Jailolo? Apa tuh?

Festival Teluk Jailolo, siapa sangka ternyata saya bisa bergabung di hajatan besar ini. Awalnya saya mendengar nama Jailolo sendiri ya dari festival bertajuk Festival Teluk Jailolo. Kalau tidak salah sekitar tahun 2010 saya melihat iklannya di Metro TV.

Jailolo, adalah sebuah ibu kota dari kabupaten Halmahera Barat, provinsi Maluku Utara. Jailolo  sendiri merupakan kota kecil, yang menurut saya hanya sebesar kelurahan setu, tempat tinggal saya. Hehe. Bagaimana cara menuju kota kecil ini? Kita bisa naik pesawat ke kota Ternate, kota pintu masuk ke Maluku Utara. Penerbangan menuju Ternate memakan waktu sekitar 3 jam 20 menit, jika kita mengambil penerbangan langsung. Perjalanan akan dilanjutkan menggunakan speedboat (50.000rp) atau kapal kayu (27.500rp) dari pelabuhan Dufa-Dufa di Ternate menuju Pelabuhan Jailolo, memakan waktu sekitar 40 menit hingga 1 jam. Secara akses kota Jailolo terbilang mudah, walaupun harga tiket pesawatnya akan bikin kita kaget, terlebih untuk orang-orang yang lebih senang bepergian ke Singapura atau Malaysia. Jika kita bisa mendapatkan harga tiket pesawat 800.000rp untuk pulang pergi ke Singapore atau Kuala Lumpur, nah harga 800.000rp ini sih masih harga promo dari penerbangan Jakarta-Ternate, sekali jalan. Untungnya, perjalanan saya ke sana kali ini GERATIS, karena sedang business trip, cielah.

Old Map of Spice Islands

Bicara mengenai sejarah, dulu kita belajar mengenai asal usul terjajahnya bangsa ini. Dimulai dari pencarian rempah-rempah oleh bangsa Eropa ke seluruh dunia, bahkan pencarian tersebut memicu ditemukannya benua Amerika, ya padahal tempat yang dituju sebagai Spice Island (Pulau Rempah) itu adalah Indonesia, lebih spesifik yaitu daerah Maluku Utara. Hingga akhirnya Portugal menjadi sangat beruntung karena terlebih dahulu menemukan pulau rempah tersebut yaitu Pulau Ternate. Asal usul pulau rempah ini dulunya (yang hingga sekarang) terdapat empat kerajaan. Disebut sebagai Moluku Kie Raha, atau kerajaan empat gunung. Apa saja? Gilolo, Ternate, Tidore, dan Bacan.

Ternate dan Tidore tentu sudah familiar di telinga kita karena dari kecil sudah disuap pelajaran sejarah mengenai berbagai konflik yang terjadi di dalamnya, serta mengenai kesultanannya. Bagaimana tentang Gilolo atau Jailolo? Gilolo (eits jangan salah sebut ya) sendiri adalah sebutan untuk mewakili Pulau Halmahera, yang kalau dilihat dari peta berbentuk huruf K. Konon, sekitar abad 17, kerajaan Jailolo lenyap begitu saja, tanpa bekas. Hilangnya kerajaan ini dipicu oleh konflik yang terjadi antar saudara, yaitu antar kerajaan Ternate, Tidore, dan Bacan. Jailolo yang dikisahkan sebagai anak tertua dari keempat kerajaan ini enggan untuk melihat perseteruan antar saudara, hal tersebut dipicu oleh kedatangan bangsa Eropa yang berniat untuk mengadu-domba antar kerajaan. Ratusan tahun menghilang membuat nama Jailolo ini sendiri hilang dari sejarah. Sampai akhirnya, kota kecil yang siap tumbuh ini hilang pamor dibanding tetangganya Ternate dan Tidore.

Teluk Jailolo

Nama Jailolo mulai diangkat ke publik dalam festival nya pada tahun 2010. Setidaknya saya sih sudah pernah dengar walau tidak intens, hingga akhirnya saya malah nyemplung di dalam project in. Mau tidak mau saya mesti concern dan berusaha keras untuk menularkan informasi ini. Kebetulan mengerjakan promosinya, saya jadi getol untuk lebih mendalami segala potensi dan informasi mengenai daerah ini dari A hingga Z. Dan ketika saya terjun langsung, ternyata masih buanyak yang belum tau mengenai nama Jailolo itu sendiri. Jailolo? Apa tuh? Bisa dimakan? Ha, jaihololo? Kota dimana tuh?

Mungkin bagi kamu yang juga belum tahu apa itu Jailolo, bisa googling sekarang juga! Informasi mengenai Halmahera Barat dan festival nya ini sudah banyak kok beredar di dunia maya. Bahkan sudah menjadi pembicaraan hot diantara para traveler. Waktu saya mengadakan kontes blog yang berhadiah plesiran gratis ke Jailolo, wuih antusiasnya luar biasa! Saya sampai terharu :’)

4 tanggapan pada “Jailolo? Apa tuh?”

  1. Pingback: Mengintip Keindahan Jailolo | La Rêveur Vrai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.