Budget Travie

Tadi pagi, selagi di perjalanan menuju kantor, perjalanan yang panjang itu, saya mengisi waktu dengan research my next stop dgn baca buku Lonely Planet. Hmm hmm.. sumringah banget tau kalau di Beijing banyak Youth Hostel. Harganya masuk dengan kantong saya. Lalu, saya melirik ke rubrik Eating nya. Hmm banyak rekomendasi restoran, nah sayangnya kok harganya seharga dan malah lebih banyak yang lebih mahal dari harga menginap di Youth Hostel. hihihi

Dasarnya saya yang pelit dan perhitungan, saya acuhkan saja semua rubrik Eatingnya, nanti saya coba jajanan jalanannya aja deh. Lalu tercetus lah kata kata di twitter bahwa saya tidak mau jajan jajan yang lebih mahal dari biaya penginapan. Nah terus kalau nginepnya aja di airport? ya berarti masa puasa makan sudah dimulai! hahaha

Prihatin ya bacanya? ya memang kenyataannya begitu.. walaupun ga puasa seharian namun cukup memotong makan siang atau makan malem. Waktu makan kalau bisa dirapel :p agar budget menjadi minim seminim minimnya. ya namanya juga #BudgetTraveler.

Terus saya jadi ingat lagi mengenai pengalaman berakomodasi saya yang tanpa biaya. hmm salah satunya menginap di Bandara. jangan sebut diri kamu backpacker kalau masih bawa koper dan.. satu lagi! selama belum pernah tidur di bandara. hehe terus harus ngerasain kejamnya udara dingin menusuk kulit kalau tidur di bandara. uuhh nikmat yang menyakitkan tiada tara.

Pertama kali saya tidur di bandara itu ketika pulang dari Phuket. Di soekarno hatta bersama eji, saras, dan yunus kami desperate karena tidak mendapatkan bus DAMRI terakhir. akhirnya kami luntang lantung, cari tempat tidur. Walaupun akhirnya kami baru bisa dan terpaksa tidur jam 3 pagi. Soekarno hatta sih tidak begitu buruk, buruk disini adalah dinginnya itu. haha karena kan tidurnya di bagian luar. Nah, berikut nya saya juga cobain tidur di Ngurah Rai airport. waktu itu sudah kehabisan duit banget, alhasil untuk menunggu penerbangan esok harinya saya tidur di mushola yang tak berkarpet. hiks.. untungnya di luar ramai karena pada nonton bola, dan di mushola hanya saya sendiri, jadi tidak merasa kesepian sekaligus puas tidur satu ruangan sendirian. Nah, selanjutnya sih jadi makin cuek tidur di airport, abisnya banyak juga yang melakukan hal yang sama, dan itu hal yang lumrah saja. Malah saya bersama ketujuh teman saya pernah tidur di Changi. Waktu itu tengah malam, sudah sepi, kami terseok seok sambil kedinginan mencari tempat tidur yang nyaman dan voila! kami menemukan ruang kosong berkarpet dan tidak dingin! udah gitu ada musik musiknya lagi. haha

Nah, yang baru baru ini makin tragis! waktu empat malam saya trip ke Filipina, masa cuma semalam tidur di kasur? itu pun tidur nebeng host dari couchsurfing! haha mengenaskan! saya harus tidur di Ninoy Aquino yang duingin parah, saya sampe step menggigil. hii ga lagi tidur disitu…   Nah tapi, habis trip filipin itu, saya langsung kerja loh besoknya. Walaupun susah susah tapi hati senang jadi ga menjadi penyakit.

Intinya sih itu sekelumit dari #BudgetTraveler yang saya lakukan. Ya namanya juga ingin mengirit biaya. Toh tidak ada pihak yang dirugikan. Nah beda lagi kalau hal itu dilakukan sama orang yang ogah diajak susah. Mungkin dari baca cerita ini, beberapa orang jadi ga mau ngajak atau diajak jalan jalan oleh saya kali ya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.