Chinese Hospitality

Gerimis Mengundang di Shanghai

Saya melihat banyak orang yang memandang sebelah mata mengenai orang Cina Daratan. Banyak yang meremehkan barang-barang buatannya. Banyak yang menertawai faham yang dianut, dan masih banyak lagi kejelekan yang lain. Saya pun sering kali menganggap rendah barang-barang buatan Cina. Namun, oh meeeeen… zaman sekarang, barang apa sih yang tidak diproduksi oleh Cina? bahkan iPhone dari Apple pun, yang dibangga-banggakan sebagai produk terkeren abada 21 ini dibuat di China!! Kegigihan bangsa ini sudah teruji sedari berabad-abad lalu. Dan saya menganggap, bodoh banget ya Jepang dulu berani menginvasi Cina? bahkan sekatang Amerika Serikat pun takut ke pada Cina, sebagai pemegang kendali pasar dunia.

Ups, bukan masalah konspirasi atau urusan negara-negaraan yang mau saya bahas. Kali ini, saya mau menceritakan pengalaman saya bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari orang lokal di Cina Daratan. Perjalanan kemarin, saya berkesempatan untuk tinggal bareng dan dijamu oleh keluarga Cina asli Shanghai. Semua itu cukup membuka wawasan dan mengubah persepsi saya terhadap orang Cina yang sebelumnya saya asosiasikan sebagai orang yang acuh tak acuh terhadap sesama, pelit, dan berjiwa kompetisi yang kuat.

Semua ini berawal dari interaksi saya di sebuah jejaring sosial traveller, Couchsurfing. Saya mencari host di Shanghai dan menemukan lah seorang teman baru bernama Jason. Saya lihat, pengalamannya menampung imigran macam saya ini baru sedikit, tepatnya hanya sekali. Jason adalah seorang anak muda, yang ternyata umurnya lebih muda dari saya seminggu. Dia kuliah di Shanghai International Study University dengan jurusan sastra inggris. Pertama kali bertemu langsung dengan nya adalah ketika dengan baik hati nya dia menjemput saya di Shanghai Railway Station. Ekspektasi saya mengenai jurusan yang dia pelajari, yaitu sastra inggris, sangat lah besar. Saya berharap dia bisa cas-cis-cus berbahasa inggris, nyatanya? uhmm… bayangin aja sendiri orang inggris disuruh ngobrol pake bahasa cina.

Pertemuan di stasiun membawa saya ke rumah kakek-nenek nya di daerah Hangqiao. Walah.. lagi-lagi saya dapet host yang rumahnya di stasiun-stasiun terakhir subway nya.  Saya bingung, kenapa saya malah dibawa ke rumah kakek-nenek nya Jason. Lalu, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah dia tidak memiliki orang tua, mau nanya tapi gak enak. Huf… Saya ikutin saja skenario nya.

Selain disambut hujan, saya juga disambut oleh keramah-tamahan dan kehangatan pasangan kakek-nenek yang terlihat sangat serasi. Saya melihat foto mereka sewaktu muda terlihat sangat gagah dan cantik. Walaupun sudah tua, namun badan kakek-nenek Jason terlihat masih bugar. Mereka tinggal di flat yang seperti nya itu khawasan untuk orang-orang yang sudah berusia lanjut. Belum sempat beberes, Jason mengajak saya makan siang. Uhum.. kebetulan saya cuma makan angin dan kue bulan yang ga enak itu selama di kereta 15 jam perjalanan. Kemudian saya, Jason, dan neneknya berjalan ke arah keluar kompleks perumahan tersebut. Kami memasuki semacam kedai makanan lokal yang berwajah modern. Entah deh, saya bingung mau pesan apa, semua menu nya dalam tulisan Cina. Saya cuma bilang kalau saya mau Chicken sambil nunjuk-nunjuk gambar.

Kedai Makanan Lokal

Suasana gerimis hujan, ditambah makanan hangat yang hummm terlihat menggiurkan, terasa sangat sempurna. Oh ya! lebih sempurna lagi karena saya ternyata ditraktir oleh neneknya Jason. Saya pun hanya bisa mengucapkan xièxiè. Mereka hanya ketawa sambil ngangguk-ngangguk. Sedikit mengenai makanan Cina, Jason memesan cemilan lokal, namanya Shengjianbao. Duh.. itu tuh enak banget.. kalau digigit akan keluar minyak-minyak enak gitu (minyak babi kali yee), dan di dalamnya itu ada daging yang uhmm enak. Ketika saya tanya Jason “what’s this? chicken? beef or cow? or….. p-o-r-k?”, dia menjawab “I don’t know he he he…” sama sekali engga menjawab!! hap-hap-hap..

Ada hal lain juga yang membuat saya meleleh akan kebaikan nenek nya Jason. Masa kaos kaki saya, yang… bau banget itu, dicuciin sama dia. Malu pisan deh… Abis nya, kan saya tinggalin tuh kaos kaki di luar rumahnya, terus pas saya balik jalan-jalan, tau-tau kaos kaki saya sudah kering dan wangi. Katanya udah dicuciin sama neneknya Jason. Selain itu, ketika baru datang, Jason memberitahukan bahwa saya akan tidur di bangku panjang ruang tamu. Okay, sangat tidak masalah kok, selama tidak tidur di lantai tanpa alas. Ketika malam tiba dan saya baru pulang keliling-keliling Shanghai, betapa kagetnya saya kursi panjang tadi sudah berubah menjadi tempat tidur double bed! Eng-ing-eng… emang orang Cina ajaib ih! bisa membuat suatu barang jadi multi fungsi begitu. Benar-benar jadi tempat tidur yang super nyaman, ditambahin kasur empuk dan selimut hangat. Uhh…. makin betah! Sayangnya saya cuma semalam disitu.

Saya pun ditemani Jason seharian keliling Shanghai. Kebanyakan kami jalan kaki dan itu bener-bener lebih capek dibanding ke Greatwall! Kami menyusuri Jingshan Temple lalu jalan kaki ke french concession. Sebelumnya kami juga sudah mondar-mandir di Nanjing Road hingga ke Pudong Area. Lucu nya, setelah kami berjalan-jalan di french consession dan mengambil rute Shanghai Metro secara random, kami turun dan berhenti di-entah-dimana, yang bahkan Jason bilang “actually this is my first time in this place, never been here before”. Saya cuma bisa ketawa getir campur miris. Sangking terlalu cepatnya pertumbuhan kota Shanghai ini, sampai-sampai orang lokal nya macam si Jason ini sampai keder di kota nya sendiri.

Malamnya, setelah berjalan hingga kaki melepuh, dan santap malam di kedai mie yang luar biasa enak, kami nonton pertandingan bola di ruang tamu, dengan ranjang modifikasi yang nyaman. Yah.. berhubung saya tidak terlalu memantau bola, apalagi komentatornya ngomong bahasa mandarin, saya tinggal tidur saja deh. Ketika bangun, pagi nya, saya langsung disuguhi Shengjianbao lagi. Nampaknya Shengjianbao di Cina sudah menjadi semacam bakwan atau gorengan lainnya. Tapi beneran, ini enak banget! walaupun identitas daging di dalam lapisan terigu gorengnya itu masih abu-abu. hihi

Setelah beberes dan berkemas. Jason mengantar saya ke stasiun Metro terdekat. Kami berpisah setelah Jason membantu saya membeli tiket Metro dan ucapan terakhirnya adalah “then.. see you again, I don’t know where and when”. Selama di Metro, saya mengawang. Mikirin segala kebaikan yang baru saja dialami secara kilat. Pengalaman dua hari yang sangat berkesan. Hiks.. yang paling sedih adalah saya tidak bisa memberikan apa-apa kecuali kartu pos. Sedih banget! 

Hingga sesaat sebelum saya take off di Bandara Pudong, saya terus-terusan mikirin semua kebaikan yang diberikan oleh, you know.. you can call it pure stranger! Pengalaman tadi membuat saya susah move on. Sampai-sampai ketika sampai di Manila, saya cuma bisa bengong dan gak ngapa-ngapain.

You may also like

5 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.