Festival Teluk Jailolo Day 2nd

Tanggal 18 Mei 2012

Spice Trip

Agenda hari ini adalah menemani wisatawan, ya sekalian ikut tur juga. Sebuah trip bertajuk Spice Trip akan siap dinikmati di tanah Halmahera Barat. Pagi itu, saya berkumpul dengan para wisatawan, sebelumnya saya merencanakan para wisatawan untuk berkunjung ke tanjung Bobanehena. Disana terdapat beberapa spot snorkling, sayangnya para wisatawan lebih memilih untuk berfoto di dermaganya dan bersantai sambil minum air kelapa muda, langsung dipetik dari pohonnya. Sluuurrrrp.

Kemudian setelah istirahat makan siang, baru lah kami memulai Spice trip. Lokasi Spice Trip ada di desa Gamtala. Tepatnya berada di belakang Gunung Jailolo. Jadi dari pelabuhan Jailolo, kita mesti berkendara selama 30 menit untuk mengitari setengah gunung. Sepanjang perjalanan kita dapat menemukan rumah adat Suku Sahu, namanya Sasadu.

Spice Trip sendiri adalah perjalanan menyusuri kebun rempah-rempah, mengenang kejayaan masa lalu, dan bisa membayangkan ketika bangsa Eropa untuk pertama kali menemukan hamparan tanaman emas tersebut.

Pala dan cengkeh adalah komoditas utama dari rempah tersebut. Zaman dahulu, harga kedua rempah tersebut dapat melampaui harga emas. Sangking tidak mau perkebunan ini dikuasai orang lain, kolonial Belanda mempunyai rencana yang sangat licik yaitu membakar habis perkebunan rempah, dan hanya menyisakan beberapa. Hal tersbeut tambah membuat harga rempah melambung tinggi. Dari situ lah pembudidayaan rempah mulai tersebar di negara-negara jajahan Belanda lainnya. Seperti Zanzibar, dan negara-negara di sekitar Amerika Tengah dan Selatan. Yah, padahal aslinya sih pala dan cengkeh itu dari Indonesia, tepatnya Maluku Utara.

Rute pertama dari Spice Trip ini adalah ke perkebunan pala. Disana juga sudah ada guide dari orang PEMDA nya. Dia menjelaskan mengenai komoditas pala serta sejarah rempah di Maluku Utara. Dia juga menjelaskan fungsi dari setiap bagian buah pala. Mulai dari daging buahnya yang bisa dijadikan manisan dan olahan makanan lainnya. Fuli (selaput luar biji yang berwarna merah) nya sendiri diproduksi untuk obat batuk dan juga kosmetik. Sedangkan biji pala digunakan untuk bumbu masakan. Umumnya, tumbuhan pala adalah jenis tanaman yang paling disukai para petani disana, karena tumbuhan ini tidak kenal musim, mereka selalu berbuah setiap saat, setiap tahunnya.

Rute selanjutnya adalah bermain di kebun cengkeh. Orang sana biasa menyebutnya cingkih. Dulu, (nenek) saya mempunyai sebuah pohon cengkeh di pekarangan rumah kami. Setiap kali panen saya selalu disuruh untuk naik ke atas pohon dan memetik cengkeh yang siap untuk berbunga. Kemudian nenek saya menjemurnya di pekarangan rumah sebelum menjualnya ke pengepul. Harum nya yang khas membuat saya kangen masa-masa dulu, sewaktu kecil. Buat saya sendiri, kalau ditanya identitas apa yang Indonesia banget, mungkin saya akan menjawab cengkeh. Harumnya itu loh, Indonesia banget.


Di perkebunan cengkeh ini masih sama seperti tadi. saya malah sibuk foto-foto, habisnya pemandangan dari perkebunan tersebut keren banget. Di balik semak-semak pohon cengkeh tersebut tersembul pemandangan Gunung Sahu dan juga Selat Sahu. Jejeran pesisir pantai menghiasi di bawahnya. AMAZING! Karena sibuk foto ga sadar kalau kita sudah mau beranjak ke acara yang lain, yaitu Cultural Party di desa Akelamo.

Nah, perjalanan balik ke kota Jailolo ini yang bikin dag-dig-dug. Soalnya kami melewati rute baru, yang bahkan belum tersentuh aspal. Jalanannya itu naik turun membelah gunung. Kerikil, bebatuan, dan pasir adalah paduan super serem untuk sebuah tanjakan dan turunan dengan sudut kemiringan diatas 60 derajat. Namun pemandangan yang disuguhkan spektakuler. Di sebelah kiri nya gunung Jailolo yang terasa dekat, mungkin kami sedang melintas di punggung gunung.. sebelah kanannya jurang dan lautan. Di depan kami ini yang cukup spektakuler. Hmm tarik napas. Di depan kami itu ada turunan terjal, yang dengan lowong nya kami bisa melihat laut yang seolah olah berada di atas saya, ditambah pemandangan gunung gamalama (Pulau Ternate), Pulau Hiri, dan Pulau Tidore. Semuanya terlihat dekat dari atas situ. Rasanya mau terjun saja melihat pemandangan luar biasa tersebut. Kilatan oranye di lautan di bawah kami tambah menghiasi lukisan alam yang siap dibingkai.

Rute ekstrem tersebut berakhir di hamparan luas perkebunan kopra dan tembusnya di Desa Bobo. Tujuan kami selanjutnya adalah dermaga di Desa Payo. Asal usul dari nama Payo sendiri adalah dari air di teluk kecilnya itu, percampuran sumber air panas dan air lautnya membuat air disana payau. Penasaran? Cobain aja sendiri. Katanya di di desa payo ini ada sumber air yang puanas banget. Sampai-sampai waktu itu ada  warga yang mengejar rusa, rusanya lari dan tercebur lah di sumber air panas tersebut. Setelahnya ditemukan rusa tersebut sudah matang terebus air panas. Hiii

Setelah transit sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Setelah melewati pusat kota Jailolo lagi, kami langsung tancap gas ke desa akelamo. Waktu tempuhnya sekitar 15-20 menit. Kami sudah ditunggu oleh yang punya hajat. Keren ya sampai ditunggu? Soalnya di rombongan kami itu ada rombongan media, sayang dong kalau sampai acaranya ga dilliput media.

Gunung Sahu

Cultural Party

Akelamo, sebuah desa yang dialiri oleh sungai Akelamo. Disana sudah disetting sebuah acara bertajuk pesta adat. Menu nya? berupa tari-tarian lokal, alunan musik tempat baronggeng (berjoget) atau orang sana biasa menyebutnya yora-yora, kemudian sajian makanan lokal pun tak ketinggalan. Ketika saya turun dari bus dan memasuki kawasan desa adat tersebut, sudah hadir banyak turis asing. Kebanyakan dari mereka adalah pengguna yacth yang berlayar dari seluruh penjuru dunia. Saya sempat bertemu dan mengobrol singkat dengan seorang wanita berusia 50 tahun lebih. Dia berasal dari Amerika Serikat, dan sudah tiga tahun berlayar keliling dunia. Dia berlayar bersama suaminya, hanya berdua, menghabiskan masa pensiun nya. Katanya suatu kesempatan yang luar biasa dapat menghadiri acara festival ini. Sebenarnya perjalannya ke Maluku Utara adalah sebuah bonus, sembari menunggu waktu pulangnya sebulan ke depan menuju  Australia.

Tidak hanya wisatawan asing maupun lokal, namun ada juga public figure  seperti Christine Hakim yang berpartisipasi di dalam acara ini. Sambil berpakaian adat sahu, dia membantu sosialisasikan pengetahuan budaya ke turis asing dan media yang meliput. Setelah dihibur secara indera penglihatan dan pendengaran. Makanan yang tasty dan spicy menggoda indera perasa. Sajiannya berupa ikan bakar yang disandingkan dengan sambal dabu-dabu ekstra pedas, ada juga sambal kacang yang enak, dan dipadukan dengan pisang bulu bebek atau juga sagu yang berwujud seperti roti. Hmm.. nyam nyam

Pesta adat tak berhenti sampai disitu, malamnya (duh saya sudah tepar) dipaksa untuk ikut ke acara Horom Sasadu di Desa Gamtala. Acaranya berlangsung di rumah adat Sasadu. Disana digelar makanan dan ‘minuman’ yang akan memabukkan. Berhubung saya sudah kenyang,saya tidak berminat untuk bergabung. Hanya menonton saja. terutama nontonin bule-bule yang sudah terlihat mabuk, mukanya merah banget akibat dibakar minuman tradisional, yaitu Cap Tikus. Bau minumannya saja sudah bikin mau muntah, katanya kalau diminum bisa bikin badan terbakar, kepanasan. Kalau mau coba yang lebih ringan ada Saguer. warnanya putih seperti air kelapa. Soal rasa, seperti air tape. Asem manis seger.

Hari kedua dalam festival benar-benar terjun dalam budaya lokal. Mulai dari berkebun, makan makanan lokal, dan berjoget bersama. Sebuah pengalaman yang hanya bisa dirasakan ketika ada festival.

You may also like

8 Komentar

  1. Oh my! Finally, u’ve changed to WordPress.i always tried to drop down some comments,but halfway,it’s gone!Got attracted with all ur travel plan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.