Hello Stranger: It’s China, man! (Train)

Kompetisi Masuk Kereta

Ini akan menjadi perjalanan terjauh saya di luar negeri dengan menggunakan kereta. Jarak Beijing – Shanghai sekitar 1100km. Ditempuh dengan waktu 15 jam. Teknologi terbaru nya, jarak segitu hanya ditempuh dengan waktu kurang dari 5 jam saja. Ada juga sih, kelas dua nya dengan kecepatan 8 jam. Maklum lah, budget terbatas jadi saya ambil kereta malamnya. Untungnya, berkat bantuan host di Beijing, saya mendapatkan tiket ‘hard seat’ yang tinggal tersisa satu kursi. Seluruh tiket sleeper pun sudah habis. Apajadi nya kalau saya kehabisan tiket ‘hard seat’ nya? ya saya harus berdiri dari Beijing sampai Shanghai. Hiii ngebayanginnya aja ngeri.

Tiket Beijing-Shanghai

Hari terakhir di Beijing saya habis dengan dengan banyak leyeh-leyeh di tempat host. Baru lah jam 11 siang saya baru beranjak dan sialnya tidak sempat berpamitan dengan host. Kemudian saya langsung bergegas ke Gucheng Subway Station dan menuju stasiun terdekat dengan Beijing Railway Station. Kemudian, untuk menambahkan uang kas, saya menukarkan Beijing Card yang masih sisa 10 yuan dengan deposit 20 yuan. Yeah!

Saya berjalan kaki entah di stasiun apa namanya. Ketika keluar dari stasiun subway di belakangnya ada observatorium astronomi kuno. Saya terus berjalan hingga menemukan sebuah gang kecil. Saya terus ikuti dan tiba lah di seberang nya Hotel Marriot. Disana terdapat beberapa kedai dan warung. Saya membeli air mineral yang ternyata harganya setengah lebih murah dibanding harga normal. Disana juga terdapat beberapa kedai masakan halal. Terlihat beberapa wanita cina yang memakai kerudung. Aneh rasanya memandang wanita berwajah kuning sipit memakai kerudung.

Saya terus berjalan dan sampai lah di Beijing Railway Station. Udara saat itu panas sekali. Saya tidak sanggup meliihat antrean dan kerumunan orang di sekitar pintu masuk dan pintu keluar stasiun kereta. Lalu saya masuk ke McDonalds nya. Disana makan siang sebentar dan dikejutkan oleh pengemis yang keluar masuk. Luar biasa bikin kaget nya. Pengemis di Beijing lebih agresif dibanding di Jakarta yang menjual kemelasan. Disana mereka tak ragu mencomot makanan atau minuman yang ada di meja. Tak hanya pengemis, di sekitar Beijing Railway Station ini juga banyak sekali transmigran yang notabene menjadi gelandangan. Mereka berkumpul di depan pintu keluar stasiun, ada yang sambil tiduran dengan alas kardus rombeng yang berjejer panjang. Ada pula dari mereka yang mencoba tindak kriminal, peruntungan pulang ke kampung secara gratis. Jadi mereka colong-colongan masuk lewat pintu keluar. Mereka masuk disaat banyak orang keluar dari pintu kedatangan. Mencoba mengelabui petugas. Sayangnya, usaha pengemis tersebut gagal. Dia sempat gontok-gontokan dengan petugas wanita. Bahkan sampai petugas wanita tersebut didorong dan terjatuh. Saat itu saya baru sadar dan berkata di dalam hati “Welcome to China”. Dimana setiap orang berjuang mendapatkan apa yang mereka mau, bagaimana pun caranya.

Pengalaman tadi membuat saya sedikit horor naik kereta jarak jauh di gerbong kelas dua pula. Saya selalu berharap, nanti akan duduk bareng bule atau anak muda lokal. Setelah menunggu lama, gerbang pintu masuk jalur satu dibuka. Segerombolan penumpang mengerubungi pintu masuk dan kemudian dengan sangar nya mereka berebutan melintas begitu saja. Begitu keluar dari ruang tunggu dan masuk ke peron nya. Banyak penumpang yang berlari, entah karena latah atau gimana, saya jadi ikutan berlari layaknya berlomba mencari tempat duduk. Setelah saya sadari, gerbong kereta Beijing-Shanghai ini puanjang sekali. Ada kali 20-30 gerbong. Sementara itu, gerbong saya berada di paling depan. Rasanya berlari menuju kereta itu seru banget loh. Berasa di film-film. Padahal mah, kereta nya jalan juga engga. Malahan ngetem sampai setengah jam.

Sesuai harapan, satu persatu orang yang duduk di samping dan depan saya datang, mereka semuanya anak muda! hahaha salah seorang dari mereka sedari awal datang menyapa saya, dan nampaknya mengenali bahwa saya adalah bukan warga lokal. Kami hanya menyapa seperlu nya, dan senyum senyum. Sisa nya, tidak sadar kalau saya bukan orang lokal (padahal mau teriak, wooy gue item wooy, gue ga sipit woy!!). Ketika kereta akan berangkat, ada seorang bule yang duduk di deretan depan saya. Nampaknya dia bisa berbaur dengan kemampuan bahasa mandarin nya yang…. cukup impresif! Sementara saya, diam seribu bahasa.

berikut obrolan mereka yang saya (sok) artikan ke dalam bahasa Indonesia. ibaratnya kamu lagi nonton film yang bilingual.

Cowo 3: Eh, lucu deh di depan kita ada orang asing bisa bahasa mandarin!

Cowo 2: Iya, lucu ya. hihihi

Cowo 1: eh lo ga liat di depan kita? itu juga orang asing! hahaha

Serempak semuanya nengok ke saya. Kemudian saya nyengir lebar 😀

Cowo 2: Di.. dia? Lo tau dari mana? *sambil nunjuk nunjuk ke saya*

Cowo 3: lah tadi kita sapa-sapaan kok. Duh, gue lupa lagi dia dari mana.. In.. Indo..?

Saya: IN-DO-NE-SIA *senyum lebar lagi*

Semua: Ooohhh hai’ hai’…

Sepanjang perjalanan mereka sangat antusias mengobrol dengan saya, layaknya species yang baru ditemukan saja. Sayangnya, mereka mengalami kendala bahasa. Duh bahasa Inggrisnya.. capek ngimbanginnya. Tapi saya senang banget mereka sangat berusaha untuk terus bisa mengobrol dengan saya. Walau sering kali mereka ketawa-ketawa karena kebodohan mereka. Tak hanya ketiga cowo tersebut, dua orang cewek yang ada di sebelah dan depan saya juga ikutan ketawa-ketawa. Nampaknya mereka sama sekali tidak bisa berbahasa inggris. Doa saya benar-benar terkabul, bisa duduk bareng anak muda lokal, yang seru dan sangat ramah.

Uniknya, mereka baru sama-sama ketemu di kereta, dan mereka sudah memulai obrolan layaknya seorang sahabat yang lama kenal. Beberapa dari mereka ada yang baru saja berlibur dari Beijing, ada juga yang habis berkunjung ke rumah saudara. Intinya mereka tidak tinggal di Beijing. Ada yang kuliah di Hangzou, ada yang di Shanghai, ada yang di Souzhou. Wah kenalan makin banyak. haha Oh iya, tambah lagi satu cewek wonderwoman yang saya temui di gerbong tersebut. Seorang cewe lokal yang belajar bahasa Jepang di Shanghai. Dia tidak punya tiket duduk dong! Dia berdiri aja gitu selama perjalanan. Walaupun kadang dia nyolong-nyolong duduk ketika ada orang yang pergi ke belakang.

Waktu itu, untuk mempromosikan pariwisata Indonesia, saya iseng mau ngerjain orang-orang Cina ini. Berhubung negara nya daratan yang luas banget. Tak punya pantai pasir putih yang halusnya kayak bedak bayi dan biru nya bikin mata jereng, maka saya iseng mau nunjukkin foto liburan saya di Lombok, tepatnya Gili Trawangan dan Meno. Begitu mereka melihatnya, whooaaa reaksinya luar biasa! hahaha mereka kegiarangan malah sampai teriak-teriak. Sangat excited sepertinya. Saya cuma bisa mesem-mesem. Emang enak dikerjain. Mupeng, mupeng deh lo!

Ternyata geng di depan kami lebih rame lagi. Malahan ada seorang cowok dan cewek lokal yang jadi MC dadakan. Ceritanya mereka bikin kuis gitu untuk menghibur para penumpang yang mengantuk. Menghibur? awalnya sih menghibur! lama-lama orang juga teler lah! itu jam satu pagi dan mereka masih teriak-teriak layaknya sedang on air di acara TV. Bukan main ya!

Sedih nya, kami berpisah begitu saja. Habis mereka ga punya facebook sih. hehe Ketika keluar kereta, kami semua berpisah. Layaknya seperti di sebuah film, setelah kami melakukan misi bersama di kereta tersebut, kami keluar kereta bagai orang yang tak lagi saling mengenal, yang entah kapan bisa bertemu lagi. Hiks.. sedih. Sementara itu, saya kebingungan gimana caranya kasih tau host saya kalau saya sudah sampai dan memberi tahu tempat menunggu. Hello! It’s China. Jutaan orang keluar dari pintu keluar stasiun ini! hahaha

Sebuah Taman yang Saya Datangi Sebelum ke Stasiun

You may also like

7 Komentar

    1. Halo Hilda,
      waah.. kebetulan saya tidak beli makan di sana. tp kamu bisa coba bawa yang instan, di sana ada air panas kok. tapi soal harga saya rasa tak begitu mahal kok 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.