Up In The Air: Dua Hari Jadi Manusia Bandara

Pudong Airport

Pernah nonton film Up In The Air? Sebuah film yang bercerita tentang seorang pria yang berprofesi sebagai pemecat karyawan. Pekerjaannya tersebut mengharuskan dia untuk selalu berpindah kota di berbagai negara bagian di Amerika Serikat. Mobilitasnya yang tinggi dengan berbagai kota yang berjauhan membuatnya sangat familiar dengan kata ‘packing’ dan ‘flight’. Kedua hal tersebut juga sangat erat hubungannya dengan ‘airport’. Nah, sebenarnya bukan ini yang mau saya ceritakan. Namun buat saya pribadi sih film tersebut cukup membakar semangat dan membuat saya berangan-angan menjadi seperti dia.

Boarding pass PVG – MNL

Yep, setidaknya seminggu ini saya bisa menghayal hidup seperti Up In The Air. Pindah satu kota bahkan pindah negara dengan waktu yang tidak berjauhan membuat saya juga familiar dengan flight, packing, dan saya menjadi manusia bandara! Secara harfiah loh ya saya benar-benar jadi manusia bandara. Seminggu sebelum saya sampai di Manila, saya menginap di bandara Beijing, kemudian setelah terbang dari Shanghai, saya tergeletak lemas di bandara kota Manila. Hampir seharian saya tidur-tiduran malas di muslim prayer room atau mushola. Kebetulan itu tempat paling nyaman, tidak dingin, dan sepi. Yang solat pun bisa dihitung pakai jari.

Selain menunggu flight pada malam hari nya, saya sengaja tiduran hampir seharian disana akibat kelelahan seminggu jalan di Cina tanpa istirahat. Kebanyakan waktu yang saya habiskan di Cina adalah untuk berjalan kaki, dan dari lima hari itu, dua hari nya saya menggembol barang bawaan dan semalaman perjalanan jauh di kereta. Jadi, saya memberikan hak tubuh saya untuk merenggangkan otot-ototnya. Lagipula, saya juga sudah mati gaya di Manila. Rasanya tidak semangat cari tempat baru, apalagi mengingat keuangan sudah keritis. Masih ada empat negara lagi yang mesti saya datangi untuk dua minggu ke depannya. Akhirnya saya hanya ke mall di sekitar Ayala Center, Makati. Itu pun untuk makan siang dan mengerjakan pekerjaan kantor yang terbawa jalan.

Kemudian datang lah jam 9 malam di Ninoy Aquino terminal 3. Penerbangan saya malam itu menuju Ho Chi Minh City dan akan mendarat di sana sekitar jam 12 malam. Waduh… saya sudah banyak mendengar rumor soal taksi penipu di Ho Chi Minh dan lagi pula saya sendirian juga, jadi tidak bisa berbagi tarif taksinya yang kalau tidak salah sampai 300 hingga 400 ribu Vietnam Dong hingga ke pusat kotanya. Coba kalian bandingkan, taksi : bus itu sama dengan 400,000 : 4,000 dong. Jadi lah saya berpikir hemat nekatnya untuk lagi-lagi jadi manusia airport dengan tidur di bandara.

MNL to SGN

Sesampainya di Ho Chi Minh, saya langsung ke money changer. Sial!!! mereka teriak-teriak dengan harga terendah. Ketika saya cek uang yang saya tukar, kok saya rugi sekitar 30.000 dong. eh ternyata ada tanda bintang (*) nya. Jadi ada potongan komisi sebesar 20%. Ih rasanya mau bakar seisi bandara! Impresi saya dengan kota ini jadi tambah buruk, setelah sebelumnya banyak juga cerita tidak mengenakan dari sahabat-sahabat saya yang awal tahun ini ke kota ini.

Ternyata bandara Tan Son Nath kecil banget. Saya cuma bisa jalan-jalan ke lantai atasnya yang sepi. Kemudian dapet tempat tiduran lumayan empuk, tapi ya, yang namanya di lantai dua, angin nya itu loh… semriwing banget. Saya tiduran di sofa Burger King di pintu keberangkatan di lantai 2 nya. Modal berdoa saja, karena saat itu tidak ada yang jagain tas, jadi saya mengikatkan segala tali, dan kamera pun saya masukkan baju. Untung ya… sampai langit Saigon terang, semuanya aman-aman saja. Tidur saya juga nyenyak tuh. Walaupun kaki pegel gak bisa selonjoran dan badan dihajar angin.

Sambil mikir ulang, dua hari itu hidup saya cuma sekedar terbang dan bandara, gak ada kehidupan lain dan bahkan bersosialisasi dengan seseorang. Jadi, khayalan saya untuk ber’Up-In-The-Air’ sudah kesampaian gak ya?

5 tanggapan pada “Up In The Air: Dua Hari Jadi Manusia Bandara”

  1. ini yang lagi aku cari feb, aku ntar ke beijing nyampe sana jam 1 malem, check in hotel jam 12, mau naaaaanyaaaa 🙁 gimana yah tidur di bandara sana? atau punya solusi gak kira-kira kemana gitu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.