On the island of Ayutthaya (part 1)

Hualampong Railway Station
Hualampong Railway Station

Bangkok, 3 September 2012. Sebuah hari senin yang biasa di Jakarta, mulai kembali ke rutinitas, dan pastinya terjebak macet. Tapi, senin itu tidak terjadi kepada saya. Bangun tidur saja jam 10 pagi (atau siang?). Tidur terasa nyenyak karena menjelan pagi, hujan mengguyur Bangkok. Hingga saat saya bangun pun masih menyisakan rintiknya.

Jadi, mau kemana saya hari ini? 85km utara kota Bangkok dan ditempuh dengan waktu 2 hingga 3 jam. Sebuah reruntuhan kota tua kerajaan Siam pada abad 14. Kota ini sempat menjadi kota terbesar di dunia dengan jumlah penduduk 1juta jiwa pada tahun 1700-an. Ayutthaya.

Saya berjalan menyusuri jalan Sanpawuth. Di ujung jalan terdapat sebuah toko roti rumahan yang aromanya selalu mengusik perut setiap pagi. Saya berhenti dan membeli untuk perbekalan di Ayutthaya nanti. Sebuah roti hangat dengan taburan gula-gula dan beraroma kayu manis siap disantap dengan pendamping susu dingin segar yang dibeli di 7-11. Sluurrpp nyaaam..

Bangkok
Bangkok

Untuk mencapai Ayutthaya, saya berangkat dari BTS Skytrain stasiun Bang Na menuju stasiun Asok (40bath). Nah, dari BTS stasiun Asok inim saya akan berpindah ke jalur MRT/metro nya Bangkok menuju stasiun MRT Hualampong (20bath). Tinggal berjalan sedikit dan naik ke lantai atas, maka kita akan sampai di stasiun kereta Hualampong, sebuah pusat stasiun kereta di Thailand yang menghubungkannya ke berbagai pelosok negeri hingga luar negeri seperti Penang, Malaysia.

“to Ayutthaya” tanya saya di loket.

“10.50,  315bath, sir”

“okay, I take it”

Tanpa pikir panjang langsung bayar tiket, mengingat tidak mau mengulur waktu dan merasa sudah kesiangan. Kereta berangkat 15 menit sedari saya membeli tiket tadi dan akan sampai stasiun Ayutthaya jam 12.14. Cukup siang untuk meneksplor seluruh isi kota. Setidaknya itu anggapan saya, mengingat saya membutuhkan waktu seharian untuk mengeksplor kota Angkor.

Tiket 315bath
Tiket 315bath
Makanan di kereta
Makanan di kereta

Kemudian saya buka handphone dan menghitung 315 dikali 300rupiah. Totalnya adalah 94.500 rupiah. Hah?? hampir seratus ribu?? *kemudian nelen ludah*. Berdasarkan riset awal, harga tiketnya hanya sekitar 10ribu rupiah gitu. Tapi mengingat gerbong kereta yang saya naiki super nyaman, yaitu soft seat, AC (super dingin), dan jarak dengkul yang luas, jadi saya manggut manggut sendiri aja. Iya.. pantes sih kalau harganya segini. Oh iya, tak lupa juga, setelah kereta berangkat kita akan dibagikan makanan. Nasi kotak dengan menu ayam dengan olahan lokal Thailand dan semangkuk kecil puding. So sweet banget sih.

Ayutthaya station
Ayutthaya station

Back to reality. Dinginnya AC di dalam kereta bikin saya meriang, pas lagi ngantuk-ngantuknya kereta tiba di stasiun Ayutthaya. Baik lah! saya keluar kereta dan langsung disergap dengan sengat dan terik matahari. Pantas saja, saya sampai di sana tepat siang bolong jam 12.30.

Berdasarkan panduan dari Lonely Planet, ada rental sepeda tepat di seberang stasiun. Begitu nyebrang, jalan dikit, langsung menjumpai sepeda-sepeda berjejeran di depan rental tersebut. Tarifnya 40 Bath/hari, batasnya hanya sampai jam 7 malam. Saya dilayani oleh seorang ibu-ibu ramah yang menjelaskan dengan sangat detail mengenai objek wisata di Ayutthaya. Dia juga memberikan selembar print out peta Ayutthaya.

Ayutthaya’s Map

Apa sih Ayutthaya? Sama halnya dengan Angkor Wat, Ayutthaya adalah sebuah kota tua bekas kerajaan. Bedanya Angkor adalah kerajaan Khmer yang berjaya pada abad ke-12, sedangkan kota Ayutthaya ini adalah ibukota dari kerajaan Siam pada pertengahan abad ke-14 hingga abad 17. Kalau saja dulu tidak terjadi peperangan yang menyebabkan kota Ayutthaya ini dibakar, bisa jadi ibukota Thailand sekarang masih di Ayutthaya.

Nama Ayutthaya juga bisa disebut sebagai Ayodhya yang dalam cerita Ramayana adalah sebagai kota kelahiran Rama. Kenapa kota ini dulu sangat penting? karena Ayutthaya adalah sebagai pusat dari perdagangan di antara kerajaan sekitar. Hal ini terjadi karena Ayutthaya terdapat persimpangan sungai, yang salah satunya dilewati dengan sungai Chao Phraya. Nah, makanya terdapat paket tour river cruise dari Bangkok ke Ayutthaya. Eksotis banget ya pasti.

Wat Mahathat panoramic
Wat Mahathat panoramic

Di dalam kota Ayutthaya sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu dalam dan luar pulau. Hah jadi ada pulau? Yep! ini adalah semacam satu daratan yang dikelilingi oleh aliran sungai. Di dalamnya semacam pusat pemerintahannya yang sekarang banyak terdapat reruntuhan kuil-kuil. Begitu juga dengan bagian luarnya, hanya saja lebih tersebar dan lebih sedikit.

Saya utamakan untuk mengeksplor “On The Island” berbekalkan dengan sepeda 40bath ini. Nah kebetulan saya dapat teman baru ketika menyewa sepeda tadi. Mereka adalah dua cewek cantik dari Jepang. Namanya Akiko dan Mariko. Akhirnya kami memutuskan untuk menuju kuil-kuil yang sama-sama ingin kami datangi, setelahnya kami akan berpisah ke tujuan kami masing-masing.

Panoramic in Wat Mahathat
Panoramic in Wat Mahathat

Ekspektasi saya terhadap Ayutthaya adalah sebuah kompleks reruntuhan kuil-kuil yang berpusat pada satu tempat, ya semacam di Angkor Archaeological Park gitu. Nyatanya, Ayutthaya adalah sebuah kota kecil yang selain adanya reruntuhan kuil, ada juga kehidupan di sini. Kalau boleh dibilang, kota ini sekelas dengan kecamatan lah. Jadi kalau di Angkor kita bisa bebas sepedaan tanpa takut ditabrak, nah kalau sepedaan di sini mesti hati-hati karena jalanannya cukup ramai.

Memotret Buddha
Memotret Buddha
with buddha's head
with buddha’s head

Tujuan kami yang pertama adalah Wat Mahathat. Di kompleks kuil ini, kami harus membeli tiket masuk seharga 50bath. Terdapat sebuah kompleks kuil-kuil yang berstupa tinggi. Selain itu, di sini juga tersebar patung-patung Buddha yang kebanyakan sudah tidak memiliki kepala. Mungkin, sebelum tempat ini diselamatkan, sudah keburu dicuri kepala-kepala Buddha tersebut, dan pasti harganya mahal. Yang paling terkenal dari Wat Phra Mahathat adalah patung kepala Buddha yang terjebak di badan pohon bodhi. Untuk kamu yang mau berfoto di depan patung kepala buddha tersebut, kamu harus berlutut dengan sopan. Saya sih melihat ini biasa saja ya suka sih karena bagus buat difoto, nah si kedua teman Jepang saya sampai ternganga-nganga dan berdecak kagum. ckckck

Petualangan akan berlanjut ke On the island of Ayutthaya part 2….

You may also like

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.