No Plan for Phnom Penh

Monks walk in front of Palace

Phnom Penh, 30 Agustus 2012. Sebenarnya saya tidak mempunyai rencana yang jelas di kota ini. Saya asal tunjuk saja objek mana yang mau saya datangi. Saya seenaknya jalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Tanpa bermodalkan peta, saya sering-sering memperhatikan papan penunjuk jalan. Kamis pagi, sekitar ham 7 pagi, saya sudah menyusuri Sihanouk Boulevard. Jalanan masih sepi. Toko dan perkantoran masih belum buka. Saya sempat duduk-duduk dulu di taman depan Independent Monument sambil menyantap cemilan yang dibeli di abang lewat. Kemudian mengambil gambar monumen tersebut dan melanjutkan jalan kaki ke arah Norodom Boulevard.

Preah Norodom Boulevard

Saya terus jalan. Melewati sekolah-sekolah yang mulai ramai. Salah satu jalanan utama di ibu kota Kamboja ini pun mulai dipadati kendaraan bermotor. Matahari semakin naik dan udara semakin terik. Seperti sebuah petunjuk, tiba-tiba tulisan “Central Market” di papan penunjuk jalan bersinar terang. Saya terus mengikuti arah petunjuk jalan tersebut. Kemudian tiba lah saya di sebuah bangunan unik berwarna kuning putih.

Central Market Phnom Penh

Memasuki pelataran Central Market, saya disambut oleh deretan pedagang yang sedang membuka kios nya dan menjajakan barang dagangannya. Kebanyakan adalah souvenir unik untuk oleh-oleh. Tumpukan kaos dengan berbagai macam desain siap ditawar. Saya langsung menghampiri pedagang kaos secara acak. Mulai tanya-tanya harga dan didapatilah harga 4 USD per kaos. Untungnya sikap oportunis saya selalu muncul di saat begini. Langsung saya tawar 2 USD dan si pedagang tidak keberatan. Mau nawar lebih murah sih gak tega. Saya pilih baju bergambar tintin di Angkor Wat dan Baju peta dengan warna bendera Kamboja. Setiap barang dagangan di sana terus digilir. Kemudian saya coba-coba menawar souvenir gantungan kunci, eh dapet 1 USD untuk 6 buah. Saya langsung beli 2. Terus berjalan ke dalam, saya menemukan penjual buku. Di sana berjejer banyak sekali Lonely Planet (bajakan), yang saya cari adalah LP South East Asia. LP tersebut dipatok harga 10 USD yang kemudian bisa ditawar hingga 7 USD. Hmm lumayan, walau agak malu sih beli bajakan hehehe

St. 30

Lonely Planet South East Asia ini bisa jadi bekal saya untuk kota-kota yang akan saya tuju, selain itu bisa juga jadi senjata pertolongan pertama. Berhubung sangking tebalnya LP ini (1000 halaman++) jadi bisa multi guna. Bisa jadi bantal, bisa juga untuk nimpuk anjing. Di sisi lain, saya bawaan saya nambah sekitar 2 kilo!!  Saya akui pagi itu merupakan pagi dosa. Pagi-pagi sudah kalap di pasar dan mengeluarkan uang banyak. Tapi saya puas! ini merupakan tempat termurah untuk belanja selama saya travelling! Gokil lah! makin cinta dengan Phnom Penh 😀

Sehabis belanja, agenda berikutnya adalah menengok Royal Palace. Dilema banget, apakah saya harus masuk Royal Palace atau National Museum. Pokoknya saya cuma mau masuk salah satunya saja. Kenapa? untuk irit duit! Sambil berjalan, sambil mikir. Mending masuk Royal Palace (6,5 USD) atau masuk National Museum (5usd). Hingga saya tiba di depan National Museum dan akhirnya cuma foto-foto dari depan. Kemudian saya berjalan ke depan Royal Palace, letaknya memang sebelahan dengan National Museum. Di halaman depan istana Kamboja ini ada halaman luas yang dikerubungi oleh burung dara. Bukannya malah masuk, saya malah keaskina foto-foto di depan Royal Palace. Puas foto, saya masuk ke dalam istana. Di loket tiket saya bimbang mau beli atau tidak. Di sisi lain saya pakai celana jeans pendek di atas lutut. Makin males aja kalau mesti nyewa-nyewa sarung. Akhirnya…. saya gak masuk satu objek pun. Jdeeer!! Alasan dalam hati “Royal Palace di Bangkok lebih luas dan megah kok.”

Birds in Royal Playground
National Museum
Viet-Cambodia Monument

Saya keluar Royal Palace dan gak tau mau kemana lagi. Akhirnya saya jalan sesuka hati. Di situ saya menemui taman di dekat monumen Vietnam-Kamboja. Saya membuka LP yang baru dibeli. Mencoba mempraktekannya dan mambaca informasi mengenai terminal bus. Baru keingetan harus segera membeli tiket bus, hari itu juga saya harus bergegas ke Siem Reap. Opsi pertama saya adalah naik bus yang kemarin mengangkut saya dari Ho Chi Minh City dengan tarif 8 USD, letak pool bus nya ada di dekat National Stadium, dan mungkin bisa mampir, hanya saja agak jauh dari Royal Palace. Opsi kedua adalah mencari alternatif bus lain, kata teman saya yang awal tahun lalu ke Phnom Penh, Wanchuy, bilang kalau harga tiket bus akan lebih murah di terminal bus nya langsung. Saya kemudian mencoba mencari radar terminal bus di peta LP. Ternyata ada! Namanya Phnom Penh Sorya Bus. Letaknya di Central Market. Wadaw! saya mesti balik lagi ke Central Market kalau begitu. Sebuah opsi yang lebih baik dibanding jalan kaki ke Olympic Stadium.

Di tengah terik kota Phnom Penh yang sangat sangat panas. Saat itu suhu udara sekitar 35° C. Sambil jalan tertatih tatih, saya memasuki jalan kecil lain untuk menembus ke Preah Norodom Boulevard. Di jalan kecil tersebut saya tidak sengaja menemukan berbagai macam toko-toko unik dan lucu. Ada juga beberapa toko buku, menjual buku-buku import yang bekas. Koleksinya banyak dan keren-keren. Saya melanjutkan jalan kaki dan akhirnya nembus di Preah Norodom Boulevard. Ketika nyebrang jalan, saya malah ketemu dengan Indonesia Embassy. Bentuk kantor kedutaan Indonesia di Phnom Penh hanya seperti rumah, dijaga oleh seorang satpam.

Saya melanjutkan jalan lagi dan mencoba masuk ke sebuah jalan kecil. Asumsi saya, jalan-jalan di Phnom Penh ini berblok dan saling tembus satu dan lainnya. Benar saja, dari kejauhan saya bisa melihat bangunan unik Central Market tersebut. Sempat masuk dulu ke pasar dan muter-muter. Di sana saya tersesat dan bertanya ke toko buku yang tadi pagi saya datangi. Berkat panduannya, akhirnya saya tiba di Phnom Penh Sorya Bus Terminal. Patokannya adalah pom bensin Total. Di sana tak ada calo yang mengerubungi layakya di Terminal Bus Kampung Rambutan. Saya langsung ke loket dan menanyakan jadwal bus ke Siem Reap. Dengan mengejutkannya, jadwal yang tersedia adalah jam 12.30 dan jam 15.00. Rasanya memang tak ada pilihan. Perjalanan memakan waktu 8 jam lebih. Saya tidak mau kesasar kalau sampai pada dini hari. Jadi saya nekat ambil tiket bus jam 12.30. Padahal saat saya di loket, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Saya belum packing. Saya belum mengurus pembayaran hostel. Jarak dari terminal bus ke hostel yang lumayan. Wah pokoknya amazing race banget deh!

Map of Phnom Penh

Saya langsung lari dan mencari ojek. Kebetulan ada ojek yang langsung nangkep kode kebingungan saya. Setelah tawar menawar harga sambil memasang tampang ‘sok’ gak butuh, akhirnya kami deal dengan harga 1,25 USD. Pas sudah naik motor, saya baru inget, saya tidak memegang alamat hostel. Saya lupa nama jalannya yang pake nomor. Saya cuma ingat letaknya dan satu hal, saya cuma ingat kata Monivong. Untung saja abangnya ngerti dan berkat ingatan saya yang tajam akan setiap lekuk kota ini akhirnya saya sampai di White Rabbit Hostel (12.10). Di sana saya langsung naik ke lantai 3, tempat kamar saya. Saya langsung mengeluarkan isi tas yang berisi belanjaan dan mengisinya dengan pakaian-pakaian yang saya titip di kamar. Entah kekuatan apa yang masuk ke saya, dalam waktu lima menit packing selesai (12.15). Saya turun ke bawah dan menyelesaikan pembayaran hostel (12.20). Untung saja ada ojek mangkal di depan hostel, langsung saya naik tanpa ba-bi-bu. Ketika sampai di Bus Terminal si abang ojek cuma meminta 1 USD, langsung saya keluarkan dan kepret dollar itu ke abangnya “neh bang makasih!” (12.25). dan mission complete!! Saya sudah duduk manis di bangku tunggu. Kebetulan bus masih memanaskan mesin. Ada waktu buat saya untuk membeli cemilan di mini market. ffiiuuuhh..

Sambil senyum-senyum saya menertawai hari ini. Kenapa banget sih hari ini? diisi sama kegiatan random. Pikiran sering skip. dan terakhir, bisa-bisanya saya melakukan paket ekspress pindah kota kayak gini! Bahkan, ketika mengantri beli tiket tadi, saya sempat melihat rute pemberangkatan bus; Siemreap, Battambang, Sihanoukville, Kampong Cham, PAKSE (laos). Mata saya sempat berhenti di masing-masing destinasi. Mempertimbangkan bagaimana kalau saya malah jadinya ke Battambang, pastinya saya gak ke Angkor Wat. Mempertimbangkan bagaimana kalau saya malah nekat nambah negara, ke Pakse, tapi saya malah gak bisa lama-lama di Bangkok, terus gak jadi dapet tebengan. Akhirnya akal sehat saya bisa turn on juga dan pilihan ini mengantarkan saya ke kota Siem Reap. Dalam 8 jam ke depan, saya akan kembali membelah negara Kamboja lewat jalur daratnya. 🙂

Royal Palace Panoramic
Interior Central Market
Independent Monument
Inside Central Market

You may also like

10 Komentar

  1. Hi… salam kenal… ga mampir di warung bali-nya mas pirdaos di deket national museum? Kalo masuk museum ga boleh motret, kalo masuk royal palace mahal 6.25$ sekalian silver pagoda. Sebenernya yang menantang itu tuol sleng/killing field tp musti kuat mental hahaha…

    1. Halo.. salam kenal 🙂 Iya, awalnya ekspektasi ttg Phnom Penh itu gak seru, terus ketemu bule di Vietnam yg bilang kalo Phnom Penh asik, dia sampe stay 2minggu. Ternyata emang asik. Gak terlalu ribut kotanya.

  2. itu persis banget itu di rerumputan depan royal palace gue kibas-kibas kesetanan gara2 goler-goleran di atas rumput terus ga sengaja dudukin lobang semut. jadilah sekujur badan dikerebutin semut merah yg berbaris di body ~~
    fix ga bisa move on dari kamboja!!!

  3. Please post about your journey to Siem Reap. How much it was cost from Phnom Penh to Siem Reap, what transportation you used, what sightseeing/place you visited. Thanks 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.