Hop On Hop Off dengan Bus Kota di Bangkok

“what time do you want to wake up?” tanya Fred.
“uhm 9, ehmm or 8 maybe.” jawab saya ragu.
“are you sure?” tanya Fred yang sama-sama ragu, sambil tertawa kecil.
“Uhmm 10 maybe :D” jawab saya bagai sedang menawar.
“alright, lets sleep”

Keesokan paginya, saya bangun jam 10 pagi. Pintu kamar yang langsung mengarah ke teras tidak ditutup. Melihat langit pagi itu sangat kalem membuat saya malah tarik selimut. Dimana-mana, minggu pagi itu harus dihabiskan ditempat tidur ya. Walaupun sedang liburan.
“you said you’re gonna wake up at 8?” ledek Fred

Saya baru keluar tempat Fred sekitar jam 12 kurang. Dia menggambarkan peta daerah Bang Na dan menunjukkan tempat menunggu bus 02. Dia bilang, tarif bus 02 itu 7 bath atau kadang-kadang gratis. Kalau dibandingkan dengan ongkos saya semalam (taksi 80bath + Skytrain 50bath + ojek 15bath) tarif 7bath sangat gak ada artinya! Jadi, tips buat kamu yang mau tinggal lebih lama di Bangkok, ingin hidup murah, dan lebih mengenal orang lokalnya, pilih lah transportasi bus umumnya.
Pilihan bus di Bangkok ada dua, AC (10bath) dan non AC (7bath).

Jadi, mau kemana saya hari ini? uhmm… *mikir lama*. Saya sendiri tidak tahu tujuan ke Bangkok mau ngapain aja. Akhirnya, saya menuju ke daerah Wat Phra Kaew. Mungkin akan coba juga naik boat menyusuri Chao Praya.

Asik juga naik bus kota. Kebetulan hari minggu. Bus tidak begitu padat. Saya bisa sightseeing melihat kota Bangkok dengan cara efektif. Rute bus 02 ini menyusuri jalan Shukumvit, yang dilintasi juga oleh SkyTrain di atasnya. Perjalanan ke Royal Palace/Wat Phra Kaew memakan waktu 1 jam lebih dengan bus umum. Dijamin gak ada ngetem-ngeteman kayak bus di Jakarta. Bus berhenti sesuai tempat pemberhentiannya.

di depan Wat Pha Kaew
di dekat Wat Pha Kaew

Saya turun di halte dekat Democracy Monument, menyusuri jalan Ratchadamnoen Klang menuju Wat Phra Kaew. Di sana terdapat lapangan luas yang langsung menghadap ke Grand Palace Bangkok. Di sebelah kanan lapangan terdapat juga universitas dan beberapa museum. Hari itu habis hujan, jalanan jadi licin dan gawatnya alas sepatu saya mulus banget kayak pantat bayi (sempat juga pernah mau kepeleset sewaktu nyebrang di jalanan Shanghai :p). Entah karena Bangkok adalah ibukota dari kerajaan Thailand atau memang pemerintahnya sadar diri, kota ini sangat apik. Bukan hanya bersih, namun semuanya juga terawat.

Taman di depan Wat Phra Kaew
Taman di depan Wat Phra Kaew

Melangkah menuju pintu masuk Wat Phra Kaew, saya membaca peraturan. Kalau mau masuk harus berpakaian rapih dan menutup aurat. Walah, saya malah sedang pakai celana pendek di atas lutut. Nampaknya memang sedang tidak niat masuk ke Wat Phra Kaew, tiket masuknya juga sih bikin mikir, kalau dirupiahkan tiketnya seharga 100.000rp. Saya lanjut berjalan menyusuri toko-toko di pinggir istana megah itu, dan mengantarkan saya ke sebuah dermaga untuk menyebrang ke Wat Arun. Hampir gak percaya, buat nyebrang ke Wat Arun hanya 3bath! Perahu nya mesti ngetem sebentar untuk nunggu penumpang. Setelah sampai, kok sensasinya gini doang ya? pantas cuma 3bath. hehe ekspektasi terlalu berlebih, kayaknya mesti nyoba Chao Praya River cruise nya dari ujung ke ujung,

Wat Arun sebelum hujan
Wat Arun sebelum hujan
Awan hitam menyelimuti Wat Arun
Awan hitam menyelimuti Wat Arun

Hujan datang bertepatan dengan sampainya di dermaga Wat Arun. Saya tidak bisa kemana-mana, hanya bisa menikmati riuh hujan yang turun di atas Chao Praya. Minggu siang, hujan, di pinggir sungai & kuil megah, di kota Bangkok. Lagu Jon Brion – Theme langsung terputar.

Tak sampai setengah jam, hujan sedikit reda. Saya menerobos masuk ke pelataran Wat Arun. Bendera-bendera dengan berbagai simbol tergantung ramai meriah di atas sebuah jalan masuk menuju Temple of Dawn ini. Dengan membayar 50bath, kamu bisa masuk dan naik ke atas candi ini, tentu dengan pakaian yang sopan dan menutup aurat, yang artinya saya tidak bisa masuk. Ya sudah lah memang tidak berjodoh, lagian ya, uang saya kan tinggal 30 USD 😀

Saya terus jalan dan menyasarkan diri. Gak tahu, sampai-sampai di sebuah jalan raya. Anggapan saya, jalan ini pasti menuju ke pusat kota kok. Terus berjalan tapi kayaknya jauh banget. Saya berinisiatif masuk ke dalam gang yang di peta menunjukkan terdapat sebuah dermaga mampirnya regular boat di Chao Praya. Begitu masuk gang, saya malah disergap oleh sekawanan anjing. Hewan satu ini adalah kelemahan saya, jadi lah lari ngibrit dan kembali ke jalan raya.

Seharian itu saya menjejaki tempat-tempat yang di peta tidak ada objek wisatanya. Lebih banyak melihat kehidupan warga lokal Bangkok dan seluk beluk kotanya. Hingga akhirnya, saya berinisiatif untuk menaiki salah satu bus. Bus no.1 mengantarkan saya ke sebuah rute Chinatown kota Bangkok. Saya pernah baca di sebuah artikel, bahwa Chinatown di Bangkok adalah salah satu yang terbesar di dunia. Terlihat sih, jejeran toko memenuhi pandangan mata dari ujung ke ujung. Tapi.. saya udah puas liat beginian di negara aslinya. Baru minggu lalu kan dari Beijing-Shanghai 😀 jadi saya abaikan dan terus melanjutkan perjalanan.

Nyasar ke jembatan tua/klasik
Nyasar ke jembatan tua/klasik

Rute selanjutnya adalah melewati stasiun yang paling terkenal di Bangkok, Hua lampong. Salah satu pintu gerbang utama untuk menjelajahi Asia Tenggara. Itu pun saya lewati karena besok pasti ke sana. Makin jauh bus melaju, saya makin tidak mengenali daerahnya. Hingga sampai lah saya di sebuah daerah bernama Taksin. Dari situ, saya menaiki bus lain. Bus no.15 nampaknya akan membawa saya kembali ke pusat kota Bangkok.

Benar saja, bus no.15 melewati rute seperti daerah Si Lom, Lumphini, Siam, dan akhirnya sampai ke daerah pusatnya di Wat Phra Kaew. Tau gak? sepanjang jalan, saya menandai jalanan mana saja yang saya lewati. Awalnya agak memusingkan karena harus liat kanan kiri, adakah gedung yang bisa dicari di peta. Akhirnya saya bisa mengikuti alur perjalanan bus no.15.

Si lom adalah semacam daerah Central Business District nya. Di sana terdapat banyak gedung tinggi perkantoran maupun hotel-hotel mewah. Masuk ke Siam, kita akan menjumpai rentetan mall. Setelahnya, kita akan melewati semacam kota tua nya Bangkok. Terdapat juga National Stadion.

Old side of Bangkok
Old side of Bangkok

Intinya, perjalanan nyasar-nyasar dengan bus kota ini sangat asik. Melacak rute-rute bus nya dan melihat segala lekuk kota Bangkok. Saya tak hanya menyaksikan ‘barang jualan’nya Bangkok, yaitu seperti Grand Palace dan sejenisnya, tapi saya juga menikmati mall-mall pinggirannya, pasar-pasarnya, lingkungan perumahannya, dan sudut-sudut kota pinggirannya. Kemudian, perjalanan nyasar ini akan terus berlanjut di entry berikutnya.

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.