Sesial Apa Liburan Lo? (part 2)

Saya benar benar bingung ketika membuka dompet dan menyadari bahwa uang saya tinggal 1500peso di hari kedua. Hingga kemudian, dengan terisak-isak, saya mengambil keputusan untuk merelakan travel list saya di Filipina, yaitu mengunjungi Underground river di Puerto Princessa, bahkan saya pun harus merelakan penerbangan saya esok harinya ke Puerto Princessa (PPS). Saya menyadari, kondisi keuangan saya semakin memburuk, belum lagi saya belum membeli tiket pulang dari PPS ke Manila. Well, saya pun memang belum membeli tiket Cebu-Manila, namun berdasarkan pemantauan saya, tiket pesawat Cebu-Manila masih lebih murah ketimbang PPS ke Manila. Jadi lah, esok harinya saya tidur sampe siang, padahal saya mesti terbang ke PPS sekitar pukul 11 siang itu.

Hari kedua di Cebu City saya habiskan dengan mencari warnet dan cari tiket pulang. Saya ancla-unclu sendirian di Cebu City tanpa ditemani host saya tersebut. Dia tepar akibat mabuk semalaman. Di rumahnya pun ga ada akses internet, rrrr saya jadi mesti ke tengah kota dulu deh! Berbekal ilmu sok tahu saya dalam naik jeepneys akhirnya saya pun turun di daerah Colon. Colon adalah nama sebuah jalan, disana disebut national road. Jalan tersebut dihimpit oleh mall-mall dan berbagai macam pasar-pasar kaki lima di pinggir jalan. Jalan tersebut bagaikan terminal karena dipadati oleh jeepneys dari berbagai macam jurusan. Bener juga kata teman saya, di Filipina tidak ada terminal!!

Sembari mencari warnet, saya menyusuri pertokoan di pinggir jalan. Deretan tukang buah-buahan yang dirujak dan berbagai macam jajanan lainnya cukup menggugah selera saya. Slluurrpp, apalagi rujak mangga, nanas, dan jambu. Ketika sedang melewati sebuah toko handphone, saya tidak sengaja melihat tipe ponsel saya yang hilang dan dijual hanya 900peso. Aih! murah banget ya? saya jadi kepikiran untuk membeli ponsel dengan tipe yang sama disana, itung-itung mengubur jejak ponsel yang hilang karena bagaimana pun pasti saya akan diomelin oleh ortu habisnya itu ponsel pemberian mereka. hiks….

Usut punya usut, saya menemukan ponsel yang sama dengan harga 600peso. Ish! itu yang termurah.. saya jadi makin berambisi. Tapi, ketika saya coba tanya ke pedagangnya, ternyata oh ternyata… itu ponsel isi cina! capee deeeeh!! pantes aja harganya luar bisa murah 🙁

Sejenak saya ingin melupakan hilangnya ponsel saya, kemudian saya mulai dicemaskan oleh tiket balik ke Manila untuk esok harinya. Kalau saya ga dapet, atau harga tiketnya jauh dari perkiraan, mati lah saya ga bisa balik ke Manila dan ga bisa balik ke Jakarta!! APA KABAR COBA??

Jadi lah saya buru buru cari tiket lewat skyscanner.com dan mendapati tiket termurah adalah Cebu Pacific dengan harga 2000peso! hmm.. langkah kedua saya harus minjem credit card untuk membelinya. Untunglah ada teman yang sangat baik mau meminjami saya kartu kreditnya. langkah selanjutnya, saya mulai booking, berhasil lah dapeting harga yang diinginkan, ketika ingin dibayar loh kok website nya eror  ya?? puluhan kali saya coba terus eror, saya curiga server nya yang eror. Saya mencoba mengkontak teman di Jakarta dan meminta bantuannya untuk booking tiket saya tersebut, tapi dia juga mengalami masalah yang sama, situsnya EROR!!!

hmm… saya coba maskapai lain, yaitu Zest Air, bego nya website tidak mau menerima booking H-2 sebelum berangkat! ah daaamn!!!! saya coba Air Philippine Express, dan dengan website nya yang sangat  old look dan tidak terlihat canggih saya malah bisa mendapatkan tiket balik tersebut! Harga beda 300peso tidak apa apa, yang penting berhasil pulang. Gilanya, semua tiket paling murah berangkat pukul 4 dini hari. Lagi lagi saya harus terbang pagi!

Saya pulang dengan hati riang gembirang karena besok pulang ke Manila dan bertemu teman dari Indonesia yang sedang pertukaran pelajar. Sampai di rumahnya Kim, host saya itu, ternyata dia masih tepar. Saya jadi merasa awkward, mau nonton TV terletak di kamar tidur yang dia tempati. Akhirnya saya baca koleksi bukunya di dalam keheningan senja, aih!

Dia mengajak saya makan malam di warung makan di pinggir jalan dekat rumahnya. Kami selalu saya kehabisan topik untuk dibicarakan, jadinya banyak diam. Saya kira kami akan makan jolibee atau sejenisnya, tapi dia malah mengajak saya untuk makan sayur daging. Ada daging babi dan daging sapi. Dia memilihkan saya daging sapi yang hanya direbus dengan sayur sayuran seperti jagung dan sawi. Itu makanan mirip banget sama sayur asem cuma dikasih potongan tubuh sapi yang kaya baru disembelih. Saya aja makannya rada-rada memaksa untuk menelan, belum lagi di warungnya tidak menyediakan teh, saya makan sayur asem daging sapi itu dengan Coca Cola. Ini emang bener kata Trinity dalam buku The Naked Traveler, orang Filipina itu ke-amerika-amerikaan banget!

Jam setengah sepuluh saya berpamitan dengan Kim, dia melepas saya di depan pintu gerbangnya. Ih sedih banget rasanya.. bukan sedih karena berpisah, tapi sedih ga dianterin ke bandara 🙁 hihi rasanya kalau sedang traveling begitu sifat oportunis saya meningkat 1000%! Saya jalan terseok seok sambil berjaga kalau kalau ada anjing galak menuju ujung gang. Disana saya naik Jeepneys tujuan Colon. Yang dari Colon saya berambisi untuk ke Mactan Airport dengan Jeepneys, di malam itu, skeitar pukul 10malam.

Sampai di City Hall saya kehilangan arah gara gara tergoda untuk jalan jalan di sekitarnya. Saya belum sempat kesitu dan mengabadikannya. Akhirnya, saya terpaksa masuk ke kantor polisi dan curhat mengenai keresahan dan kegundahan yang saya punya. Berkali-kali saya dituduh sebagai orang Filipina, bahkan ketika saya menunjukkan paspor Indonesia pun mereka tetap menuduh saya keturunan Filipina, memaksa saya mengaku bahwa kalau ga ibu, ya bapak saya yang Filipino. Huft!

Saya curhat kalau saya ingin ke Bandara dengan naik jeepneys, tapi mereka melarang saya. Saya tetap bersikeras dan memaksa mereka memberitahu rutenya. Selanjutnya mereka malah membawakan saya peta kota Cebu. Eh, kok bandaranya jauh ya kalau di peta? Hati saya mulai ciut walau saya terus bermoto “you never know if you never try”, So I try! dengan baik hatinya mereka memberikan rute jeepneys beserta dimana berhentinya. Mereka pun memberikan tips keamanan dan sangat perhatian. hiks… jadi terharu…. kalau ada turis Filipina seperti saya di Jakarta, ada polisi yang sebaik itu ga ya?

Penuh semangat saya berjalan dari city hall menuju Colon st. Di sepanjang jalan, gembel dan pekerja “malam” berkumpul jadi satu. Mobil-mobil sudah jarang yang berlalu lalang. Berhubung Colon street beda tipis dengan Pasar rebo kalau malam, jadi saya sih berani-berani aja. Untungnya lagi, saya langsung dapet jeepneys tujuan Mandaue. Nah, terus walau hampir kelewatan saya turun di San Antonio Highway. Denger kata highway saya jadi keingetan jalan tol cipularang, eh ngomong-ngomong saya jadi panik kalau mesti turun di jalan yang mirip Tol Cipularang secara itu sudah jam setengah 11 malam. Untung lah ada bacaan San Antonio Hospital, saya langsung sigap dan berhentiin kenek jeepneys sambil memastikan lagi.

Turun dari jeepneys di San Antonio Highway, saya masuk ke dalam mini market dan bertanya dimana jeepneys tujuan Maribago. Ternyata, saya mesti jalan lagi ke suatu jalan kecil, jalannya gelap, sepi, dan hanya terdapat beberapa warga lokal yang “lokal” banget, tampangnya kayak preman. Belum lagi hotel di sekitarnya yang bikin banyak “ayam-ayam” berkeliaran cari “makan”. Malam itu terasa malam paling challenging buat saya!


Malam itu lebih challenging lagi ketika saya satu jeepneys dan dikelilingi oleh geng banci! Oh my god! mereka emang ga nyolek ganjen dan gangguin. Tapi mereka asik ngobrol dan gosip dengan bahasa setempat. Saat itu saya bersyukur banget saya ga ngerti bahasa tagalog, masalahnya, ga ngerti aja saya pengen ngakak dan ketawa ngebayangin apa yang mereka gosipin. Habisnya, ada mas-mas di ujung jeepneys yang cekikikan ngupingin geng banci pada ngegosip. ahahaha Yang saya tangkep sih, mereka ngomongin “client” mereka. Tak hanya ricuh ngegosip di dalam jeepneys, geng banci itu pun gangguin mas-mas di pinggir jalan. And I am in the middle of “something”!

Pemberhentian terakhir saya adalah di Marina Mall, Mactan Island. Saya sudah beberapa meter saja dari Airport. Untuk ke Airport saya harus naik taksi lagi. Untuk memakan waktu, saya cari warnet dan online selama dua jam. Baru lah saya ke Mactan International Airport pada jam setengah dua dini hari. Pintu bandara untuk masuk dan check in saja masih ditutup, jadi lah saya beserta puluhan calon penumpang bergelimpangan di lantai bandara.

Baru lah pada jam setengah tiga, pintu untuk check in dibuka. Saya mengantre paling pertama. Saya langsung jalan cepat ke counter Air Philippine Express tujuan Manila. Huh hah, saya jadi pengantre paling pertama lagi! Saya kasih print screen tiket saya dan mbak AirPhil nya menscan kode booking nya. Hingga ada pernyataan paling bikin jantung copot dari mbak AirPhil “Sir, sorry, you need to verify your credit card” “do you bring it the copy sir?” lalu, pertanyaan bodoh ala saya mulai terucap “what do you mean” *lemas* “you need to show credit card copy sir!”.. oh my god! serasa tersambar petir, saya jadi super lemes dan ga tau harus ngapain!

Adu bacot dan kadang merayu mbak mbak AirPhil terus terjadi! saya kemudian dioper ke kantor AirPhil, kemudian saya disuruh cari warnet untuk dapet scan-an credit card teman saya itu. yang jadi masalah, itu jam 3 pagi, ponsel saya ilang, nomor teman saya tidak ada, dan internet akses jauh di luar bandara. HOW COME, MISS??? Saya berlari menuju hotel dekat bandara dan menanyakan arah warnet terdekat, namun ada bapak bapak yang mau nganterin saya, tapi dia bilang harus keluar bandara. Yah itu sih saya tahu, warnet yang tadi saya datangin juga. Dia malah langsung naik taksi dan saya sudah bilang ga usah.. dia memaksa membantu dan ya sudah lah, saya males berkompromi! Pergi lah kami ke warnet itu, dia menjadi translator bahasa ke penjaga warnet untuk membantu meminjamkan ponselnya karena saya mau mengaktifkan kartu Simpati saya dan melihat kontak teman saya. Setelahnya, saya online YM dan mencari teman yang masih melek, memaksa dia untuk menelpon teman saya yang bersangkutan. Puluhan kali ditelpon tapi teman saya tidak bangun-bangun. Saya panik! Masalahnya counter check in ditutup jam 3.20, saat itu sudah jam 3 pas, ya saya pasrah dan sebaiknya balik ke bandara!

Cukup susah memberhentikan taksi, hingga taksi ke lima baru lah saya berhasil naik taksi. Di tengah jalan, bapak yang menolong saya itu memberhentikan taksi, dia memalak saya! hah???? dia bilang gini “I already help you and you don’t give me money??” damn! jerk and bastard! di saat genting begitu saya malah kena penipuan macam begitu! Akhirnya saya kasih 40peso alias 8000rupiah! Dia turun dari taksi dan saya menuju ke bandara. Sampai di pintu bandara saya harus ngantri, kemudian setelah lolos security check, saya berlari menuju counter AirPhil. Saya menceritakan semuanya ke mba AirPhil, sambil memelas dan memohon. Kemudian, mbaknya bilang mau menghubungi supervisornya lagi. Setelah dihubungi, saya bagaikan dapet hembusan angin dari surga… heeff… SAYA BISA TERBANG KE MANILA!!  saya mendapatkan boarding pass dan langsung berlari ke boarding launge! hhhhhh FINALLY! thank god!

*Seminggu setelah perjalanan itu, saya iseng check booking report AirPhil Express di email saya. dan saya mendapati pernyataan yang bikin saya kayak orang bego:

You may also like

5 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.