Sunset Sore di Bobo

Di tengah aktivitas yang padat, saya dan teman kerja saya suka mencuri-curi waktu untuk pergi jalan-jalan di sekitar Jailolo. Ya maklum ini kan business trip, jadi tanggung jawab pekerjaan nomor satu (eh?) ya walaupun pekerjaan saya tidak banyak disini. Cuma kan ga asik aja kalau jalan-jalan sendiri.
Saya dan Fuad secara acak memilih destinasi dan jatuh lah ke sebuah lokasi atau desa bernama Bobo. Namanya unik ya seperti majalah anak anak ibu kota. Bahkan tahun lalu (2011) ada wartawan Majalah Bobo (yang mana senior saya sendiri) yang sengaja meliput ke Jailolo untuk mengetahui mengenai desa ini dan pantai air hangat nya.
Kami jalan dari desa Guemaadu sekitar pukul 18.00 WIT. Kami berharap matahari belum turun dari garis horizon. Perjalanannya sih jauh tapi karena jalannya mulus dan sepi jadi dengan tancap gas bisa ditempuh dengan hanya 20 menit. Kami sempat nyasar ke daerah kopra yang jalannya sudah tidak beraspal, setelah bertanya ke warga lokal akhirnya kami balik arah dan tiba lah di sebuah dermaga.
 Dermaga Bobo, nampaknya sudah lama tidak terpakai. Bentuk dan formasinya sudah compang-camping tak terurus. Hawa di sekitarnya menekan pernapasan dan terasa lah uap uap hangat mengudara. Ada sebuah tanjung yang dihimpit oleh bebukitan. Perbukitan tersebut ditumbuhi hutan bakau dan entah tumbuhan liar apa yang ada disana. Matahari sore memancarkan sinar yang menghasilkan warna lembayung yang tidak biasa. Warnanya ungu kemerahan. Nampaknya kami memang salah lokasi, dengan formasi pepohonan dan bukit bukit di depan kami tidak akan bisa melihat turunnya matahari. Tetapi ada hal yang justru membuat sunset sore itu menjadi sunset paling berkesan buat saya.
Uap dari air panas di bawah dermaga sangat terasa. Membuat kabut-kabut bergerombol di sekitaran tanjung tersebut. Pemandangan makin mistis ketika melihat kawanan kabut menyelimuti hutan bakau sambil diterangi kemilau jingga turun perlahan. Peaceful.
Akhirnya kami baru balik dari Tanjung Bobo tersebut pukul 7 malam. Matahari sudah tidak terlihat lagi dan hanya tinggal lah gelap malam. Entah penghematan energi atau tidak tersedianya infrastruktur, lampu jalan sama sekali tidak ada di sepanjang jalan melewati empat desa. Alhasil, kami benar benar ngebut ngibrit meninggalkan gelap jalan yang seolah makin lama akan memakan kita. Serem banget!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.