Drama Jakarta


Malam itu, rasa kalut dan penuh kecemasan hinggap. Saya bingung. Suasana lebaran masih sangat kental terasa. Bahkan waktu belum menunjukkan 48 jam dari semenjak hari lebaran pertama. Selama 21 tahun, hari lebaran saya dibalut dan dihangatkan oleh kebersamaan keluarga. Lantas, kali ini dengan jalangnya saya akan menginggalkan itu semua. Keluarga.

Saya tidak benar-benar jelas dalam menceritakan rencana perjalanan saya dengan keluarga, terlebih orang tua. Ketika mereka bertanya mau kemana, saya hanya bisa menjawab akan berplesir ke negara tembok besar, Cina. Dan lantas, rentetan pertanyaan yang membingungkan pun hinggap di telinga “mau ngapain kamu lebaran gini ke Cina? Kakek kamu ada disana, hah? Kapan terakhir kali kamu ketemu nenek di Jawa?”. Saya berasa diberondong dengan peluru-peluru pertanyaan yang sulit ditangkis bahkan tak mungkin menghindar. Selayaknya, saya hanya bisa diam. Enggan mencari jawaban, atau malah tak menemukannya sama sekali. Mungkin, tertawa garing bisa mencairkan suasana, nyatanya bagaikan air dengan minyak yang tak mungkin menyatu, tertawaan saya pun tak digubris oleh si penanya, ibu saya.

Saya berangkat ke terminal kampung rambutan pukul delapan malam, sebelumnya berpamitan dulu dengan keluarga besar. Bahkan saya tak bisa mendengar jelas rentetan pertanyaan yang mereka ajukan. Saya hanya senyum, ketawa kecil, dan banyak banyak menyebut tujuan saya, Cina. Tak ada waktu untuk menjelaskan itinerary, kalau hanya saja mereka mengerti dan itu dianggap sopan, saya menyuruh mereka untuk membuka blog saya yang di dalamnya terdapat rencana besar perjalanan.

Malam terasa begitu melankolis. Jakarta malam itu berkata “kamu meninggalkan aku di saat yang tak tepat, Feb. Aku bebas dari pelukan setiap orang. Kamu seharusnya bisa menikmati ku di saat seperti ini”. Hmm… Jakarta malam itu benar, nyala lampu dan wajahnya yang polos dari kemacetan membuatnya terlihat cantik dan damai. Sayangnya, bus DAMRI yang secara konsisten saya gunakan menuju Soekarno-Hatta enggan meladeni Jakarta malam itu. Dia melaju sangat kencang dan tak sampai se-jam saya sudah sampai di ‘pintu kemana saja’.

Bandara Soekarno Hatta malam itu dibanjiri oleh pelancong berduit. Beda dengan saya yang hanya bermodal tas converse seukuran tas sekolah anak SD. Kalau di tanya pun saya bingung “oh backpacker ceritanya?” oh yeah you could check my ‘backpack’ to make it sure. Ini kedua kali nya saya check in di counter Cebu Pacific, setelah Februari lalu yang juga berplesir sendirian di Filipina. Ini akan jadi kedua kalinya juga paspor saya akan dinodai dengan cap imigrasi Filipina. Perasaan sumringah berusaha dikalahkan oleh antrean yang luar biasa panjang.

Ada juga orang Indonesia menggunakan Cebu Pacific untuk berlibur ke HongKong, jadi mereka juga seperti saya yang akan singgah dulu di Manila. Nasib malang menimpa mereka. Mereka salah mengerti mengenai tanggal keberangkatan mereka. Jika disitu tertulis berangkat tanggal 21 Agustus 2012 pukul 00.30, maka kita harus sudah di bandara pada tanggal 20 Agustus 2012 pukul 10 malam. Nyatanya mereka ketinggalan sehari keberangkatan, dan saya tidak tahu deh apakah tiket ke Hongkong nya pun ikutan ketinggalan.  Ketika sudah di pesawat, saya melihat mereka duduk di belakang saya, entah bagaimana caranya mereka bisa ikut penerbangan itu. Paling sialnya, mereka beli tiket baru yang bisa jadi seharga 200 USD sekali jalan, per orangnya. Harga segitu sudah bisa membawa saya ke seluruh tempat dalam daftar perjalanan saya kali itu.

Penerbangan Jakarta-Manila memakan waktu empat jam. Ketika hendak mendarat, jendela pesawat akan diisi dengan warna kuning oranye. Matahari pagi menyambut kedatangan saya di Manila. Baru kali itu saya memperhatikan Manila ketika akan mendarat. Terlihat beberapa gunung menjulang tinggi di kejauhan. Ada juga perbukitan yang mengelilingi di tepian pantainya. Kilatan sinar fajar mengisi ruang refleksi di laut. Langsung di kepala saya terlintas Rio De Janeiro, walaupun agak berlebihan, tapi ini merupakan awal yang bagus.

Beberapa minggu sebelumnya, Manila dilanda banjir yang diakibatkan oleh badai thypoon. Ngeri kalau sampai badai masih berangsung dan mengakibatkan penerbangan dibatalkan. Tapi selama kita terus berpikiran positif, jalan pasti dilancarkan.

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.