Goyang Lidah di Bandung

Bandung, 9 September 2012. Agenda hari itu adalah bertemu sahabat waktu kuliah, Tammy, dan wisata kuliner dan kemudian balik ke Jakarta sore atau malam hari nya.

Berhubung saya sedang ngiler banget mau Mango Dessert di Kedai Ling-ling, Saya, Tammy, dan Bimo, langsung meluncur ke Kedai Ling-ling cabang Sultan Agung. Cukup sekali angkot saja dari Dago.

Mango Dessert, Kedai Ling-ling ©jajalable.com

Sialnya, ketika sudah sampai Sultan Agung, kedai Ling-ling nya tutup. Kesialan ditambah diguyur hujan, padahal Tammy cerita kalau sudah dua minggu hujan tidak turun hujan. Sepertinya, enggak di Shanghai, Saigon, Angkor, Bangkok, dan Penang, saya ini pemanggil hujan yang jitu.

Akhirnya, alternatif lain adalah mampir ke rumah makan Legoh. Saya pernah mampir ke sini, namun belum sempat mencoba Nasi Goreng Hitam nya yang katanya legendaris. Akhirnya, kami semua memesan Nasi Goreng Hitam, dan hanya Bimo yang memilih level kepedesan paling rendah. Saya sih emang dasarnya suka pedas, dan ingin mencoba gimana nih kalau pesen dengan level kepedesan yang super.

Sekitar 20 menit, makanan tiba. dan… tererereeeng! sepiring besar nasi goreng berwarna hitam pekat beserta hamparan biji cabai yang tak terhitung lagi jumlahnya hadir di depan mata saya. Wuidih… biji cabainya saigan dengan jumlah butiran nasinya. Berbeda dengan nasi goreng Bimo yang sama sekali tak pedas, tak terlihat juga sebutir cabai pun di atas nasinya.

Nasi Goreng Hitam, Legoh ©jajalable.com

Satu hingga lima suapan, rasanya nikmat banget. Kegurihan kuah cumi yang membuat nasi ini menghitam serta bumbu masaknya membuat Nasi Goreng Hitam ini terasa lezat. Namun, setelah lima suapan, rasanya enaknya berubah jadi pedes. Gokil! selama perjalanan 3 minggu keliling 6 negara, ini masakan terpedas yang saya makan. Over all, makanan ini recommended hanya saja tidak disarankan untuk memesan yang super pedas. hosh hah…

Ronde kedua, untuk membakar lemak, kami berjalan kaki hingga tiba di jalan RE Martadinata. Kemudian Tammy mengajak saya untuk mencoba makan di Warung MISBAR (Gerimis Bubar). Konsep warung makan ini adalah mengusung film-film zaman dulu, misal; Jaka Sembung, Warkop DKI, dll. Di dalam warung makan ini juga terdapat sejenis amphiteather dan layar tancep yang suka memuter film-film jadul.

Menu makanan di MISBAR? konsepnya sih a la buffet dengan menu makanan tradisional, misalnya gudeg, dan teman-teman sejenisnya. Nah yang unik adalah nama minumannya. Semua penamaannya dihubungkan ke dalam film-film, misalnya Es Nyi Iteng, Es Kabayan Saba Kota, Es Samson Betawi, dan sejenisnya.

Sepertinya, Bandung menjadi akhir dari food trail di perjalanan 7 negara ini. Setelah dimanjakan lidah dan perut, kini waktunya saya balik ke ibukota. Ehem.. ada kejadian seru di perjalanan pulang ke Jakarta, tunggu di postingan berikutnya.

You may also like

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.