Serunya Teman Baru di Manila

Mendapatkan teman saat jalan jalan adalah salah satu hal yang paling menyenangkan. Apalagi kalau itu orang lokal di daerah tersebut. Untunglah, setiap kali jalan-jalan sendiri maupun bareng temen selalu saja mendapatkan teman baru yang baik disengaja maupun tidak. Nah, mujurnya, kali ini di Trip Manila saya mendapatkan seorang teman Filipino yang tidak sengaja menjadi guide disana. Namanya Choi, umurnya 31 tahun. Setiap kali traveling saya selalu menggunakan insting atau apa lah itu untuk mengidentifikasi seseorang baik atau jahat. Insting saya mengatakan kalau teman baru saya ini adalah orang yang baik. Namun, mengenai kesaksiannya tentang biodata dirinya? well,.. just time answer it!

Sore itu, sekitar jam lima sore saya janjian dengan Choi di Stacbuck Intramuros. Awalnya dia bilang mau nganterin saya ke Mall of Asia setelah dia selesai kerja, namun tiba-tiba menolak karena capek kerja. Well, saya sih tidak masalah dan tidak memaksa. Selanjutnya pertemuan saya dan dia juga ditemai oleh seorang temannya. Entatah teman atau bukan, tapi Choi mengaku kalau cowok filipino yang baru saja berkenalan dengan saya itu sebagai bos nya. Saya pun tidak menangkap ucapannya ketika dia memperkenalkan namanya. Ya itu kebiasaan buruk saya, suka iya-iya saja tapi ga mendengar jelas apa yang diucapkan hehehe

Kemudian, obrolan saya dengan choi dan bos nya itu dimulai dengan pertanyaan yang bertubi-tubi mengapa saya ke Filipina, bagaimana saya tahu Filipina, dan bla bla bla. Mereka cukup kaget bahwa saya bisa mendapatkan tiket murah seharga 60 USD untuk return flight Jakarta-Manila-Jakarta. Mereka juga bertanya mengenai rencana liburan saya sampai bertanya mengenai pekerjaan saya di Jakarta.

Ujung-ujungnya, pertanyaan menyinggung pekerjaan merembet ke sebuah permasalahan yang pelik. Permasalahan yang tidak bisa diobrolkan oleh kedua orang yang sama-sama tidak expert dalam berbahasa inggris. Yang saya tangkap, jadi, sebenarnya, si Choi ini sudah menganggur selama sebulan dan dia sedang sangat membutuhkan kerjaan. Pantas saja dia bertanya apakah lahan pekerjaan di Jakarta terbuka untuk orang Filipina dan bertanya mengenai kenalan Filipino yang bekerja di Jakarta. Weew… saya bilang saya hanya tahu bahwa di kantor seorang teman di Advertising Agency ada atasan dari Filipina, dan ternyata dia juga adalah tunangan seorang dosen yang pernah mengajar saya sewaktu kuliah. Namun, itu juga tidak bisa disebut sebagai kenalan karena sama sekali belum pernah berinteraksi. Entah bagaimana, tapi obrolan mengenai permintaan tolong bos nya choi untuk mencarikannya pekerjaan di Jakarta berhenti ketika Choi menyuruh untuk stop pembicaraan tersebut. Rasanya seperti habis nonton Inception, pusing! masalahnya, di awal teman saya itu mengaku telah bekerja dan tadi pagi saya mengantar di ke kantornya di Intramuros. Barusan saja ada seorang temannya yang minta mencarikan dia pekerjaan apapun di Jakarta. It was like I am in the middle of something!

Well, everything just got over! Akhirnya, Choi dan bos nya itu mengajak saya entah kemana, namun sepertinya base camp nya mereka. Kemudian, saya dikenalkan dengan teman-temannya yang semuanya Filipino. Mereka semua hampir tidak percaya kalau saya ini turis dari Indonesia. Awalnya mengira Choi dan bos nya itu bohong dan mengajak saya ngobrol dengan bahasa Tagalog. Jadi, usut punya usut, tempat itu semacam kedai nongkrong yang menjual minuman keras secara ilegal. Eh, entah ilegal atau tidak namun mereka seperti sangat merahasiakan tempat tersebut. Kemudian mereka mencoba mengerjai saya dengan menakut-nakuti bahwa mereka sebenarnya adalah pelaku kriminal! haha Apa ga serem? hari sudah malam, saya ga tau sedang dimana, dan tidak melihat pos polisi sama sekali!

Saya ditawari welcome drink berupa minuman keras, namun Choi menjelaskan bahwa saya muslim dan tidak minum minuman keras. Mereka sangat antusias mengenai Indonesia dan segala macamnya. Termasuk penasaran mengapa saya mau liburan ke negara mereka dan bagaimana saya tahu tempat-tempat yang saya datangi. Mereka juga bercerita tentang kampung mereka di Mindanao, katanya banyak orang Indonesia yang ke Filipian bagian selatan dengan hanya menggunakan perahu seadanya. Kemudian  menjual barang-barang ilegal yang tidak kena pajak.

Seru juga masuk ke lingkungan stranger di tempat yang stranger juga. Saling berbagi pengetahuan dan cerita-cerita seru. Lucunya karena kami saling tidak expert dalam bahasa Inggris, alhasil banyak juga kata-kata yang digantikan dengan bahasa tubuh.

Kecanggungan itu berakhir dengan keseruan becandaan dan cerita-cerita yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Keramahan teman-teman baru yang sudah menganggap saya seperti keluarga sendiri membuat saya semakin menikmati perjalanan di Filipina. Akhirnya, sebelum berpisah kami berfoto bareng. Entah kapan lagi saya bisa bertemu mereka….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.