First Leg in Intramuros

Pagi itu, secara kebetulan saya bertemu dengan seorang filipino yang baik hati, namanya Choi (31). Saya bertemu dia di dalam shuttle bus dari terminal 3 Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Awal komunikasi saya dan dia adalah ketika saya bertanya apakah bus yang saya tumpangi berhenti di MRT station. Selanjutnya, dia bertanya mengenai asal saya dan tujuan saya datang ke Manila. Untuk pertama kalinya pula saya dituduh sebagai orang filipin yang nyasar sehingga berkewarganegaraan Indonesia.

Secara umum saya memang sudah lumayan banyak riset mengenai Filipina, sebagian informasi yang saya cari dan saya dapat adalah mengenai daerah-daerahnya, pulau-pulau besarnya, dan objek wisata baik yang terkenal maupun yang off beaten track. Ternyata si teman baru saya ini berasal dari General Santos dan mengaku telah bekerja di Public Bank Manila. Ya berkat riset kecil itu saya jadi ada bahan obrolan dan sedikit bertanya mengenai daerah asalnya.

Kebetulan sekali Choi ini ingin ke Intramuros karena kantornya disana. Ya saya jadi dianter sembari diajak jalan jalan kilat di sekitar Pasay City dan Manila. Dia memamerkan Mall of Asia yang katanya terbesar se-Asia. Dia juga menceritakan mengenai patung Lapo-Lapo di Rizal Park, yang katanya dia manusia paling modern di abad nya karena udah pake diapers dan becandaan lainnya yang cukup mencairkan suasana walaupun saya tertawa garing.

Dari Rizal Park, kami berjalan menuju Intramuros. Untuk masalah lalu lintas sih Manila lebih tertib dibanding di Jakarta, walaupun jeepneys, UV express, dan moda transportasi lainnya ikut tumpah ruah di jalanan dan ujung-ujungnya macet juga, tapi bisa dibilang masih lebih disiplin dibanding di Jakarta. Sebelumnya saya baca mengenai orang filipin di The Naked Traveler, yang katanya mereka super bersih. Tapi, ketika melintasi sebuah jalan di Manila, kok tetep nyium bau pesing kayak di pinggiran jalan kota Jakarta ya? Ya, tapi tetep sih ga di panjang jalan kayak disini, hanya di lokasi tertentu seperti tempat kumpul anak jalanan dan stasiun.

Sekolah Lycevm

Lumayan juga jalan dari Rizal Park ke Intramuros, tapi sembari di-guide-in oleh penduduk lokal, dan tentu berfoto-foto, membuat perjalanan menjadi tidak terasa. Hari itu hari kamis, sehingga kota tua Intramuros dipenuhi oleh siswa dan mahasiswa yang berlalu lalang di jalanan. Selain menjadi objek wisata sejarah, di Intramuros juga terdapat beberapa sekolah dan universitas. Gedung sekolahnya tentu menempati bangunan-bangunan tua yang bergaya Spanyol. Seru juga melihat masyarakatnya hidup berdampingan dengan saksi bisu sejarah. Tidak seperti kota tua di jakarta yang sama sekali tidak terawat, sekalinya dirawat malah dijadikan objek wisata yang sangat berlebihan sehingga ujung-ujungnya kotor dan rusak.

Starbucks Coffe

Intramuros memang sangat berbeda dengan pengelolaan kota tua di Jakarta. Bekas benteng dan bangunan tua masih digunakan jadi mau tidak mau menjadi bangunan yang terawat. Bekas benteng di pinggir jalan saja digunakan sebagai toko atau kedai makan sekolah yang ada di sebrangnya. Malahan, dari segi artistik membuat intramuros menjadi kota yang cantik dan bergaya klasik. Contohnya saja Starbucks di Intramuros yang baik outdoor maupun indoor nya menggunakan gaya bangunan lama, tak lain Starbucks Coffee di Intramuros memang masih menempati bangunan tua bekas penjajahan Spanyol.


Setelah berpisah di depan kantornya Choi, saya mencari mini market untuk membeli sim card Filipin, walaupun hanya jalan-jalan empat hari disana tapi saya membutuhkan sim card lokal untuk berkomunikasi dengan teman di Filipin dan tentu agar lebih murah dalam berkomunikasi. Gila aja kan kalo kena roaming internasional, sekali sms bisa lima ribu rupiah. Ketika ditanya mau beli simcard apa, saya bingung, saya iya iya saja ketika dia menyodorkan saya operator bernama Smart. Nampaknya sih Smart ini semacam IM3 di Indonesia. Operator murah yang banyak dipakai orang-orang, hehe.. Harga simcard nya 40 peso (Rp. 8000) dengan pulsa 10 peso dan dapet gratis 20 sms ke nomor lokal, yippi! Di dalam mini mart itu pun ada one stop internet access. Cukup masukkan koin 5 peso kita bisa internetan selama 10 menit. Diitung-itung sih mahal, tapi untuk sekedar iseng dan gatel ingin buka internet ya direlakan saja, sembari kasih kabar juga kan 🙂

Saya baru sadar, saya sudah di Intramuros. Selanjutnya? duh, saya bingung mau kemana lagi!! Saya pun sudah dilepas sama teman baru saya itu. Sebelumnya saya dibilangin sama teman yang pernah ke Manila, katanya transportasi disana ruwet dan membingungkan. Hal tersebut makin bikin saya parno. haha kayak baru pertama kali jalan-jalan aja, bawaannya males nanya dan males berinisiatif. Habisnya dari semalem hanya tidur di pesawat dan itu pun nanggung karena hanya empat jam, sarapan pun belum. Akhirnya, saya berjalan dan ngeloyor sendirian mencari MRT. dari sana saya berniat keliling Metro Manila dan menaiki semua line MRT nya. Mungkin saya akan ke Quezon, atau mungkin ke Makati, dengan tidak tahu tujuan pasti mau kemananya! LOL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.