April: No’where’ atau Now’here’

Image

Wah, rasanya lama tidak memberikan kabar di blog ini. Halo semua! kita sudah berada di bulan Mei. Rasanya baru kemarin atau minggu lalu, saya merasakan ngambang seharian di teluk Kiluan. Berdansa bersama lumba-lumba dan diselimuti laut biru yang menenangkan, ciaaah!

April dibuka dengan suka cita, datang ke wisuda dua orang sahabat di Bandung. Waktu memang cepat sekali berjalan. Rasanya baru kemarin berketar-ketir untuk mempersiapkan Ujian Nasional, eh tau-tau kami hampir semuanya sudah diwisuda.

Hingga ke pertengahan April, hari-hari berjalan seperti bulan-bulan sebelumnya. Hingga memasuki tanggal dua puluhan segala gelombang persoalan hidup merundung. Akibat keterlambatan, kerjaan menumpuk, bukan hanya satu, bahkan berlipat ganda. Berhubung saya bekerja di dua perusahaan berbeda, mendesain dan menulis bersamaan, rasanya seperti Avatar Aang yang kesusahan belajar segala elemen (tanah, air, api, udara). Saya kelabakan. Belum lagi, urusan perkuliahan yang jatuh tempo untuk ujian tengah semester. 7 mata kuliah siap menerjang saya selama tiga hari berturut-turut. Semuanya berbarengan datang dan saya tidak tahu, apakah mesti mendesain, menulis, atau belajar semua materi.

Tak puas rasanya cobaan mengguncang hidup, suatu pagi di hari kamis, sebuah pesan di grup whatsapp mengusik pikiran dan akal “demi apa Topa meninggal?”, Dang! Salah seorang teman terdekat sewaktu kelas X di SMA berpulang di hari itu. Lebih parahnya, kami sudah tidak mengobrol sedari naik ke kelas dua, yang sampai sekarang terhitung 6 tahun sudah. Sampai sekarang pun masih tidak percaya, dia berpulang secepat itu, dia yang pertama di angkatan kami.

Yah.. tak perlu dipikiri berlarut-larut. Seperti yang pernah saya bilang  “People come and go, to travel is to let you not to be comfort with any place or anyone. So, keep moving on!” Sesungguhnya, travelling itu hidup singkat di hidup yang singkat (hidup-singkat-ception). Bagaimanapun setiap orang pasti akan kembali ke sisi-Nya. Hmm…

Hari ini adalah May Day atau hari buruh. Peduli setan dengan segala demo dan orasi, kalau hanya jika bisa saya terlepas dari perburuhan ini, pasti saya sudah berada di negeri antah berantah atau terombang ambing di lautan Sawu dan tersesat hingga Darwin. Nyatanya, manusia hidup butuh yang namanya uang. Buat apalagi selain bertahan hidup dan jalan-jalan itu sendiri. Jadi, dari pada meratapi nasib menjadi buruh, lebih baik perbanyak pundi-pundi uang untuk berkeliling dunia. Bukan begitu?

You may also like

1 Komentar

  1. gue bacanya mrebes mili gitu, karena reverse sama April gue mak.
    Insha Allah April-April dan bulan-bulan berikutnya bakal smiling from ear to ear with no reason like I did now, cuma mensyukuri hidup aja udah bikin girang. hihihihihi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.