Jadi Penyelundup di Beijing

Rabu, 22 Agustus 2012.

Hari itu saya sangat diberkahi. Sudah didoakan oleh ‘stranger’ dan benar saja, hari itu super cerah tapi udara Beijing sangat bersahabat. Langit biru dengan udara yang sejuk. Seolah saya tidak peduli dengan keadaan diri yang tak bisa mengenali lagi sedang dimana. Saya hanya tahu saya baru saja turun di stasiun subway Gucheng. Terdapat beberapa toko, apartemen, dan perkantoran di sekitarnya. Saya bengong tidak tahu harus bagaimana menghubungi teman yang akan ditebengi.

Hexuan nama nya. Saya hanya bermodalkan nomor telpon nya. Belum pernah pertemu di dunia nyata, bahkan baru berinteraksi beberapa kali lewat situs jejaring traveler bertajuk Couchsurfing. Dari ujung ke ujung jalan saya menjumpai banyak sekali telpon umum, tetapi tidak ada yang bisa digunakan dengan koin. Saya pergi ke toko kelontong kecil, terdapat telepon, hanya saja ibu penjaga toko memandang saya seperti alien karena berbahasa Inggris. Saya hanya bisa tertawa melihat keadaan saya sekarang.

Akhirnya saya terus berjalan hingga menemukan McDonalds. Berharap disana terdapat wireless. Moga-moga bisa mengirim pesan ke teman saya tersebut dan dia langsung meresponnya. Namun kenyataan  berkata lain. Saya tidak mendapatkan akses internet gratis. Saya makin tertawa gila di dalam hati. Kemudian saya celingak celinguk mencari korban untuk ditanyai dan diminta-tolongi. Aha.. saya menemukan cowok dan cewek, kira-kira seumuran saya, sedang asik mengobrol. Sambil mengendap, saya mulai berbasa basi. Syukur lah, si cewek bilang kalau dia bisa berbahasa Inggris. Kemudian saya meminta tolong dia untuk mengirim pesan  ke nomor teman saya itu, namun dengan baik hatinya, dia malah menelpon. Ternyata, saya disuruh menunggu sekitar 20 menit oleh teman cuchsurfing saya tersebut. Glek, rumahnya masih jauh dari situ?

Gucheng terletak di dua stasiun terakhir pada Line 1 Beijing Subway. Itu artinya, daerah ini hampir seperti daerah pinggirannya Beijing. Usut punya usut, ini menjadi daerah industrinya yang dikelilingi pabrik bercerobong. Selama 20 menit menunggu, akhirnya saya bertemu dengan Hexuan yang dia lebih mau kalau dipanggil dengan nama Nicolas. Tau nama Nicolas berasal dari mana? Saya juga gatau dan ga berani nanya. Hihi.. dari stasiun subway Gucheng, kami mesti naik lagi bus dan turun setelah tiga pemberhentian. Kemudian kami masih harus jalan sekitar 1km. Ya ampun.. saya sampai sempoyongan. Tidur tidak cukup di bandara, bawa ransel, dan jalan kaki. Kejutan tidak hanya sampai disitu. Akhirnya kami sampai di apartemen nya Nicolas. Tau ga? Jadi ini apartemen ¾ jadi yang belum banyak penghuni nya. Lift nya saja masih ditutupi papan dan bekas semen masih dimana-mana. Bau khas bangunan belum jadi tercium di setiap sudut nya. Nicolas tinggal di lantai 20, lantai kedua teratas.

Kali ini saya akan menjadi penyelundup di Cina. Jadi, dalam satu kamar/flat, terdapat empat kamar dengan penghuni yang berbeda. Kali itu, dari empat kamar sudah terisi tiga kamar. Tau ga? Saya diberikan satu kamar kosong dan baru oleh teman yang baru saya kenal itu. Pas kamar nya dibuka, hanya tersedia kardus. Ya! Sepotong kardus, lalu teman saya itu bilang “and here it’s your room and that’s your bed”. Rasanya saya mau meleleh. Terharu. Masa saya tidur di atas kardus? Walau terkesan manja, tapi kok saya sedih ya. Namun, untungnya.. Nicolas adalah orang yang sangat baik. Dia memberikan saya selimut tebal untuk alas, dan selimut tipis (yang saya gunakan sebagai bantal). Ruangannya masih berbau semen. Jendela nya tidak bisa ditutup. Tanpa AC pun saya bisa menghirup udara segar dan saya yakin pada malam hari akan seperti AC bersuhu paling rendah. Keuntungan lainnya, terdapat wifi gratis dari kamar Nicolas. Kamar nya berada tepat di depan kamar sementara saya. Kamar mandi nya sharing dengan kedua penghuni lainnya. Okay, mulai sekarang saya sudah resmi jadi penyelundup. Kasta saya memang di atas gelandangan yang tidur di jalan, tapi cukup bisa diciduk jika si pengelola apartemen melakukan sidak (operasi mendadak). Ya.. namanya juga tinggal gratis. *nyengir berdarah*

3 tanggapan pada “Jadi Penyelundup di Beijing”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.