ke tanah. Saya langsung merinding takut-takut komodonya keluar, buru-buru saya foto dan meinggalkannya. Syukurlah dari tadi kami tidak dijegat satu komodo pun. Selanjutnya kami terus berjalan menuju pondokan Loh Liang yang semalam saya datangi untuk minta izin dan makan. Di tengah jalan kami berpapasan dengan segerombolan bule, cukup banyak. Saya mengamati satu-satu, dan ah! itu bule-bule spanyol yang saya temui di boat dari gili trawangan-bangsal! wooow jodoh banget bisa ketemu sama mereka. Nampaknya mereka akan tracking ke Mount Ara.

Selanjutnya, masuk ke pondokan Loh Liang, kami langsung dipertemukan oleh komodo! jadi itu komodo yang semalem nongkrong di bawah dapur. hiii gede banget! umurnya katanya sudah 40 tahun, sementara itu ada juga yang 15 dan 20 tahun. Langsung deh saya foto-foto disana sambil bergaya ala panji petualang. Akhirnya trackingnya selesai sampai disitu. ah menurut saya sih kurang worth it dengan bayar 50 ribu. Memang bagusnya sih kita sampai Gunung Ara. Jaraknya sekitar 6 KM dari Loh Liang, tapi pasti terbayar oleh pemandangannya, cuma ya serem aja sekarang komodo lagi pada kawin di atas bukit, pasti ketemu banyak sama Ora-Ora itu.

Foto sama si Komo

Ketika saya dan ray kembali ke kafetaria, kami bertemu dengan dua orang bule asal karibia yang dua hari lalu ketemu di Ferry Sape-Labuanbajo. Jodoh banget sama mereka, kayaknya si bule cewek yang cantik itu sempet heran juga bisa ketemu saya dan ray, untungnya dia masih mengenali saya sambil nunjuk-nunjuk dan bilang “ah you are the guy in the boat from sumbawa, right?” langsung deh kami cerita-cerita tentang perjalanan kami, sambil si Ray tanya-tanya mengenai boat yang membawa mereka ke Pulau Komodo, siapa tau bisa nebeng balik ke Labuan Bajo. Si bule cewek itu terkesan banget begitu tau saya dan ray menginap di Pulau Komodo, mengesankan tapi menyeramkan juga ya mam! Akhirnya, kami ga bisa bareng mereka karena boatnya penuh. hiks… sementara itu kami digantungkan oleh perahu otok-otok kampung komodo, entahlah gimana nasib kalau ga bisa pulang ke labuan bajo!

Ini pemandangan dari Gunung Ara, andai saja tracking sampai sana

Anggrek Liar yang sewaktu tracking saya temui.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.