Angkor Bicycle Trip: Mengejar Matahari Terbit

Angkor Wat

Siem Reap, 31 Agustus 2012. Angkor Wat di Siem Reap dan Terracotta Warriors di Xi’an adalah sebuah pilihan buat saya. Berhubung saya sudah membatalkan perjalanan ke Xi’an, jadi saya wajib mengunjungi Angkor Archaeological Park di Siem Reap, Cambodia. Situs ini sudah menjadi situs yang sangat terkenal, mungkin bermula dari film Tomb Raider yang diperankan oleh Angelina Jolie. Saya sendiri sebenarnya belum menonton film itu,jadi tidak tahu daya tarik apa yang orang-orang tuju.

Bicara mengenai candi, di Jawa pun banyak tersebar candi-candi super megah. Sebut saja Borobudur dan Prambanan yang sama-sama menjadi World Heritage Site UNESCO. Lantas, selain masuk film hollywood, daya tarik apa sih yang membuat Angkor Wat ini laris manis di dunia pariwisata internasional?

Kalau saja di Siem Reap tidak ada Angkor Wat, pasti saya tidak akan mampir ke sini dan lebih memilih untuk ke Sihanoukville atau ke Battambang. Nyatanya, saya tidak punya cukup waktu dan lebih memprioritaskan untuk melihat Angkor Wat. Rencananya saya akan mengambil one day ticket, itu pun harganya sudah lumayan banget, 20 USD. Lebih baik memang tidak usah ingat-ingat harga tiketnya, apalagi membandingkannya dengan objek-objek lain. If you dare enough to explore, you’ll get what others don’t give to you.

Pertanyaan dan perdebatan mengenai ‘cukup gak sih eksplor Angkor dalam sehari?’ jawabannya tergantung pada kekuatan diri sendiri dan seberapa jauh kamu ingin mengetahui situs sejarah ini. Kalau tujuan kamu hanya foto-foto narsis aja sih ambil yang sehari, keliling Angkor Wat atau Angkor Thomb aja juga cukup. Kalau tujuannya emang mau tau lebih banyak dan menelusuri setiap lekuk candi-candinya, ya boleh lah ambil 3hari, lebih hemat uang juga. Kalau tujuan kamu untuk memotret dan punya banyak waktu untuk bersantai, silahkan ambil yang seminggu. Eh, tapi gak abis pikir sih sama yang ngambil tiket seminggu, segitunya ya? hahaha

Sebaiknya memang kamu punya teman jalan untuk eksplor Angkor Wat, masalahnya, kompleks arkeologi ini luasnya mencapai 400 km persegi. Paling enak memang kita punya teman untuk sharing biaya tuk-tuk. Harga sewa tuk-tuk seharian (beserta abangnya tentunya) adalah sekitar 10-15 USD, kalau diminta lebih bisa ditawar. Nah, dengan ongkos segitu kan kalau jalan-jalan sendirian bakal tekor. Namun, kali ini saya tetap jalan-jalan sendirian. Waktu saya sedikit, males cari teman jalan, dan berhubung kompleks angkor yang luas dengan objek yang tersebar, saya juga males kalau mesti berdebat tentang tujuan.

Tajir banget dong naik tuk-tuk sendirian? Oh tunggu dulu! buat masuk Angkor aja rasanya masih sayang gitu, ngeluarin 20 USD sekali langsung abis, apalagi ditambah dengan ongkos tuk-tuk 15 USD? hihi Saya juga rada sayang kalau mesti naik ojek dan sayangnya di Siem Reap dilarang menyewa sepeda motor, mungkin ini salah satu kontrol agar moda transportasi umum seperti tuk-tuk dan ojek bisa terus hidup. Akhirnya, saya memilih untuk naik sepeda. yah.. sepeda!

Bike for 1 USD

Harga sewa sepeda rata-rata 1 USD. Kebetulan, The Garden Village menyewakan sepeda. Jadi saya tidak perlu mencari-cari lagi tempat penyewaan sepeda. Apalagi saya berencana untuk berangkat ke Angkor Wat pagi buta untuk mengejar matahari terbit. It would be a challange!

Malam harinya sudah gelisah, takut kesiangan. Soalnya, seluruh sumber yang saya baca, kalau kita hanya punya waktu sehari untuk eksplor Angkor, maka harus banget bisa mendapatkan sunrise nya. Jadi rencananya saya harus bangun jam 4 pagi, kemudian packing, dan berangkat dari hostel jam setengah 5.

Kebetulan pagi itu alarm saya menyala dan ampuh. Saya langsung bangun dan menyiapkan semuanya dalam waktu 15 menit. 15 menit selanjutnya saya siapkan untuk mengurus peminjaman sepeda. Ketika baru keluar hostel, saya mendengar adzan. Kemudian saya mengkuti suaranya, dan solat subuh dulu. Biar semuanya tambah lancar, bukan? 😀

Saya baru mulai menggoes sepeda sekitar jam 4.45. Rasanya sudah deg-degan takut kesiangan dan tidak dapet sunrise. Saya terus menggoes dan mengebut. Kalau di sepeda saya ada speedometer, mungkin kecepatannya mencapai 100km/h (mungkin loh yaa). Sebelum berangkat, saya mencoba mengkonekan GPS di handphone dari hostel ke Angkor Wat. Ternyata cukup belok dua kali, kemudian tinggal lurus terus. Namun, kenyataan berkata lain.

Ini merupakan bagian terseru dalam petualangan ke Angkor Wat. Saya mengendarai sepeda layaknya berpacu dengan kuda di tengah jalanan kota Siem Reap yang pagi itu masih kosong melompong. Jalanan di Siem reap dibagi dua dan dibelah oleh sungai. Kalau kata GPS sih harusnya mudah, namun entah mengapa saya jadi kehilangan arah. Berkali-kali saya bertanya ke pada orang yang sudah berkegiatan di sekitar jalan raya. Jawaban dari mereka malah membawa saya ke jalur yang gelap dan sangat sepi. Belum lagi jalanan yang rusak membuat sepeda yang saya kendarai terus berloncatan ke kanan dan kiri, salah-salah bisa nyusuruk ke dalam sungai di sebelah saya. Jalanan yang gelap juga sudah saya tidak pedulikan. “Bodo amat kalau ada pocong yang jegat atau ada setan-setan kamboja lainnya yang mau ganggu” pikir saya saat itu. Pikiran saya sudah tertuju pada Sunrise di Angkor Wat.

The Garden Village – Angkor Wat

Jarak dari hostel ke pintu masuk Angkor sekitar 8 km. Jarak tersebut saya tempuh dalam waktu kurang dari setengah jam (sudah termasuk nyasarnya). Memasuki pintu masuk Angkor, kita akan melewati jalan mulus dan panjang yang kanan-kiri nya adalah hutan. Hawa mistis sudah terasa. “pang-numpang lewat, saya cuma mau jalan-jalan” ucap saya dalam hati.

Setelah melintasi jalanan menuju pintu masuk (ticket counter) sepanjang 1-2 km. Akhirnya saya tiba juga dan langsung membeli tiket. Badan sudah lepek oleh keringat dingin dan muka sudah gak karuan ditabrak angin. Unik deh, tiket Angkor yang kita beli adalah sebagai ID masuk, makanya di dalam tiket nya akan ada foto kita. Jadi, begitu beli dan bayar, kita akan langsung difoto dengan menggunakan webcam. Sial! muka saya udah seperti orang kecebur got.

Perjuangan saya belum berakhir ternyatah! Dari loket tiket ke Angkor Wat masih butuh menggoes 2 hingga 3 km lagi. OMG! Langit sudah terang. Saya terus menguatkan goesan. Rem pun sudah tidak digunakan. Sekitar 10 menit dari loket tiket, sampai lah saya di depan pintu masuk Angkor Wat.

Ekspektasi (tripadvisor.com)

Halaman depan Angkor Wat sudah dipenuhi wisatawan. Ternyata Angkor Wat dikelilingi oleh kanal-kanal berbentuk persegi. Layaknya kerajaan, kita akan melalui pintu masuk dan beberapa bangunan pendukung sebelum bertatapan langsung dengan bangunan utama. Saya terus berjalan menuju kolam (genangan/becekan) di depan Angkor. Rupanya, di situ adalah best spot untuk mengabadikan wajah Angkor Wat dan refleksinya di air dengan semburat-semburat awan fajar.

Saya & Pin

Harapan hanya meninggalkan ekspektasi. Langit kekuningan dan orange di kala fajar hanya lah mimpi yang pagi itu tidak datang. Di atas Angkor Wat, langit lebih suka untuk menampakkan wajah pucatnya dengan warna kuning kebiruan. Yah.. tak apa lah. Saya sudah cukup senang tidak ketinggalan menyaksikan matahari terbit di Angkor Wat. Apalagi di sana saya menemukan teman-teman Cina yang satu dormitory sewaktu di Saigon. Benar-benar sebuah kebetulan yang menguntungkan. Jadi ada yang fotoin saya deh 😀

Sekitar jam 7 pagi itu, saya berpisah dengan rombongan Cina tadi. Mereka menyewa tuk-tuk dan membeli 3 days pass ticket, dan itinerary mereka adalah menyambahi candi terjauh dulu yang letaknya di luar kompleks Angkor. Sementara itu, saya sendirian mengeksplor Angkor Wat dan mengambil napas panjang. Baru inget, sedari subuh tadi saya belum istirahat dari kegiatan mengutik sepeda.

Bersambung…

 

Geng Cina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.