Alona Beach: Reality bite!

Man Made Forest

Chocolate Hills, mau ditungguin sampai sore pun pemandangannya gitu gitu aja.. jadi dengan rela hati saya meninggalkan my dream destination. Selanjutnya? kebetulan banget si Jhibi menawarkan jalan bareng ke Pulau Panglao, tepatnya kami ingin bermain main di pantai, Alona Beach.

Sebenernya saya masih punya agenda yaitu melihat tarsius, monyet terkecil itu loh… yang besarnya hanya sejempol kaki. Tapi, kebetulan juga dapet temen jalan, dan saya pun takut ketinggalan speedboat terakhir hari itu, maka saya ikuti  si temen baru ini.

Kembali lah kami naik bus jeepneys ke terminal kota Tagbilaran. Selama perjalanan pemandangannya masih sama, yang paling seru sih melewati hutan dengan pohon pohon yang berkumpul dan membentuk terowongan sepanjang jalannya, biasa disebut Man Made Forest. Seketika udara menjadi sangat sejuk dan saya siap siap menampung oksigen sebanyak banyaknya.

Tricyle

Sampai lah di terminal kota Tagbilaran, Jhibi mencari transportasi menuju Panglao, dan saya membeli makan di Jolibee tercintah. Rasanya tiada hari tanpa Jolibee.. kemudian, yang awalnya kami berencana untuk ke Panglao dengan Jeepneys, jadinya malah naik tricycle (sejenis becak motor). Mungkin karena takut kesorean dan tidak ada transportasi, maka Jhibi menyarankan untuk naik tricycle aja, ya walaupun harga sewanya cukup gila, 250peso (sekitar 50ribu).

Perjalanan sore itu terasa panjang dan lama sekali, entah karena beneran jauh atau karena kami naik becak motor yang jalannya ‘rada-rada’. Tapi, dari perjalanan itu, saya bisa menyimpulkan bahwa jalan-jalan di Filipin saya persis kayak jalan jalan di Indonesia. Orangnya sama, lingkungannya sama, tumbuhannya sama, hampir semuanya sama kecuali bahasanya aja dan  fasilitas umumnya yang lebih tertata. Jalan-jalan di Pulau Bohol ini, yang masih jauh dari bangunan-bangunan kota membuat saya rindu kampung, habis rumah-rumahnya mirip seperti di kampung saya.

Alona Beach, as seen on Ads

Perjalanan dari kota Tagbilaran menuju Alona Beach, Panglao memakan waktu sekitar satu jam. Dengan muka sumringah saya dan Jhibi buru buru menuju pantai. Eh… ketika sampai di pantainya, loh kok banyak kapal bersandar ya? pemandangan horizon nya aja ga keliatan lantaran tertutup pantai. Penasaran dengan sisi bagusnya, kami terus menyusuri garis pantai yang ternyata pendek banget. Huf… terlontar kata-kata menyesal dari mulut Jhibi “I pay 250pesos for this beaccch???well, dia aja yang orang lokal bisa bilang begini, gimana saya? saya sih cuma ngomong dalam hati aja “gue nyesel pernah ke Gili Meno” masalahnya sampe sekarang ga ada pantai yang lebih bagus dari Gili Meno, bikin semua pantai yang saya singgahi jadi garing. haawwftt

Nguping orang ngeramal

Pura-pura menikmati, kami nongkrong di outdoor kafe. Saya lahap menyantap Jollibee crispy spicy yang uenak itu, sementara Jhibi terus menyantap nasi dan semur babi nya sambil ngedumel lantaran barbeque nya ga dateng-dateng, sampai sampai dia batalkan pesanannya dan beli pisang bakar. Dia membeli dua tusuk dengan ukuran ekstra besar. Saya kira pisang bakar bertabur gula akan dia nikmati sebagai dessert, tau nya malah dia campurkan dengan nasi dan dipotong-potong, lalu dimakan hap hap hap… eh?

Setelah perut terisi, kami hanya menatap nanar pada pantai yang bertabur perahu perahu. Hemm… angin sorenya sepoi sepoi dingin semriwing.. Saya yang mager motret hanya jeprat jepret dari tempat duduk, sambil ngupingin dua orang cewek diramal di meja depan. Ternyata turis turis korea dan bule bule pada seneng banget main di pantai itu. Emang sih air nya lumayan bersih dan pasirnya putih serta halus, tapi ya zonk aja melihat pemandangan bagus dirusak oleh perahu perahu. Terus, Jhibi kembali ngedumel “I though it’s better than Boracay, my friend also told me that Alona is better than Boracay, the fact is…. you can see!” — “Boracay is the best”, saya sih iya-iya aja secara belum pernah ke Boracay yang termahsyur se-Filipina itu, tapi sedih juga sih… sedih…

Alona Beach – Reality bites!

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.