Teman Baru di 931km Menuju Hat Yai

from my seat
from my seat

Thailand, 5 September 2013. Kereta terus maju tanpa ada langkah mundur lagi. Wajah perkotaan Bangkok kini telah pupus dan digantikan dengan pemandangan yang lebih menenangkan mata. Lembayung senja mengisi pemandangan di kanan kiri perjalanan, dibingkai oleh jendela gerbong kereta tua ini yang sedari tadi terbuka penuh. Obrolan dengan keluarga Swiss-Perancis ini terus berlangsung, si bapak yang punya banyak pengalaman terus berbagi cerita, seolah sedang mendongengkan anaknya. Lucu juga melihat mereka teriak kepedesan ketika membeli sebuah nasi rames yang dijual bungkusan oleh pedangang yang selalu seliweran. Mereka bilang “it’s chili with rice!”

Baru beberapa jam rasanya badan sudah lelah. Bunyi lokomotif uzur ini pun tak nyaman untuk menemani waktu tidur. Alhasil saya terus terjaga hingga kereta berhenti di stasiun Hua Hin. Saat itu pukul 9 malam, padahal di jadwal kereta dijanjikan untuk tiba di Hua Hin sekitar jam 6 sore, luar biasa ngaretnya. Entah mengapa saya sedih ditinggal oleh keluarga Swiss-Perancis itu dan juga dua orang Swiss Jerman yang duduk di belakang. Saya harus siap tidak mengobrol sepatah dua patah kata pun sampai tujuan akhir nanti.

Kemudian, ketakutan saya tersebut hilang ketika ada seorang cowok seumuran saya duduk di sebelah saya. Dia adalah Cyril, 22 tahun, berasal dari Belanda. Awalnya semuanya berada di dalam kecanggungan hingga tercipta lah sebuah obrolan yang menghantarkan ke dalam sebuah ‘talk show’ sendiri hingga larut malam.

Cyril, berbadan lebih besar tentu, dengan rambut pirangnya dan panjang sebahu. Dia juga solo traveling di Thailand dan sudah seminggu. Sebelumnya, dia menghabiskan liburan bersama kakaknya di Sri Lanka. Dia banyak menceritakan berbagai hal menarik yang ada di Sri Lanka. Bagaimana orang-orangnya masih ramah dan ‘belum kenal duit’. Bagaimana pemandangannya yang  peaceful, sebuah pemandangan tropis yang yang dia idamkan; pantai berpasir bersih dengan pohon kelapa berjejeran dan masih sepi. Setelah dari Sri Lanka, dia dan kakaknya hijrah ke Australia. Di sana dia bekerja sebagai petani dan menghasilkan 20 AUD per jamnya. Sebuah kehidupan yang berbeda jauh dengan Sri Lanka dimana semua harga naik berkali-kali lipat. Bahkan untuk sebuah kamar dormitory dipatok harga 20 AUD/malam, paling murah. Dengan sangat antusias, dia melanjutkan ceritanya tinggal di Australia. Setelah selesai bekerja selama sebulan, sesekali dia menghabiskan liburan bersama kakak dan teman dekatnya. Mereka menyewa sebuah van yang juga berfungsi sebagai rumah tinggal. Masuk ke pelosok bagian timur Australia. Kemudian mencari pantai-pantai yang tidak ada seorang pun. Masuk ke hutan dan menemukan sebuah danau yang dengan asiknya loncat sana sini ke dalam danau. Ahhh mendengarnya saja saya sudah iri. Saya iri dengan kebebasan yang dia miliki.

Sebagai traveler bertampang kaukasian, sudah sepantasnya dia kena berbagai macam tipu daya selama di Bangkok. Dia sangat mengutuk kota itu. Hingga akhirnya dia pergi ke Hua Hin dan sekarang sedang menuju ke Chumphon untuk kemudian menyebrang ke Koh Tao. Ingin rasanya saat itu nekat dan bilang “I’ll join your trip to Ko Tao” sayangnya saya ga senekat itu.

Koh Tao, Peaceful euh? © Cyril Arnts
Koh Tao, Peaceful euh? 

Hanya dalam waktu dua jam saja kami sudah bagaikan kawan lama yang baru saja bertemu. Semua obrolan yang nyambung dan sangat menarik terus mengisi perjalanan. Hingga tak terasa kereta tiba di stasiun Chumphon pada tengah malam. Sebelum kami berpisah, kami saling bertukar alamat facebook. Cyril juga memberikan saya perbekalan selama di jalan dan tak lupa sebuah souvenir yang dia beli di pasar apung di Bangkok. Sambil berjalan keluar, dia berjanji untuk datang ke Indonesia di tahun 2013 nanti.

Sekarang, seisi gerbong rasanya menjadi milik saya dan saya sendiri. Saya bebas berkontemplasi hingga muak kemudian memuntahkannya dan memakannya kembali. Hal yang paling menarik dari solo traveling adalah mendapatkan teman baru, dan tentu adanya pertemuan juga akan diakhiri dengan perpisahan, ini lah yang paling saya benci. Menjadi sendiri di tempat antah berantah juga kadang sangat mematikan, apalagi di waktu yang lama. Saya masih punya 8 jam hingga sampai di Hat Yai. Kebayang ga?

Malam berganti pagi namun gelap masih juga gelap. Saya terbangun dan kereta sudah tiba di stasiun Surathani. Tadinya saya berencana untuk singgah sebentar di kota ini. Surathani juga bisa dijadikan sebagai alasan untuk menjadi tempat transit karena terhubung dengan Koh Samui dan bisa juga lanjut ke Phuket atau Krabi. Saya masih tetap nurut dengan rencana saya untuk turun di Hat Yai. Saya kembali tertidur.

arrived in hat yai
arrived in hat yai

Ketika bangun, langit sudah terang. Sepertinya kereta sudah masuk daerah selatan. Mungkin dekat Krabi, karena saya melihat banyak perbukitan batu kampur/limestone. Hutan, pedesaan dengan bukit-bukit limestone menjulang tinggi di ujung. Entah mengapa, setelah malam berganti pagi, saya tidak mendapatkan kebosanan lagi, mungkin karena bisa melihat pemandangan di luar. Saya bisa melihat perkampungan di selatan Thailand.

Tak jarang juga kereta membelah hutan. Ini lah petualangannya. Saat itu, seluruh jendela terbuka lebar. Kereta masuk ke dalam hutan dengan keadaan hutan sedang terbakar. Gila! bagaikan di film Indiana Jones, kereta terus melaju menembus api yang membakar hutan. Kepulan asap juga turut masuk ke dalam kereta. Banyak penumpang panik berlarian. Tak sampai tiga menit, kereta sudah lolos dari kebakaran hutan tersebut. Pfuuhh..

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Kereta mulai mendekat ke kota Hat Yai. Ramai perkotaan sudah mulai terlihat dari kejauhan. Nampaknya Hat Yai adalah kota yang cukup nyaman. Berlangit teduh dengan pemandangan sekeliling bukit-bukit kapur. Sekitar jam 11 siang, kereta tiba di stasiun Hat Yai Junction, ngaret 5 jam dari jadwal.

You may also like

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.