Cirebon Express: Kuliner

Satu hal yang paling bisa diandalkan dari kota Cirebon adalah soal kulinernya. Nacil, partner jalan saya dengan rajinnya sudah meriset makanan apa saja yang wajib untuk diicip. Begitu keluar stasiun kami tak hanya diserbu oleh teriknya matahari, tapi juga tukang-tukang becak. Kami tak berniat untuk becak-an selama di Cirebon, berhubung budget minim, jadi kami memilih angkot yang kemana-mana Rp.2000 saja.

Image
Tahu Gejrot

Makanan yang akan kami serbu pertama kali adalah tahu gejrot. Ini bisa dikatakan menjadi ikon nya kota Cirebon. Ketika di dalam angkot, kami sibuk tengok kiri kanan untuk berburu tahu gejrot. Begitu keliatan wujudnya, kami langsung “kiri bang!”. Angkot berhenti dan kami menyerbu abang tukang tahu gejrot. Kebetulan saya juga lagi kepengen makan rujak, sebelahan dengan si abang tahu gejrot ada tukang rujak. Jadi lah kami pesan juga sekalian, sepiring berdua. Enaknya punya teman jalan adalah kita bisa berbagi soal biaya apapun termasuk makan.

Tahu gejrot random pinggir jalan ini kami beri nilai 3,5 dari 5. Rasa bumbunya enak dan gurih, begitu juga dengan tahu nya yang renyah, hanya saja kurang pedas. Untuk rujaknya, saya beri 1,5 dari 5. Kenapa? Buah-buahannya tidak lengkap dan mangga yang disajikan itu wangi dan lembek banget, tidak cocok dimasukkan ke dalam rujak, sambalnya pun gak sedap.

Aneh, siang hari langit begitu terik tapi masuk jam 4 sore, langit mendung dan super gelap. Akhirnya kami merapat ke McDonalds 24 jam di jalan RA Kartini. Uniknya McDonalds di Cirebon, mereka memakai desain dan ornamen-ornamen lokal. Misalnya, wallpaper yang digunakan adalah desain kontemporer perpaduan batik dan grafis-grafis modern, unyu banget.

Hujan mengguyur Cirebon sore itu, hampir 3 jam kami terjebak di dalam McD yang berAC dingin dengan wifi super cepat. Kami nyesel gak bawa laptop, kan asik nulis-nulis sambil liatin ujan.

Berhubung lapar dan belum makan malam. Nacil mengajak saya untuk santap malam di Empal Asem Amarta. Berkat petunjuk orang lokal, dari Jalan RA Kartini kami naik becak hingga perempatan dekat Grage Mall. Dari sana kami naik angkot (lupa nomornya) dan minta diturunkan di Amarta. Perjalanan memakan waktu 10 hingga 15 menit. Rupanya Empal Asem Amarta ini terletak di jalan Batembat, sebuah rute yang sering dilewati kalau saya mudik.

Image
Empal Asem Amarta

Saya sudah sering mendengar tentang Empal Gentong walau belum pernah mencoba, tapi baru kali ini tau tentang Empal Asem. Jadi, apa bedanya? Kalau kata pejualnya, Empal Gentong dan Empal Asem hanya beda pada kuahnya, Gentong berkuah bersantan, sedangkan Asem berkuah bening. Sesuai namanya, Empal Asem Amarta, jadi kami memilih untuk menyantap Empal Asemnya. Tak perlu menunggu lama, akhirnya disajikan dua mangkok Empal Asem yang terlihat sangat segar, dan sepiring nasi dengan porsi besar. Empal Asem Amarta memiliki kuah yang sedap dan bikin melek. Asemnya itu loh seger banget. Apalagi dimakan pas hujan-hujan, slurrpp!

Keesokan harinya, kami bangun pagi dan langsung cari sarapan. Kebetulan hari minggu jadi aktivitas di jalan tidak begitu padat, tapi.. kepadatan aktivitas berpindah ke warung Nasi Jamblang Mang Dul. Walah.. sepertinya, warung makan ini benar-benar recommended. Buktinya, baru jam 7 pagi tapi sudah dikeroyok massa.

Tak perlu ketok-ketok atau pencet bel, saya dan Nacil nyelonong masuk ke dalam warung makan dan bergabung bersama riuhnya keadaan di sana. Melihat orang di sekeliling makan dengan lahap bikin lapar bertambah. Model penyajian makanan di sini adalah semacam prasmanan. Di ujung meja, ada pelayan yang akan menawarkan piring dan memberikan nasi yang dibungkus dengan daun jati. Kita bebas meminta berapa banyak bungkus yang kita mau. Idealnya sih dua bungkus, karena satu saja tidak cukup :D. Kemudian, di meja tertata rapi menu lauk pauknya. Ada berbagai macam, seperti ayam goreng, ayam bumbu cabe, sotong, sambal, ati dan ampela, dan berbagai macam lauk pendamping lainnya. Bebas memilih dan harus diingat menu apa saja yang kami pilih.

Image
Nasi Jamblang Mang Dul

Apa yang spesial dari Nasi Jamblang Mang Dul? Ini pertama kalinya saya mencoba yang namanya nasi jamblang. Bahannya dari nasi putih biasa, namun entah ada olahan khusus atau karena dibungkus oleh daun jati, nasi jamblang memberi kesan sepet, padet, dan gurih. Berbeda juga dari nasi uduk, nasi jamblang tak berminyak. Untuk lauk pauk sih, sesuai pilihan selera masing-masing, namun karena saya suka sotong jadi rasanya enak-enak aja. Oh iya, sambal nya ini bayar loh, kenapa? Karena sambalnya enak! Kamu harus coba.

Image
Nasi Lengko

Perjalanan kuliner di Cirebon tak sampai di nasi jamblang, masih ada makanan yang mau saya icip. Masuk siang hari, saya mencari makan siang dan berhasil menemukan warung Nasi Lengko yang terkenal. Nasi Lengko Haji Barno ternyata menjadi salah satu tempat yang tersohor di pusat kota Cirebon. Apa sih nasi lengko? Saya pun belum pernah mencoba. Ketika masuk, warung ini hampir penuh oleh pelanggan-pelanggannya. Biasanya, di sini, nasi lengko disajikan dengan sate ayam. Jadi lah saya pesan satu porsi nasi lengko dan 10 tusuk sate ayam. Tak perlu menunggu lama, makanan langsung disajikan.

Image
Sate & Nasi Lengko

Ternyata, nasi lengko adalah perpaduan antara nasi, tahu dan tempe(yang tidak mateng atau setengah mateng mungkin?) ditambah sayuran yaitu toge. Seger-seger anyep sih kalau menurut saya. Untungnya memesan sate dengan sambal kacangnya yang gurih, memang pantas disajikan dengan nasi lengko. Oh iya, buat saya, satu porsi nasi lengko di Haji Barno itu cukup banyak, jadi kamu bisa makan berdua untuk menyicip menunya yang lain. Misalnya, es duren dan tahu gejrot. Over all, nasi lengko mengenyangkan dan menambah variasi nasi-nasian yang pernah saya temui. Soal rasa sih, makan sedikit saja cukup.

Maka, berakhir lah perjalanan kuliner singkat di kota Cirebon ini. Saya pun masih mau balik untuk menikmati tahu gejrot dan nasi jamblang sepuasnya. Selain itu, saya masih terus mencari, kuliner apa yang belum pernah saya coba di Cirebon. Ada ide mungkin?

You may also like

29 Komentar

  1. om gue pernah kerja di cirebon, waktu kecil suka mampir makan bakso enak deket PLN wadduuh cuman lupa namanya apa. enak banget rek cuman emang ngak ada yang mengalahkan tahu gejrot asli cirebon

  2. perjalanan kuliner singkat ? yakin sebanyak itu dibilang singkat. Disini udah ngiler sambil ngemil kasur gara2 lapar lho, kakakaka. Ditunggu ulasan kuliner yang lain ya 🙂

  3. docang sama mie koclok, feb
    klo docang ada di blog gue fotonya
    klo mie koclok blm sempet moto, tp unik sih krn ada semacam bubur gitu utk kuahnya, dulu nyoba mie koclok di deket grage, dan gue suka banget mie koclok ini, haha

    1. pernah liat kedainya mie koclok, blm sempet nyoba hehe tapi docang blm tau tuh.. oke gue intip ke blog lo 🙂
      kalo ada promo KAI lagi mau ah book ke Cirebon lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.