Melaka sampai Putrajaya di hari terakhir

Jongker walk

Setelah jamuan makan malam semalam nampaknya saya langsung teler di tempat Swasti. Paginya saya langsung digiring ke rumah makan dekat kampus MMU. Tentunya disana berkumpul dengan mahasiswa Indonesia. Liburan menjadi tidak terasa seperti liburan, malahan terkesan seperti warga lokalnya karena kami tinggal dan selalu makan di warung-warung makan a la mahasiswa. Nah, tapi itu lah yang bikin asik, kenal teman baru buanyak banget, selain itu saya pun ikut senang karena budget makan menjadi minim.

Jongker Street

Siang harinya, sambil bermalas-malasan, saya, Dara, Swasti, dan Galih melanjutkan menjelajah bagian lain di Melaka. Jonker street yang sempat lupur kemarin tak lupa dikunjungi siang itu. Setelah badai hebat yang menerjang Melaka kemarin malam, siang itu menjadi siang yang cerah dan terik. Langit tak lagi pucat dan siap memberi warna dalam setiap jepretan foto saya.

Pecinan Jongker

Di Jonker Street memang saya tak berniat untuk membeli barang apapun, hanya sebuah postcard titipan teman. Namun, menurut saya, Jonker street memang tempat yang tepat untuk berbelanja, wajar karena Melaka menjadi best spot di Malaysia. Tak hanya tepat belanja, di daerah pecinan tersebut juga terdapat kuil bagus dan ada pun masjid tua.

Kuil di Melaka
Melaka

 

Masjid Selat Melaka

Dari komplek pecinan, kami langsung tancap ke Masjid Selat Melaka. Namun karena salah jalan, akhirnya kami malah melipir ke sebuah pantai, pantai buatan yang gersang dan airnya hitam, pasirnya pun ga jelas bentuknya. Belum sempat turun, kami langsung aja tancap buat makan siang di Jetty. Sepanjang perjalanan, banyak burung-burung beterbangan, banyak juga burung gagak disana. Malahan kadang bertengger di lampu lalulintas. Kadang suaranya sampai kedengaran. Mungkin ini yang membuat saya suka Melaka, sebagai kota pesisir, Melaka menyajikan keramahan dan kenyamanan.

Sampai di Jetty, kami merasa tertipu karena ternyata pada siang hari mereka belum menyajikan makanan. Tempatnya bagus, seperti dermaga namun diisi oleh berbagai macam hiburan, seperti kafe, bar, tempat karoke, dan tentunya hiburan lainnya yang terselubung (mungkin). Dapat dipastikan tempat ini akan sangat mengesankan jika saja kesini di waktu malam. Yah, apa boleh buat, karena waktu terbatas, selanjutnya saya digiring ke sebuah restaurant di pinggir jalan bertajuk Amigo. Dari namanya terkesan seperti restaurant mexico, namun di dalamnya, atau menu yang ditawarkan sih ga mexico-mexico amat. Namun tempatnya cukup menarik dan harga yang ditawarkan pun tidak terlalu mahal. Soal rasa? standar.. mungkin karena saya pun tidak tau menau menu apa yang menjadi andalan disana.

Dari Amigo, kami langsung meluncur ke masjid selat malaka. Ternyata letaknya di pulau melaka yang kecil banget. Untuk menuju ke pulau itu terhubung jembatan yang pendek. Disana banyak sekali gedung0gedung nganggur yang ternyata adalah bisnis properti yang tidak laku. Tidak ada kehidupan di pulau itu kecuali majid selat melaka. Masjidnya biasa saja, tidak begitu besar, dan arsitekturnya pun biasa banget. Namun, katanya sih sebagian badan masjid berada di atas laut, yang kalau kata swasty, masjid ini biasa disebut masjid apung.

Dara
tampak depan

Sesampainya disana, saya ngayal berada di santorini karena melihat sebuah spot tembok-tembok putih yang background nya laut lepas. hahaha kemudian kami menikmati angin sore di selat melaka sambil menunggu sunset. Eh, sewaktu asik asik motret, ada seorang bapak/kakek yang menyuruh saya mengenakan sarung dan para wanita untuk memakai jilbab. Dia menyuruh dengan nada tinggi pula! haha ini liburan kedua kali saya diceramahin, yang sebelumnya diceramahin di Phuket. Pencarah sama sama bilang “ga boleh itu kapel kapel (couple)” ckckck….

Bada magrib, kami segera meluncur ke bukit beruang untuk mengantar swasti pulang dan berpamitan dengan warga yang telah memberi tebengan disana. Ah, perpisahan selalu membuat saya ingin balik ke tempat itu, again, again and again! Dari bukit beruang , Saya, Dara, dan Galih memulai perjalanan penuh cerita. Hingga tak terasa perjalanan melaka-cyberjaya hanya ditempuh dalam waktu 2jam kurang. Sampai di cyber, kami tak langsung balik ke tempat Galih, namun sebagai malam perpisahan, kami menikmati kota Putrajaya yang sangat teratur dan penuh dengan landmark yang menurut saya menarik. Belum lagi jembatan disana yang kalau malam berwarna-warni. Pokoknya malam itu didedikasikan untuk Putrajaya dan Cyberjaya yang selama seminggu menampung saya dan Dara, dengan ramah dan menyenangkan 🙂

Cityscape Putrajaya

 

Putrajaya
Putrajaya

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.