Saigon: Cerita Dormitory

Evening in HCM

Saya terbangun menyadari bahwa suhu udara di dalam kamar terasa sangat dingin. Suara obrolan dalam bahasa Cina pun mulai terdengar. Rupanya rombongan Cina sudah balik ke kamar. Di samping sudah ada Pin yang sedang membaca lonely planet berbahasa mandarin dan di sebelahnya ada Lin yang sedang asik internetan di laptop. Dua orang cowok Cina sedang tidur di ranjang atas, sementara seorang cewek Cina sedang sibuk membereskan barang-barang.

Kemudian saya menyapa Pin yang selalu dengan atusias ingin mengobrol dengan saya. Kami berbagi cerita tentang jalan-jalan seharian tadi. Sambil beberapa kali obrolan terputus karena Pin harus menanyakan dulu ke Lin tentang kata yang akan dia gunakan. Di tengah obrolan, Pin berkali-kali meminta maaf karena bahasa Inggrisnya tidak baik. Saya sangat mengerti itu. Hingga terlontarlah kalimat yang semestinya tidak keluar dari mulut saya “ya.. I understand many Chinese feel difficult to speak English”. Tiba-tiba cowok Cina di atas saya nyamber bagai geledek “Why??”, lalu saya menimpali “because your letter is different”, “No!!!”. Kemudian hening. Saya ga berani menimpali lagi. Ampun.. ampun.. udah sok tahu. Obrolan saya dan Pin terputus. Saya juga jadi ga berani ngomong. Rasanya suasanya di ruangan itu jadi “awkward” banget. Ih amit-amit deh jangan sampe salah ngomong lagi.

Hari semakin sore, dan sebelumnya saya diajak untuk makan malam bareng geng Cina. Tau gini keadaannya mending saya batal makan malem bareng. Kan suasana saya dengan cowok Cina itu lagi bersitegang. Namun ya mau gimana lagi, saya ga bisa menolak atau membatalkan janjiannya, malu dong. Hehe

Akhirnya kami segerombolan keluar dari dormitory. Saya mengikuti dari belakang seakan ingin kabur. Hingga kemudian si cowok yang berdebat dengan saya tadi menyapa dan mengajak kenalan. Well, okay! Suasananya jadi mencair. Dia memperkenalkan namanya adalah Kim. Di rombongan Cina ini, dia yang paling jago berbahasa inggris. Asik juga ngobrol sama dia. Kami banyak bertukar pikiran.

Baru tiga hari sebelumnya saya meninggalkan Cina, tapi ketemu lagi sama orang-orangnya di Vietnam. Beda nya, kali ini saya benar-benar berinteraksi dan bertukar pikiran. Kalau sebelumnya hanya mengobrol dengan satu orang saja, host saya di Shanghai.

Pada dasaranya ke lima orang Cina ini awalnya tidak saling mengenal, bukan teman sepemainan, atau ada hubungan darah. Mereka adalah individu-individu yang tidak sengaja ketemu di stasiun kereta, terminal bus, dan dunia maya, hingga terkumpulah lima orang ini yang kemudian jalan-jalan bareng dari utara Vietnam dan hingga ketemu saya di selatan Vietnam. Oh iya, dua dari lima orang itu adalah suami istri, jadi tiga orang tidak saling dekat bertemu dengan satu pasang suami istri.

Jalan Sore

Malam itu kami habiskan dengan muter-muter cari tempat makan. Sempat menunggu pasar malam di Ben Thanh dan ternyata masakannya adalah seafood. Bukan karena alergi seafoodnya, tapi karena alergi harganya, jadi kami batal makan di pasar malam itu. Kemudian kami melipir ke Pho 24. Pas liat menunya.. eh gila mahal juga. Yang kayak gitu di Indonesia juga ada cabangnya. Saya mending cari Pho di pinggir jalan, lebih original. Akhirnya kami makan terpisah, tiga lainnya makan di Pho 24, saya kim dan pin mencari alternatif murah. Kami makan mie goreng di pinggir jalan. Padahal tadinya saya mau dikerjain dengan makan berduaan aja dengan Pin. Ini semacam saya dijodohin gitu deh sama geng mereka. Aduh sempet-sempetnya..

Saya, Pin, dan Kim duduk ngemper di pinggir jalan. Menunggu mie gorengnya mateng, saya dan Kim terus ngobrol. Sesekali Pin nimbrung. Sewaktu memesan saya sempat bilang ga mau pake ‘pork’. Kemudian Kim bertanya kenapa saya tidak mau ‘pork’. Saya bilang ya karena dilarang agama. Hingga kemudian dia bertanya “apa agama mu?”. “I am muslim” jawab saya. Dia langsung terkejut! “ini pertama kalinya saya ketemu muslim secara langsung”. “are you kidding me?”. Hahaha terus saya tanya balik dong “do you have religion?”, dia langsung jawab “no I don’t, that’s why I am travelling”. Obrolan selanjutnya dia banyak bertanya mengenai islam. Saya pun bertanya mengenai komunis dan berbagai kontroversi tentang Cina. Dia sempat mengungkapkan mengenai kekesalannya tehadap pemerintahan ‘yang seperti itu’. Di sisi lain, saya menganggap paham negara nya ‘cukup keren’.

Akhirnya kami kami kembali ke hostel. Semua orang sibuk packing barang-barangnya. Geng Cina akan meninggalkan Saigon untuk ke Siemreap jam setengah enam pagi. Bule Aussie naik ke atas Vietnam lalu balik ke Sydney. Satu bule Inggris juga mau ke Na Trang. Dan satu bule Inggris yang mirip Adam Levine ke Phom Penh jam 8 pagi. Nampaknya gak ada alasan buat saya untuk tinggal lebih lama di Saigon. Tinggal lah saya yang berangkat paling belakang dan menyaksikan seisi dorm kosong.

Dorm di Nga Hoa Hostel
Dorm Mate

 

 

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.