Pertaruhan Nyawa di Laut

Mendapatkan kepastian berupa mendapatkan tumpangan balik ke Labuan Bajo adalah sebuah anugerah yang sangat berarti di siang itu. Saya menatap dan menyongsong perjalanan pulang yang saya harap bisa lebih baik ketika pergi. Keadaan kapal otok-otok saat itu hanya ditumpangi oleh kurang lebih sepuluh orang dan tentu tidak dengan bawaan belanjaan warga kampung komodo. Perasaan senang, riang, gembirang ketika melewati perairan dekat pantai merah karena disana saya bisa melihat keadaan bawah laut dari atas.

Setengah jam dari perjalanan tersebut saya telah tertidur pulas di geladak kapal, bagian luar, di depan kemudi kapal tersebut. Entah lah, saya sudah mulai santai dan tidak peduli lagi dengan keadaan kapal ini, saya cuma mau istirahat. Namun, ketika tidur saya makin pulas, cipratan air lumayan besar membangunkan saya. Luar biasa! barusan kapal ini terguncang hebat oleh pertemuan arus. Lagi-lagi pertemuan arus! Beberapa mulai masuk ke dalam kapal yang ditutupi papan-papan kayu. Saya pun disuruh masuk ke dalamnya. Di dalam itu, saya kebagian duduk di samping kenalpot kapal tersebut, jadi panas, berisik, dan bau asap.

Lima belas menit saya berhasil bertahan di dalam kapal. Kalau ada arus tinggi, kapal terguncang hebat, sampai saya kejedot atap kapal tersebut yang benar-benar rendah. Akhirnya saya keluar dari bilik kapal tersebut. Tak apa lah kena cipratan air, itung-itung mandi pagi. Di luar itu, saya hanya menatap pulau-pulau di sekeliling sambil memegang erat apapun itu di dekat saya, karena takut terlempar ke laut lantaran arus yang luar biasa ganas. Sampai-sampai saat itu saya benar-benar pasrah jika, hal terburuk, yaitu kapal terbalik. Atau, kemungkinan lain, kapal harus menepi di pulau tak berpenghuni di sekitar dan arus tak kunjung reda hingga kami mesti bermalam dan tinggal di pulau tak berpohon tersebut. Di tengah lamunan tersebut, saya disadarkan oleh cipratan air lagi. Akhirnya, saya memilih untuk tiduran di geladak kapal yang masih basah dan lembab tersebut. Saya sudah lupa diri dan berserah. Kemudian saya tiduran dan memandang langit, serta sekitar yang hanya ada warna biru dan kuning kehijauan dari rentetan kepulauan disana. Di tengah disaster tersebut, saya masih bisa menikmatinya. Guncangan hebat dari kapal tersebut saya anggap seperti mainan ombak-ombakan yang pernah saya naiki di pasar malam sekaten. Ini lebih nyata! tak jarang saya harus terlembar ke udara akibat guncangannya, kebayang keadaan tersebut semenyeramkan apa? hihi

Ini seperti naik gunung, melangkah tiga kali, maju satu kali. Saya rasa, perjalanan kami terus melambat akibat arus tersebut. Kapten kapal nya memang jago banget, saya yakin dia pernah menghadapi yang lebih hebat dari pada ini, pasti di kala bulan november hingga febuari keadaan laut sedang labil-labilnya. Saya sih hanya bisa komat-kamit minta doa dan dimudahkan perjalanan balik ke Labuan Bajo. Kemudian, cukup lah sekitar satu jam kami menghadapi terpaan arus tersebut, hingga kami bisa berjalan lancar lagi tanpa hambatan berarti. Sekitar pukul empat waktu setempat, saya bisa melihat dataran pulau Flores. Akhirnya kembali ke tanah, syukur lah!

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.