Cabaret On The Sea: Sound of The Spice

Tiga minggu di Jailolo membuat saya cukup mengenal berbagai macam hal, salah satu nya penduduknya, tingkah laku dan kebiasaan anak mudanya. Selama itu juga, saya melihat kebiasaan anak muda nya berlatih Cabaret On The Sea yang akan ditampilkan di acara puncak festival tanggal 19 Mei nanti.

Cabaret On The Sea terhitung akan memasuki umurnya yang ketiga. Di tahun yang ketiga ini, akan semakin banyak yang diperbaiki. Kalau tahun-tahun sebelumnya, lebih banyak dengan adegan dialog yang rasanya tidak terlalu tertangkap untuk ditampilkan outdoor.

Oh iya, sebelumnya, apa sih istimewanya Cabaret ini? Tentu, dari namanya sudah bisa dipastikan kalau kabaret ini dipentaskan di panggung di atas laut. Loh? Serius? Yep! Ini bukan pertunjukkan main main. Di daerah Indonesia lain, mana ada pertunjukkan spektakuler begini? Cuma ada di Halmahera Barat. Kemudian, konsep kabaret yang diusung tersebut adalah kabaret outdoor yang panggungnya berlatarkan 100% keindahan alam teluk Jailolo. Laut yang jernih dan tenang serta barisan perbukitan. Ditambah pula jejeran layar-layar dari yacht internasional yang datang mendukung cerita dari kabaret ini sendiri. Lenggok tari dan atraksi treaterikal menjadi dasar dari pertunjukkan kali ini, didukung oleh musik yang dramatis yang diambil dari lagu daerah setempat dan dipadukan dengan efek-efek modern. Tata panggung yang dinamis disatu padukan dengan keindahan konfigurasi tari tersebut, membuat penonton nantinya tidak akan bisa menebak kejutan apalagi yang akan ditampilkan.

Latihan sudah dimulai sebulan sebelum pementasan. Konsep dan kostum pun sudah disiapkan. Pementasan nanti, pemain kabaret akan dibagi dalam kelompok-kelompok tokoh yang sudah ditetapkan dalam cerita. Tokoh utamanya adalah tokoh rempah dengan tokoh pendukung seperti tokoh petani, pedagang, pendatang dari arab, cina, dan tak lupa ada tokoh penjajah dari Portugal yang dulu lebih dulu menemukan the spice islands. Judul yang diusung untuk kabaret ini adalah The Sound of Spice. Yap, berkaitan dengan tema utama festival, yaitu The Amazing of Golden Spice Islands.

The Sound of Spice adalah cerita tentang suara rempah-rempah yang gundah dan sedih karena diusik oleh para manusia. Mereka datang ke bumi untuk memakmurkan yang ada disana, namun kenapa malah disalahgunakan dan diperebutkan sana sini. Hal tersebut membuat rempah-rempah marah dan mengeluarkan ankara murkanya. Kemudian, datang lah semacam peri dan malaikat-malaikat kecil yang mewakili kearifan lokal, yang menghidupkan kembali rempah-rempah tersebut beserta para elemen bangsa lain yang tadinya memperebutkan rempah tersebut.

Pertunjukkan yang berjalan tak lebih dari satu jam ini dipentaskan pada tanggal 20 Mei kemarin. Saya melihat mulai dari proses latihannya, workshop make up yang diadakan untuk tim make up, hingga proses gladi resik nya. Ngomong-ngomong semua nya diperankan dan dikerjakan oleh anak-anak lokalnya loh (peserta kabaret dan make up) yang tentu dilatih oleh tenaga profesional. Kalau kalian yang di Jakarta sudah bangga bisa pentas di tingkat sekolah, universitas atau provinsi,  duh kalian masih kalah. Di tengah keadaan yang minim, dengan peralatan dan bahan-bahan pertunjukkan yang jauh dari Jakarta yang serba ada, Cabaret on The Sea ini menjadi pertunjukkan yang berkelas nasional bahkan siap dipentaskan di kelas internasional. Banyak sekali orang luar negeri yang datang dan terpikat dengan penampilan kabaret. BAHKAN SAMPE ADA BULE YANG NANGIS karena tersentuh dengan ceritanya dan kespektakuleran pertunjukkannya. Hii saya sendiri saja sampai merinding pas melihatnya.

Saya jamin, kalau ada penjajah yang masih hidup dan menonton pertunjukkan kabaret ini, pasti dia akan menyesal dan nangis karena pernah merampas dan menjajah kepulauan rempah-rempah ini. Sorry to say, seharusnya kita pun sedih karena telah lama melupakan apa sesungguhnya emas sejati dari negeri ini. 

8 tanggapan pada “Cabaret On The Sea: Sound of The Spice”

  1. Terharu banget baca postingan ini dan merasa sedih karena baru tau kalo ada Cabaret on the sea di Festival Jailolo. Terima kasih ya kak atas tulisannya yang membuka pengetahuan kita. Dan setuju banget sama kalimat terakhir kamu “seharusnya kita pun sedih karena telah lama melupakan apa sesungguhnya emas sejati dari negeri ini.”

    Ijin aku share ke sosial media Tamasyeah ya, Kak. Agar banyak orang yang tahu tentang indahnya cabaret on the sea 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.