Melaka: wishlist come true

On the way Melaka
On the way Melaka

Setelah tertunda-tunda seharian, dan akibat tepar perjalanan pulang-pergi ke Penang hari selanjutnya, akhirnya saya jalan juga ke Kota Warisan Dunia, Melaka. Ya, Melaka memang salah satu best spot buat saya dan pula menjadi alasan saya datang ke Malaysia. Peninggalan-peninggalan sejarah kolonialisme yang masih apik terjaga membuat kota ini berhasil mendapat gelar World Heritage Site dari UNESCO. Sebenarnya, perjalanan kesini pun menjadi salah satu alternatif saja jika memang masih punya sisa uang sedari pergi ke Penang yang menguras tenaga dan uang dan tidak menghasilkan foto-foto kece, namun akhirnya saya kesampean juga ke Melaka berkat pinjaman mobil Emir dan koneksi dari Galih yang membuat akomodasi saya disana gratis alias nebeng dot com. hehe

toko bunga melakaPagi hari, saya, Dara, dan Galih langsung berangkat menuju Melaka. Seperti perjalanan sebelumnya, sepanjang perjalanan kami di temani oleh perkebunan kelapa sawit. Jalannya masih sama, lurus seperti tanpa batas. Hiburan sepanjang perjalanan hanya berbekal CD yang lagunya itu-itu aja, atau engga memerhatikan billboard yang copy nya lucu-lucu, dan kemudian jadi bahan ceng-cengan antara saya dan Dara. Nah, perjalanan ke Melaka ini murni loh usaha saya dan Dara, sebagai turis. Sementara Galih yang berperan sabagai co-driver dan tourist guide malah molor akibat minum obat batuk cina yang ga tertera efek sampingnya.

Setelah sampai di Melaka, kami sempat keliling-keliling mencari alamat tempat tinggal temannya Galih itu, hingga kemudian kami tiba di Bukit Beruang. Sebuah daerah dimana banyak pemukiman mahasiswa-mahasiswa Multimedia University kampus Melaka. Kemudian, dari sana kami digiring ke Ayam Penyet Lamongan di dekat sebuah mall sekitar Bukit Beruang. Cukup heran, awalnya saya kira Malaka itu sebuah kota ramai, mengingat termasyurnya kota ini dari jaman dahulu, namun ternyata, Melaka tidak lebih ramai dari pada Penang. Malahan di Penang, bus nya masih beroperasi dan banyak sliweran, nah, di Melaka, bus umumnya aja datang sejam sekali, malahan daerahnya sepi banget. Pusat kegiatan banyak terdapat di daerah pariwisata atau daerah kampus.

Melaka Tower
Melaka Tower
Stadhuys
Stadhuys

Lanjut lah dari sana, kami digiring ke pesona kota Melaka, yaitu bangunan-bangunan bersejarahnya. Ketika mulai memasuki world herritage site itu, kami langsung disambut dengan bangunan-bangunan tua dan warna-warna tembok yang khas dan keadaan gedung yang sangat terawat, bahkan masih digunakan. Kemudian parkir mobil di depan Stadhuys. Selanjutnya bayar tiket masuk Stadhuys yaitu RM 5 atau seharga Rp. 15.000. Kompleks museum ini cukup luas, ada berbagai macam museum di sekitarnya yang tentu tinggal masuk. Hingga akhirnya kami sampai di Reruntuhan Gereja St.Paul. Tetep lah yang terbaik ada di Macau, namun bentuknya yang unik dan berada di atas bukit kecil membuat pemandangan gereja ini menjadi sangat klasik. Kemudian saya membayangkan dedaunan di sekitarnya berguguran dan bangunan gereja tersebut masih utuh dengan bentuknya yang klasik, ah sungguh keren buat difoto. Sayangnya langit sedang tak bersahabat, pucat pasih.

di dalam Stadhuys
di dalam Stadhuys

 

VoC
VoC

 

Stadhuys dari luar
Stadhuys dari luar

 

Reruntuhan gereja St. Paul
Reruntuhan gereja St. Paul
foto di Muzium Maritim
foto di Muzium Maritim

Capek keliling kompke permuziuman, kami masih tak menyerah untuk menuju ke Muzium Mairitim yang bentunya memang khas. Entah itu replika atau memang kapal portugis asli, namun uniknya, muzium maritim ini tertata dengan apik dan tentu sangat nyaman. Interior nya memungkinkan kita untuk menghayal dan melambungkan imajinasi kita akan kejayaan kapal portugis di masa lampau yang sanggup mengelilingi dunia. Dari sana, kami menyusuri sungai melaka menuju reruntuhan benteng yang lokasinya dekat bundaran gereja kristen melaka. Itu lah spot incaran saya dari dulu! berfoto di depan gereja merah yang terlihat klasik. Air mancur di tengah tamannya pun terlihat mendukung suasana sekitarnya, dengan taman-taman yang dihiasi pepohonan hijau dan warna-warni bunga di sekitarnya. Sambil menghela nafas, tak berhenti mencari sudut terbaik untuk memotret.

 

Mille Crepe Cake

Selepas dari sana, waktunya hang out  a la anak Melaka. Do like a local and go like tourist! Kami langsung digiring ke mall terbesar yang ada di Melaka, Dataran Pahlawan. Disana kami masuk ke dalam sebuah tempat bernama Nadeje yang katanya sih khas dengan Mille Crepe Cake. Saya sih ga beli dengan alasan finansial, namun berkesempatan untuk icip-icip mille crepe cake yang lain. Rasanya lumayan, tidak terlalu manis, kuenya lembut namun layernya tetap terasa.
Dari Nadeje itu, langsung bergegas ke luar mall, niatnya sih mau trip melaka cruise, menyusuri sungai melaka yang bagus kalau malam, sayangnya, baru keluar Mall langsung dihempas oleh angin kencang dan sesaat kemudian badai datang.

Hidangan khas arab menutup hari yang panjang di Melaka. Dengan 10 Ringgit bisa membeli masakan nasi-nasi-an khas arab yang sangat besar porsinya, rasanya sayang kalau diingat waktu itu ga bisa ngabisin makan malamnya. Over all, masakan yang enak dan rasanya cukup bisa menutup hari yang seru di Melaka.

di dalam gereja St. Paul
di dalam gereja St. Paul

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.