Hopping in Spice Islands (Part 2)

Masjid Ternate
Masjid Ternate

Tidore, sebuah kota sekaligus pulau yang amat sepi. Sepanjang jalan saya tidak melihat rumah makan, hanya warung warung kecil penjual rokok. Saya kelaparan. Kemudian terdampar lah saya di tengah pusat kota. Disana terdapat beberapa ruko dan sudah banyak warung makan berjejer. Oke, saya pilih yang ada ikan bakarnya. Sudah terbayang kelezatan dan lembutnya daging ikan segar disiram lezatnya kecap yang dipanasi arang pembakar. Sluurrp.. Hayalan saya dimusnahkan dengan jawaban mba-mba penjaga warung “disini tidak ada ikan bakar, ada nya itu” sambil menunjuk jejeran piring seperti di warteg-warteg. Lauk nya hanya ikan balado dan telur balado, menu utama nya nasi kuning. Apa mau dikata, sudah sukur bisa nemu warung makan di Tidore. hehe pesan satu porsi yang datang 3 porsi. Bener banget kalau ada yang bilang porsi makan orang di Maluku itu super duper.

Niatnya sehabis makan mau keliling kota sambil jalan kaki, eh malah hujan deres dan lama. Alhasil saya mengisi baterai dan sibuk internetan, baru sekali itu saya menemukan sinyal HSDPA di Maluku Utara. Ketika hujan reda pun saya sudah males untuk berhenti di objek wisata yang telah dibookmark hii. Jadi saya langsung deh naik angkot balik ke Pelabuhan Rum. Setiap sudut pulau ini unik, di sisi sudut lain hilang sinyal, di sudut lain sinyalnya HSDPA, terus yang satu hujan yang satu adem ayem. Pengaruh daerah kepulauan dan ada nya gunung kali ya. Jadi antara sinyal dan awan hujan tidak saling sinkron di dalam sebuah pulau, karena gunung yang cukup tinggi menjadikannya sebagai benteng antara sisi pulau sebelah barat dan timurnya. Di titik keluarahan yang ga ada hujan, saya malah bisa lihat hujan lokal di laut, di seberangnya, pulau Halmahera malah kelihatan cerah kena kilatan matahari. Walaupun kayaknya ga penting banget bahas fenomenal ujan lokal ini, tapi buat saya sih menarik. Mana bisa di Jakarta bisa lihat hujan di laut, yang kelihatannya kayak segumpalan awan jatuh ke laut. Syukurnya sih dengan adanya cuaca ekstem kayak gitu, kita jadi bisa sering lihat pelangi, disana disini, setengah lingkaran, malahan kadang berlapis lapis.

Dari Pelabuhan Rum saya balik ke Ternate. Duh, boat pas pulang lebih parah, ga ada pelampungnya, dan air laut makin meluap. Hujan juga belum berhenti. Rute saya selanjutnya adalah Danau Ngade. Destinasi kali ini terinspirasi dari lukisan pemandangan dari Gunung Gamalama menghadap Danau Ngade, disana terlukis pemandangan danau, kemudian hamparan laut didepannya ditaburi pulau pulau, seperti Pulau Tidore dan Maitara. Hii.. Ga sabar, ya tapi ngomong ngomong naik apa ya saya? Sudah coba tanya ke angkot yang lewat namun mereka menggeleng, bilang kalau ga lewat. Alternatif kedua adalah Ojek, tarif yang ditawarkan sepuluh ribu. Padahal anjuran supir angkot tadi pagi adalah 5ribu rupiah. Kalau sudah begini ya pintar-pintar nawar, memang sih saya tidak dapat tarif 5ribu, namun saya bisa dapet tarif 7ribu rupiah. Jaraknya dari Pelabuhan Bastiong sih ga jauh, jalannya berkelok dan naik turun. Seru.

Danau Ngade (Sesuai Khayalan) ©Alpharian.com

Sesampainya di Danau Ngade, ehm kok zonk? ada seorang nenek penjaga warung memalak saya 2ribu rupiah, katanya sebagai entrance fee. Dia menunjukkan saya jalan, nyatanya jalan yang dia rekomendasikan adalah jalan buntu. Hari itu seharian hujan jadi disana becek. Hayalan saya melihat danau dari atas dengan background hamparan laut dan Tidore serta Maitara gagal sudah. Terlalu tinggi fantasi saya. Tidak ada trek menuju ke atas danau, cuma jalan setapak yang becek. Sepi banget bikin horor sendiri kalau lama lama disana. Akhirnya saya pasrah dan balik ke pusat kita Ternate. Saya malah terdampar di sebuah masjid besar, ikon baru nya kota Ternate. Ga sempet masuk sih karena sudah lapar banget dan kemudian masuk lah saya di KFC. waaa ada KFC disini. Tiga minggu sudah saya hanya makan ikan dan sayur, akhirnya ketemu ayam dan msg.

Pulang ke Jailolo? Saya kehabisan speed boat. Saya sibuk fotoin pelangi di seberang, Pulau Tidore. Padahal dalam hati was was kalau sampai ga bisa balik ke Jailolo. Ga punya kenalan di Ternate, mau tidur dimana? haha kemudian terjebak lah saya di sebuah speedboat kuning bertarif 100ribu. Yah.. sudah lah, apes. Tapi syukur sampai di Jailolo dengan selamat jam 7 malam.

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.