Sesial apa liburan lo?

Apalah artinya liburan tanpa kesialan? Dibalik indahnya cerita dan foto-foto yang saya dapat, Kesialan pun ikut memberikan warna dalam liburan saya. Tak hanya di Filipina, tapi tiga hari sebelumnya, di Kuala Lumpur pun ikutan dapet sial.

Ilustrasi

Ketinggalan Pesawat
Ceritanya saya telah punya tiket pulang ke Jakarta tanggal 30 Januari 2012 kemarin. Sebelum ke bandara saya masih ingin jalan-jalan dulu dengan sahabat-sahabat saya. Lagi-lagi kami kesiangan bangun di salah satu rumah host kami di Kuala Lumpur. Setelah beberes, jam setengah 9 pagi kami keluar rumah untuk melanjutkan jalan-jalan sesi dua di Kuala Lumpur. Sebelum pergi, kami menyempatkan diri sarapan di pinggir jalan, kebetulan ada mak cik’ yang menjual nasi lemak murah. Hmm.. nyaam… apapun enak kalau dimakan bareng bareng dan dalam keadaan lapar.

Teman saya bertanya kapan rencananya saya akan ke bandara. Berhubung penerbangan saya jam 1.40, saya memperkirakan kalau jam 12 saya berangkat ke bandara dari KL Sentral akan cukup lah waktunya. Saya hanya tinggal cari akses internet untuk web check in. Lalalalala…. seperti biasa, dari kediaman host kami di daerah Cheras, kami harus menunggu bus super lama untuk ke Bandar Tasik Selatan. Sialnya kami ketinggalan persis semenit setelah bus terakhir lewat, alhasil kami harus menunggu bus selanjutnya lewat. Persis satu jam setelahnya. Maka baru lah kami sampai di Bandar Tasik Selatan sekitar pukul setengah 11.

Beli tiket komuter, lalu kami turun di stasiun Kuala Lumpur. Disana saya sudah aga mules walau mencoba untuk tenang. Saya masih sempat mengantar ketujuh teman saya membeli tiket kereta tujuan Singapura untuk nanti malam di KTM Berhad, setelahnya kami berfoto dan saya berpamitan, dengan rela hati saya meluncur ke KL Sentral sendirian. Sesampainya disana saya sempat lari lari mencari dimana skybus menuju LCCT. Finally, setelah duduk manis, saya makin mules karena bus ngetem selama lebih dari dua puluh menit. Duh! saya nelen ludah dan ga bisa berkata, padahal saya sudah web check in dan saat itu masih jam 12. Setidaknya saya harus sampai jam 1 untuk bisa mencetak boarding pass. Yang saya bisa lakukan hanya duduk manis dan mencoba untuk tidur di bus. Selama di perjalanan tidak berani melihat jam sama sekali.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki setelah turun bus, saya langsung lari! sial banget bus nya berhenti agak jauh dari pintu masuk. Saya ga peduli nabrakin orang atau pun tidak peduli dengan orang-orang yang kelempar oleh tas saya.

Nah, disini lah kejadian bodoh saya terjadi. Saya memang sudah hilang akal, sewaktu web check in saya tidak bisa ngeprint sehingga semuanya saya foto pake nikon D40 saya itu. Saya pun ga ada pulsa sehingga tidak bisa akses internet untuk unduh QR code di handphone tentang konfirmasi web chekc in. fffffuuuuhhh….. seperti orang gila saya lempar sana lempar sini isi tas saya untuk mencari kamera saya itu. Saya mencoba scan kode yang saya foto tersebut namun gagal karena banyak noise di fotonya. hhhhaaah… GUE GILAA!! akhirnya saya lari untuk masuk ke dalam Departure gate dan tentunya (dengan idiotnya menunjukkan foto boarding pass di layar kamera, terinspirasi oleh seseorang yg bisa lolos masuk USA hanya dengan foto paspor di iPadnya) saya tidak diperbolehkan masuk oleh mbak-mbak AirAsia lantaran tidak ada boarding pass yang tercetak. HAAAAHHH saya kemudian lari lagi ke counter yang disana BUANYAK sekali antrian. GUE GILAAAAA PART 2!! Setelah nabrak sana sini dan sempet kepeleset, saya pun mendapatkan boarding pass dari kak’cik AirAsia yang baik hati.. entah itu jam berapa, mungkin sudah jam 1.30. Saya dalam kondisi krisis percaya diri untuk melihat jam ataupun boarding information di layar pengumuman.

Selanjutnya saya lari dan berhasil lewat mbak-mbak AirAsia dalam pemeriksaan boarding pass. Walaupun sempat disemprot gara-gara nyerobot. Abis mau gimana lagi! setiap detik sangat berarti.. Yang sialnya saya mesti antri di bagian imigrasi dan mesti cekcok dengan mak cik di bagian custom dan keamanan. hhhh dumelan dan serepetan keluar dari mulut ke mak cik tersebut, tentu dengan gaya super cool saya dan sambil ngelempar botol air minum. Entah mesti bahagia atau sedih, saya berhasil sampai di depan boarding launge. Selanjutnya, ada hal miris yang menguras keringat dan air mata.

KOK GATE NYA KOSONG?????? *woot* dengan lemas badan dan detak jantung, saya bertanya ke pak cik yang berjaga di counter AirAsia. dia bilang pesawat tujuan Jakarta sudah berlepas. APANYA YANG LEPAS??? pesawatnya!!! I’m going crazy, run to the restroom and cry till drop fall like a river. eh engga, itu bohong! saya ga nangis, saya cuma shock dan bener bener terguncang bagaikan jatuh dari lantai paling atas Burj Khalifa. aiisshh… saya tak henti hentinya memohon ke petugas AirAsia saat itu untuk diperbolehkan masuk namun jawaban pintarnya semakin menyakiti hati saya sore itu, “bagaimana saya bisa memasukkan kamu, kalau pesawatnya saja sudah tak ade'” hheeehhh…. pertanyaan bodoh saya pun keluar “jadi??” “you must buy a new ticket laah…” *plak!*

Handphone Ilang
Pagi hari ketika diantar Kim ke Cebu Pier, saya memasukkan handphone saya, yang sampai sekarang pun saya lupa, saya menaruhnya di kantong celana atau di dalam tas. Seharian saya jalan jalan di Pulau Bohol tanpa menyalakan dan menyentuh handphone sedikitpun. Entah mengapa, terasa nyaman dan saya memang menyimpan baterai handphone saya untuk mengabari Kim ketika saya balik dari Bohol nanti malam, ya siapa tau bisa dijemput…
Sore hari menjelang malam, saya pun berhasil mendapatkan speed boat terakhir hari itu, sekitar jam 7.20pm waktu Filipina. Beli tiket yang super mahal (520peso + 30peso pajak). Selanjutnya melewati security yang berlapis ganda, akhirnya saya duduk di boarding lounge yang berAC. Berniat mengabari Kim, host saya di Cebu City, kemudian merogoh kantong, dan mengoprek ngoprek isi tas, loh kok??
HANDPHONE GUE?? oh my god! saya mencoba “keep calm and you lost your phone”. Nothing that I can’t do! saya pasrah karena handphone saya dalam keadaan mati, teman saya Jhibi yang mau membantu menelpon handphone saya pun tak bisa apa apa, saya pun tak tahu nomor Filipina saya itu.
Akhirnya, ketika mendaratkan kaki di Pulau Cebu, saya merasa sangat kosong, ditambah terpaan angin laut malam itu yang menambah kegalauan hidup ini. hhh
Untung saya antisipasi dengan mencatat alamat Kim dan Nomornya, in Case handphone saya mati (eh ternyata ilang). Akhirnya saya menelpon Kim dan mengabari kalau saya sedang berada di sebuah mall dekat pelabuhan. Berharap anak malang ini akan dijemput, nyatanya saya dibiarkan terlantar bersama jeepneys jeepneys yang tak bernomor.
Beberapa menit menunggu, tak kunjung datang jeepneys dengan tujuan Banawa. Nanya supir jeepneys pun mereka takut diajak ngobrol bahasa inggris. Haahh.. ya nasib, untung lah ada bapak bapak yang berani ngomong dan memberikan rute jeepneys ke Banawa. Malam itu, bener-bener bukan malam yang enak buat dinikmatin ketika jalan-jalan. Hampa dan gatau tujuan..

Masih kurang sial? tunggu cerita selanjutnya….

You may also like

9 Komentar

    1. padahal waktu itu izin kantor “maaf yah masuk kantor siang, soalnya ada acara keluarga” – gataunya.. pesawat ketinggalan, jadi ga masuk kantor huahaha.. ya ketinggalan asal jangan sendirian aja :p
      cerita selanjutnya, kalau ga salah ada di page itu deh. bagian dua nya

  1. gara2 aku lupa perhitungin arrival time pes pertama, ama departure time pes k2 ;p jaraknya cm 50 menit… gile aje… udh psti ga mungkin kekejar… ;p Utk lesson for the next kaka.. #walopunTetepAjaSalahLagi

  2. wahhh benerannn, ceritanya oke ^o^.. gara2 twit si kunti, aku jd ikutan baca… ;p ngomong2 sial, aku jg prnh ngalamin, tp ga se extrem kaka ;p palingan 2x slh booking tiket lwt website plus 1x slh booking hotel lwt AGODA ;p hahaha…walo miris, dbawa ketawa aja kak…drpd gila ;p

    1. waha makasih banyak sudah berkunjung 🙂
      haha salah gimana? gara2 terburu2 tiket promo ya? itu memang mesti terlatih. hehe kl soal ketinggalan psawat saya jadi sering gara2 kesiangan. hihihi
      naahh bener bgt, skrng kl kyk gitu sih udah ketawa aja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.