Thai Rapid Train – 931km Menuju Hat Yai

to Sungai Kolok
to Sungai Kolok

Hat Yai, 931 km jauhnya dari Bangkok. Bahkan, kota ini lebih dekat dengan negara tetangganya, Malaysia. Saya pernah mendengar bahwa kota ini adalah kota terbesar ketiga di Thailand setelah Bangkok dan Chiang Mai. Well, kita lihat nanti karena sekarang saya masih di Bangkok.

Saya berangkat dari Mama’s Guesthouse yang berada di jantung “backpacker ghetto” khaosan road menuju Hualampong sekitar jam 11 siang itu. Saya menaiki bus no.2 untuk menuju sebuah persimpangan jalan di dekat Kedubes Indonesia untuk kemudian menyambung bus lain menuju Hualampong.

Bus no.2 ini penuh memori. Bus yang pertama kali saya naiki selama di Bangkok. Bus ini juga mengantarkan saya ke sebuah tempat host saya di Bang Na yang sangat hommey. Apakah saya harus berpamitan dulu dengan Fred? karena sejak terakhir kali bertemu dia dua hari sebelumnya, kami benar-benar tidak ada sepatah dua patah perpisahan. Hmm… sebuah sms saja akan cukup mungkin karena pasti saya bertemu dia lagi mungkin dan juga kota ini.

Bangkok
Bangkok

Bangkok, 5 September 2013. Hari rabu yang kelabu. Saya sudah menunggu lebih dari sejam namun kereta belum juga datang. Bahkan, kereta tujuan Penang sedang bersiap-siap untuk berangkat. Hmm.. seperti ada perasaan ‘nyeess’ nyesel kenapa tidak jadi mengambil rute tersebut. Setengah jam kemudian baru lah kereta tujuan akhir Sungai Kolok muncul di jalur 11. Hampir semua orang berlarian mengerubuti kereta tua tersebut. Saya pun ikut masuk dan mencari gerbong yang tertulis di tiket saya. “gerbong 11 nomor kursi 12”

Ketika masuk dan melihat keadaan gerbong saya langsung terkejut dan lemas. Jendela kanan kiri yang terbuka lebar-lebar sepanjang gerbong, kursi kayu dengan alas yang tipis (hard seat), dan tidak ada AC. Ekspektasi saya untuk sebuah kereta ‘Rapid’ dengan kelas 2/bisnis ya seperti yang dua minggu lalu saya naiki di China. Kenyataannya.. seperti kelas ekonomi di pulau Jawa!

Hualampong Railway Station
Hualampong Railway Station

Kemudian dengan putus asanya saya keluar gerbong dan berjalan dengan lemas di peron stasiun. Makin menyesali kenapa tidak mengambil kereta kelas ekspress yang barusan berangkat langsung menuju Penang. Selagi putus asanya dengan perasaan kesal dan sesal, saya mendapatkan ilham. Tidak sengaja melihat sebuah papan penunjuk bertuliskan nomor 11. Dengan bentuk gerbong yang lebih baik dan tempat duduk yang dua-dua dan terlihat lebih nyaman, perasaan murung saya mulai hilang. “sorry, is this car no. 11?” tanya saya ke sebuah bapak-bapak di depan gerbong. “yes, it’s written there.. but I am not so sure also” jawabnya sambil tertawa. Ternyata dia bersama istri dan anak gadisnya seumuran saya menuju sebuah kota yang berjarak 4 jam dari Bangkok, Huahin. Keluarga ini berasal dari Swiss yang berbahasa perancis. Sementara itu, anak gadisnya “La fille” merebut tempat duduk saya di windows seat.

from my seat
from my seat
rapid train class 2
rapid train class 2

Baiklah.. saya akan ceritakan keadaan sebuah kereta rapid kelas 2 di Thailand. Prinsipnya sama dengan kereta kelas bisnis di pulau Jawa. Soft seat atau kursi yang cukup nyaman dan empuk, bisa dinaik-turunkan, dengan jarak dengkul yang lebih luas dibanding jarak dengkul di low budget airlines. AC? jangan harap! Kamar mandi? uhmm sama aja kayak di Jawa. Jendelanya ini yang lebih parah. Orang di sini demen banget angin atau emang suka makan angin ya, seluruh jendela dibuka lebar lebaaaar. Bikin pemandangan di luar serasa nonton bioskop IMAX.  Tujuan akhir kereta ini adalah Sungai Kolok, sebuah kota kecil yang masih berada di Thailand dan berbatasan langsung dengan Malaysia. Konon yang saya baca di Lonely Planet, dulunya Sungai Kolok menjadi salah satu sebuah akses yang ramai dilewati karena berbatasan langsung dengan Kota Bharu, sebuah akses menuju Perhentian Island. Sialnya, yang namanya rapid train, maka kereta ini berhenti di setiap stasiun. Hal ini lah yang membuat kereta ini jadi lama sampai tujuan. Nah, belum lagi delay nya ini.

Tertulis di jadwal kereta berangkat jam 13.00 namun sudah jam 15.00 kereta belum juga bergerak. Bahkan saya sudah ngobrol ngalor ngidul dengan keluarga Swiss-Perancis ini, dan bahkan sudah nambah koalisi dengan dua orang cewe cantik di belakang saya yang berasal dari Swiss-Jerman. Oh iya, ternyata itinerary dua cewek Swiss-Jerman ini juga akan ke Indonesia, tepatnya Jakarta-Jogja-Bali dan sesuai misi saya menyebarkan keindahan Indonesia, maka tak malu-malu saya menunjukkan foto Bromo. Wah, mereka sangat tertarik dan sama sekali belum tahu.

Baru lah jam 16.00 kereta ini bergerak. Hanya saja, kereta bergerak maju 10 meter dan mundur lagi 5 meter. Lokomotif tua ini berjalan sangat labil dan sama sekali tidak bersemangat untuk melangkah. Ya sama seperti saya yang juga gak semangat mesti ninggalin Bangkok.

 

You may also like

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.