Forbidden City

Forbidden City

Rute hari pertama saya di Beijing adalah Forbidden City. Selain lokasinya yang strategis, jika berkunjung kesini, kamu juga bisa berkunjung ke objek wisata lainnya di pusat kota Beijing. Untuk menuju Forbidden City, kamu bisa naik Beijing Subway Line 1 dan turun di stasiun Tian’anmen, enak nya sih turun di Tian’anmen East.

Jangan kaget kalau kamu akan menghadapi lautan orang di sekitar Tian’anmen Square. Kebanyakan wisatawan yang datang berkunjung adalah warga Cina itu sendiri. Di sekitar nya pun ada beberapa pintu masuk, yang kalau kamu tidak ‘awas’ membaca petunjuk tempat, maka kamu akan nyasar seperti saya ke taman bunga. Ceritanya, saya bersama dua pasangan USA sama sama tidak tahu menahu dimana itu Forbidden City. Akhirnya kami malah masuk ke sebuah taman bunga, dengan tiket masuk 3 Yuan. Saya kaget, kok masuk Forbidden City malah lowong dan Cuma 3 Yuan. Dan, benar saja. Kami salah masuk. Akhirnya kami keluar dan terus berjalan hingga sampai di sebuah gerbang besar dengan lukisan Mao di atas pintu nya.

Bersama ribuan wisatawan, yang sekitar 75% nya adalah orang Cina, kami memasuki tempat yang disebut Tian’anmen Square. Sebuah pelataran luas dengan tembok di sekelilingnya, dan di depannya terdapat sebuah gerbang lagi. Kami masuk gerbang kedua, disana hanya terdapat toko souvenir yang panjang berjejer di pinggir kanan dan kiri. Kami masih sibuk mencari ticket counter. Lalu, kamu terus memasuki gerbang selanjutnya yang juga tiba pada pelataran luas dengan gerbang super besar di depannya. Di bawah gerbang tersebut banyak orang mengantri, dan akhirnya kami menemukan tempat pembelian tiket.

Menurut saya, Forbidden City adalah lambang kemegahan bangsa Cina. Bangunan ini dibangun pada tahun 1406 hingga 1420 dan merupakan bangunan kayu tertua dan terbesar di dunia. Bangunan ini masuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site pada tahun 1987. Yang lebih wooow lagi, bangunan ini terdiri lebih dari 900 bangunan dengan 8800 ruangan. Jadi butuh waktu seharian untuk mengeksplor tempat ini. Bangunan ini dulunya ditempati oleh Dinasti Ming dan Dinasti Qing selama lebih dari 500 tahun. Beberapa harta dan barang berharga dari Forbidden City ini juga sempat dizarah ketika perang dunia kedua dan sewaktu diinvasi oleh Jepang. Namun, banyak yang sudah dikembalikan dan sebagian diamankan oleh pihak Taiwan, yang sekarang berada di National Palace Museum di Taipe.

Hall of Supreme Harmony

Forbidden City adalah sebuah sebutan untuk kompleks kerajaan dari dinasti Ming dan Qing. Di dalamnya terdapat beberapa gerbang, dan bangunan berupa kuil, kamar-kamar peristirahatan kerajaan, dan berbagai macam unsur dari bangunan kerajaan itu sendiri. Nah, sebutan dari tempat ini adalah Palace Museum. Mau tau harga tiketnya berapa? 60 Yuan, atau sama dengan 90.000 rupiah. Dengan harga tiket segitu, kita harus puas-puasin banget main di dalam kerajaan ini. Mungkin kalau kamu gila (di)foto,  kamu bisa bikin koleksi foto di 900 gedung berbeda di kompleks kerajaan ini. Haha

Saya sarankan, jika kamu punya budget lebih, kamu bisa menyewa audio tour.  Nah, disini saya baru tahu yang namanya audio tour adalah mengandalkan alat yang pelacak lokasi atau biasa disebut GPS. Jadi, alat audio tour yang berbentuk kotak tipis itu disertai dengan denah dari Palace Museum. Di denah tersebut tersapat beberapa titik dengan lampu kecil, sebagai indikator dimana tempat kita berada. Audio tour ini akan mendongengi kita dengan sejarah dari tempat yang sedang kita pijak. Narator nya juga akan memberikan rekomendasi, arah mana yang lebih baik kita ambil. Kalau tidak salah, tarif untuk menyewa audio tour ini sekitar 40 yuan. Kalau saya sih kemarin langsung didongengi oleh bule USA langsung. Jadi, pasangan USA yang jalan bareng saya itu baik banget. Mungkin tau bahwa saya gembel (hidup aja jadi penyelundup gelap di apartemen baru jadi), maka dia dengan berbaik hati nya mengulangi apa yang dibicarakan oleh si narator. Audio tour ini tersedia dalam berbagai macam bahasa. Bahkan, kalau tidak salah lihat, ada tersedia juga dalam Bahasa Indonesia.

Yah intinya, berkunjung ke suatu tempat akan lebih bermakna jika kamu tahu mengenai sejarah tempat tersebut. Tak hanya mengagumi arsitektur dan bangunannya yang megah, Forbidden City adalah lambang kegigihan dan keuletan bangsa Cina dalam membangun peradaban. Dengar-dengar pada awal tahun 2000, di sana dibuka Starbuck loh. Namun terjadi perdebatan mengenai komersialisasi situs bersejarah ini. Akhirnya Starbuck tersebut dicopot dari tempat tersebut. Ya, sampai sekarang juga masih terjadi perdebatan mengenai toko souvenir yang ramai berada di pintu masuknya. Saya juga merasa kurang nyaman dengan keberadaannya. Menurut saya sih mengganggu esensi dari kemegahan bangunan kerajaan tersebut. Di sisi lain, pengelolaan sebuah situs memang sangat memakan biaya. Pastinya pihak pengelola punya alasan mengapa pertokoan masih hadir disana.

3 tanggapan pada “Forbidden City”

  1. Pingback: Nara dan Kuil Terbesar se-Jepang | TRIP TO TRIP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.