Tentang Phnom Penh

Setelah perjalanan darat lintas negara, akhirnya saya menginjakkan kaki di kota Phonm Penh untuk pertama kalinya. Di tempat pemberhentian bus/pool bus kebetulan terdapat wifi dan saya langsung memanfaatkannya untuk mencari penginapan. Sebelumnya saya sudah melihat peta kota Phnom Penh di Lonely Planet dan memperkirakan akan turun di terminal dekat Central Market. Nah, kalau dari situ saya sudah punya bayangan akan berjalan ke arah mana, tujuan saya sebelumnya adalah Sisowath Quay. Namun, saya menaiki bus yang berhenti di dekat Olympic Stadium dan saya tidak punya klu sama sekali akan berjalan kemana.

Buat kamu yang menggunakan ponsel smartphone (Android/iOS) sebaiknya mendownload aplilasi hostelworld. Aplikasi tersebut sangat berguna buat kamu yang berencana go show mencari penginapan. Aplikasi tersebut dapat mendeteksi lokasi hostel terdekat dengan harga termurah. Rekomendasi hostel paling atas yang saya temui adalah The White Rabbit Hostel. Di sana dideskripsikan letaknya persis. Dengan kesotoy-an saya menggunakan GPS yang ada di ponsel, tanpa naik tuktuk atau ojek, akhirnya saya jalan kaki ke sana.

Phnom Penh
Independent Monument

Menurut saya mencari alamat ketika di Phonm Penh tidak terlalu susah. Kalau kamu bisa baca peta dan tau arah sih semuanya akan gampang, mungkin karena penamaan  jalan-jalan kecil di Phnom Penh berupa angka. Patokannya adalah sungai, semakin ke barat nomor jalan semakin besar, pengurutan nomor juga berlaku dari utara ke selatan. Pusing ya? Sama! Buat saya, patokannya adalah jalan raya yang dinamai dengan nama orang penting di Kamboja. Misalnya Monivong Boulevard dan Sihanouk Boulevard, buat saya nama lebih mudah diingat dibanding angka hehe

Ketika sampai di The White Rabbit saya langsung ketemu dengan resepsionis nya. Lobby yang juga dijadikan sebagai mini bar dipenuhi dengan para bule. Saya langsung menanyakan apakah ada dormitory yang kosong, dengan anehnya mbak resepsionis malah menimpali saya dengan bahasa Khmer. Berkali-kali saya tegaskan tentang pertanyaan yang tentunya dengan bahasa inggris, setelah tiga kali baru lah dia sadar kalau saya bukan orang lokal dan gak ngerti bahasa Khmer. Jgeeer! Dia pikir saya gembel yang nenteng-nenteng gembolan dan plastik keresek apa?? dipikir lagi minta sumbangan apa?? dipikir mau ngelamar kerja? ISH!!

Dorm with fan (4USD)

Saya langsung diantar untuk melihat kamar-kamarnya. Pilihannya adalah dormitory AC yang bersih, rapih, murah, tapi sepi gak ada penghuninya, atau dormitory dengan fan yang cuma kasur geletakan di lantai dan kamar mandi luar dengan dua penghuni lainnya. Saya pikir untuk menghemat 2 USD dan supaya gak horor sendirian di kamar, jadi lah saya memilih dormitory non AC. Ngeri kan kalau malem-malem digentayangin hantu-hantu korban pembataian Khmer Rouge? (oke, berlebihan!)

Berhubung besok siang saya sudah harus berangkat lagi ke Siem Reap, jadi saya tidak mau menyia-nyiakan waktu. Setelah unpack saya langsung jalan berkeliling Phnom Penh. Tujuan saya adalah Sisowath Quay, sebuah jalan di tepian mekong dan aliran dari Tonle Sap, dengan bangunan-bangunan yang ramai berjejer di sampingnya. Jalanan tersebut dipenuhi restaurant bergaya Eropa, penginapan, bar dan cafe, sejenis pusatnya turis. Waktu itu langit sudah mulai gelap. Saya terus berjalan menyusuri Sihanouk Boulevard ke arah sungai. Disana saya melewati beberapa kuil, bangunan pemerintahan yang otentik bergaya Khmer, dan Indipendent monument.

Di sekitar monument terdapat taman kecil dan jogging track yang membelah jalan sihanouk. Terdapat banyak warga lokal yang berolah raga dan  nongkrong-nongkrong sore. Benar kata bule Australia yang satu dorm dengan saya, dia bilang Phnom Penh adalah kota yang keren, sampai-sampai dia menghabiskan waktu hingga seminggu di Phnom Penh. Kotanya tidak seramai Ho Chi Minh City, minim polusi, dan warga-warganya pun asik-asik. Saya tidak menemui paksaan-paksaan untuk membeli sesuatu atau menaiki tuk-tuk.

Naga World

Berjalan lebih jauh, saya menemui bangunan besar mirip mall dengan layar LED besar di temboknya. Di sana tertulis Naga World. Woow.. apaan ini? Dunia Naga. woow.. Saya penasaran dan masuk. Ternyata ini adalah sebuah tempat perjudian atau kasino. Gokil! kirain di perbatasan doang ada kasino, ternyata di pusat kota juga ada.

Berhubung gak minat dan gak ngerti berjudi, perut pun sudah keroncongan, saya mau coba hunting makanan khas Kamboja. Saya terus jalan ke arah sungai. Melewati jembatan yang gelap, menuju sebuah tempat keramaian di seberang sungai. Ketika memasuki tempat tersebut saya disambut keramaian musik lokal. Di sana muda mudi berkumpul di tepian sungai, ada yang pacaran, ada yang ngobrol berkelompok, ada yang ngebir, wah macem-macem. Tempat hiburan tersebut terdapat beberapa bar dan kafe lokal punya, ada juga restuarant dan tempat bermain biliar dan permainan lainnya. Saya terus berjalan dan merasa menjadi mahluk alien. Hingga kemudian langkah saya terhenti ke sebuah restuaran bertuliskan حلال (halal) “Khmer & Malaysian Food”. Mata saya berbinar. Saya menemukan tempat makan yang pas. Di sana saya dilayani oleh seorang mbak-mbak muda yang berkerudung. Sehabis memesan, dia mengajak saya ngobrol dengan bahasa melayu. Huaaah.. bisa juga ya menemukan bahasa yang serumpun di sini. Dia berbagi cerita tentang pengalamannya hidup di Kamboja. Saya kira dia orang Malaysia, ternyata orang Kamboja asli, hanya saja abahnya memang keturunan Malaysia dengan bahasa melayu yang fasih. Bahkan dia pun tidak pernah berkunjung ke Malaysia. Di samping saya duduk empat orang pemuda lokal, yang tampangnya seperti anak paling gaul di Phnom Penh. Terlihat pelayan cewek tadi juga teman dekat ke-empat lelaki ini. Segerombolan pemuda yang ternyata hi-tech, handphone nya aja iPhone. Walaupun pembangunan kota nya yang masih ketinggalan dengan negara ASEAN lainnya, tapi untuk urusan perkembangan teknologi warga Phnom Penh tidak mau kalah. Katanya juga di sini harga elektronik cukup murah.

Selepas dari Koh Pich (tempat hiburan tadi), saya kembali berjalan memasuki Sisowath Quay. Lampu jalan tidak begitu terang. Keadaan lalu lintas sepi sekali, namun banyak orang yang bermain di bar-bar di pinggir jalan atau tempat berjudi kecil-kecilan. Kemudian saya melintasi sebuah hotel megah, namanya Hotel Cambodian. Dengan bangunannya yang percampuran modern dengan tradisional, saya rasa ini merupakan salah satu hotel paling mewah di Kamboja. Kalau kita berjalan terus ke arah utara, maka kita akan melewati Royal Palace. Di depan kerajaan terdapat halaman luas dengan pendopo-pendopo yang pada malam itu terlihat ramai. Mungkin sedang ada acara syukuran atau semacamnya.

Sisowath Quay at Night – tripadvisory.co.uk

 

Saya terus berjalan menghampiri gedung-gedung dengan gaya kolonialis. Bangunan itu digunakan sebagai restauran, cafe, galeri seni, pusat bisnis dan perdagangan, hostel, dan biro-biro perjalanan. Semuanya tertata rapih dan ramai oleh para turis. Ramai di sini dalam jumlah yang wajar. Tidak seramai jalan Kuta atau Legian di Bali. Sementara itu, di tepian Tonle Sap kadang kala terdapat perahu-perahu yang melintas. Dilengkapi dengan lampu-lampu di tubuh perahu membuat pemandangannya seperti kunang-kunang yang berlarian di atas sungai. Semuanya bergerak tidak dalam buru-buru dan tidak juga sangat santai.

Saya terus berjalan menerobos jalan-jalan kecil. Barisan bangunan bekas jajahan perancis yang terlihat tua dan compang-camping masih digunakan sebagai tempat bisnis ‘hiburan malam’ dan juga tempat tinggal bagi kaum marjinal. Bar-bar lokal ini berkumpul di satu lokasi, dengan menjajahkan wanita-wanita penggoda khas lokal. Berminat?

Malam itu saya memang hanya ingin survey lokasi objek-objek yang besok bisa dieksplor. Setidaknya untuk pemetaan pribadi. Jadinya saya tidak mampir di satu kafe atau kedai makan manapun deh. Saya terus berjalan lurus ke arah barat dan voila! nembus di Monivong Boulevard. Kalau jalan terus ke arah selatan, kita akan sampai di Independent Monument. Itu lah yang bisa dijadikan patokan ketika kamu berniat untuk jalan kaki sendirian di Phnom Penh. Pokoknya saya sampai lagi di White Rabbit Hostel sekitar jam 10 malam. Kurang lebih saya telah berjalan kaki selama 3 jam dan berhenti makan selama 1 jam.

Selama tiga jam jalan-jalan tadi, saya sudah bisa merasakan atmosfer kota ini. Saya sudah bisa mengenali bagaimana warganya. Walau cuma sebentar tapi Phnom Penh memberikan kesan yang menarik. Sebuah kota yang keren dengan kesantaiannya. Sebuah kota dengan berbagai pusat hiburan. Sebuah kota yang rasanya tidak membutuhkan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Sebuah kota yang berjalan dengan harmonisasi kebiasaan-kebiasaan lokalnya. Bahkan saat itu, saya sampai tidak sadar sudah berada di Kamboja. Semuanya memang diluar ekspektasi 😀

Map of Phnom Penh

You may also like

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.