Matsumoto Si Kota Kastil

Matsumoto merupakan kota terbesar kedua di prefektur Nagano. Kota ini terkenal dengan kastil Matsumoto (Matsumoto-jo) yang merupakan salah satu kastil tercantik di Jepang. Selain itu, Matsumoto juga menjadi salah satu pintu masuk menuju destinasi menawan dan menantang seperti Japanese Alps, Kamikochi, Korikura, atau Tateyama-Kurobe Alpine Route. Dari Tokyo, kurang dari 3 jam dengan kereta limited express, Matsumoto bisa menjadi destinasi yang seru untuk melihat wajah Jepang yang otentik.

matsumoto-castle-from-the-ground
Salah satu kastil tercantik di Jepang, Matsumoto-.

Awalnya saya memang mendambakan liburan ke Kamikochi atau Tateyama-Kurobe Alpine Route namun berhubung hanya memiliki waktu sehari untuk berkunjung ke prefektur Nagano jadinya saya hanya bisa berkunjung ke kota Nagano dan Matsumoto. Selain itu, JR East Pass saya pun tak bisa menjangkau Kamikochi atau Tateyama-Kurobe, jadi harus mengeluarkan uang lagi kalau memang mau memaksakan diri berkunjung ke sana. Setelah berkunjung ke Zenko-ji dan menyusup ke Unjoden, kini saatnya saya menjelajah kota Matsumoto.

Tak banyak yang saya tahu soal kota ini kecuali kastilnya yang cantik. Pergi ke kota ini pun baru terpikir setelah saya tiba di kota Nagano, sekitar 4 jam sebelum saya tiba di Matsumoto. Alhasil, ketika saya tiba di stasiun Matsumoto, saya langsung masuk ke bagian tourism information. Untungnya ada staf yang sangat membantu dengan bahasa Inggris yang bagus. Saya diberi peta dengan informasi lengkap plus grafis yang bagus dan brosur-brosur pariwisata untuk inspirasi tempat yang wajib dikunjungi.

Menurut arahan staf di tourism information tersebut, saya bisa berjalan kaki dari stasiun Matsumoto ke Matsumoto-jo. Jaraknya hanya sekitar 1,5 km. Kalau memang mau naik bus, cukup merogoh kocek 100 yen dengan waktu tempuh 5 menit.

matsumoto-castle-view
Kastil Matsumoto
matsumoto-castle-information-sign
Papan informasi di setiap lantai.
matsumoto-castle-from-side
Desain yang rumit dari Matsumoto-jo

Sebelum ke Matsumoto-jo, saya sempat berkunjung ke Osaka-jo. Dari tipe desain memang tak berbeda jauh namun Matsumoto-jo terbilang unik karena warna bangunan didominasi oleh warna hitam. Tak salah jika bangunan ini juga sering disebut sebagai Karasu-jo/Kastil Gagak. Warna hitamnya memang terlihat seperti burung gagak. Selain itu, Matsumoto-jo juga bisa dibilang lebih otentik karena interiornya masih dijaga seperti pada pertama kali bangunan ini dibangun. Berbeda dengan Osaka-jo yang sudah sangat modern.

Aslinya Matsumoto-jo dibangun pada tahun 1504, berarti bangunan ini sudah berdiri sejak 5 abad yang lalu. Layaknya sebuah kastil, pada 1590 Matsumoto-jo kembali dikembangkan dengan beberapa pintu masuk, menara pemantau, dan parit/sungai buatan, kebun atau taman. Renovasi tersebut selesai sekitar tahun 1593 atau 1594. Nah, hasil renovasi tersebut adalah wujud yang bisa kita lihat di Matsumoto-jo sekarang. Uniknya, kalau kebanyakan kastil/benteng di Jepang dibangun di atas dataran tinggi atau di tepian sungai, Matsumoto-jo ini dibangun di lahan yang datar.

Sebuah pemandangan mekajubkan akan terpampang di depan. Sebuah kastil cantik berwarna hitam berdiri di seberang sebuah parit. Terlihat di kejauhan pegunungan tinggi memagari pemandangan sekitar. Saya melewati jembatan dan masuk ke sebuah gerbang yang di sampingnya terdapat loket. Tiket masuk ke Matsumoto-jo adalah 600 yen, tak peduli kamu orang Jepang asli atau orang asing. Bersamaan dengan tiket, saya juga diberikan brosur yang berisi sejarah singkat soal kastil cantik ini.

matsumoto-castle-inside
Interior Matsumoto-jo yang serba kayu.
matsumoto-castle-shogun-warrior
Baju zirah dan senjata yang digunakan pada zaman dulu.
matsumoto-castle-inside-stage
Tangga yang cukup terjal, gelap, dan licin di dalam Matsumoto-jo.

Ketika akan masuk ke dalam Matsumoto-jo, kita diwajibkan untuk membuka alas kaki. Tak lupa penjaga kastil memberikan kantong plastik untuk tempat membawa sepatu. Kemudian kaki saya terasa dingin meyentuh lantai kayu. Tak hanya lantai, hampir seluruh isi ruangan dilapisi oleh kayu yang saya tak tahu sudah berapa umurnya. Terdapat lima lantai yang masing-masing memiliki fungsinya sendiri. Sekarang di setiap lantai tersebut terdapat pameran barang-barang bersejarah seperti peralatan rumah tangga kerajaan, pakaian adat, baju zirah, senjata, dan kerajaninan serta karya sastra.

Tidak pergi bersama pemandu wisata? jangan khawatir, di setiap sudut ruangan di setiap lantai terdapat penjelasan mengenai penggunaan ruangan zaman. Rute jalan di kastik ini pun sudah dibuat jadi tak perlu takut tersesat.

Dulu ketika saya ke Osaka-jo memang serba dimanjakan dengan kecanggihan teknologi audio-visual. Tak perlu naik tangga karena terdapat lift. Nah, semua itu tak saya temukan di Matsumoto-jo namun itu lah serunya. Kastil ini benar-benar otentik. Pengunjung mesti naik tangga kayu yang saya yakin ini memang asli dari sananya. Pengunjung butuh ekstra hati-hati ketika meniki tangga karena cukup terjal dan licin. Untungnya di setiap lantai terdapat penjaga yang senantiasa mebantu kalau ada masalah.

matsumoto-castle-view-from-above
Pemandangan dari lantai 5 Matsumoto-jo.
matsumoto-castle-selfie
Mejeng dulu ya 😀

Yang paling saya suka selain melihat koleksi artefak adalah memandang kota Matsumoto dari ketinggian di lantai 5 kastil ini. Kita juga bisa mengetahui nama gunung-gunung yang memagari kota ini. Jadi terdapat foto beserta informasi mengenai pemandangan yang bisa dilihat dari atas menara pandang tersebut.

Setelah puas mengetahui sejarah dan menikmati pemandangan kastil yang otentik itu, saya bersantai di depan sungai buatan. Melihat angsa-angsa putih yang berenang di bawah refleksi Matsumoto-jo. Sore itu tak begitu ramai oleh wisatawan. Ada beberapa warga lokal yang sedang lari sore atau sekedar memomong anak berkeliling kastil cantik ini. Udara segar berhembus membawa kesejukan di sore itu.

***

Kota Matsumoto terbilang cukup strategis. Terdapat beberapa alternatif transportasi dari kota-kota besar seperti Nagano, Tokyo, Nagoya, Kyoto dan Osaka.

Tokyo: Naik kereta Azusa atau Super Azusa, yaitu kereta limited express yang berangkat dari stasiun Shinjuku. Waktu tempuh adalah 2 jam 40 menit dan harga tiketnya adalah 6200 yen untuk non-reserved dan 6700 yen untuk reserved seat. Terdapat satu hingga dua kereta setiap jamnya. Dengan kereta kelas biasa (local) kamu bisa naik JR Chuo Line dengan waktu tempuh 5 jam, tiga kali transit, dan berbiaya 3610 yen. Alternatif lain adalah dengan bus. Keio Highway Bus Terminal di Shinjuku dengan keberangkatan 1 jam sekali. Satu kali perjalana memakan waktu 3 jam 10 menit, berbiaya 3400 yen. Untuk tiket pulang pergi bisa lebih ekonomis yaitu hanya 5950 yen.

Kyoto/Osaka/Nagoya: Baik dari Kyoto maupun Osaka, kamu bisa naik JR Tokaido Shinkansen dari Shin Osaka atau Kyoto Station menuju Nagoya. Waktu tempuh sekitar 1 jam. Dari Nagoya, kamu bisa naik JR Shinano limited express menuju Matsumoto. Waktu tempuh 2 jam, dengan keberangkatan 1 kali setiap jamnya. Bisa juga dengan bus dari Osaka/Umeda station menuju Matsumoto, waktu tempuh 5,5 jam, berbiaya 5700/10.00 yen (one way/return).

Nagano: Paling mudah memang akses dari kota Nagano. Cukup naik kereta Shinonoi Line atau Shinano limited express.

You may also like

10 Komentar

  1. Bentuk di poto terakhir seperti Osaka Kastil yah, walau tinggian Osaka sedikit. sedikit ajah..ah,,, akhir tahun jadi serasa lama kalo begini. Bahaya ini blogmu, bikin kursi di ‘cubical’ serasa panas, gak betah. hahahahahaha..

          1. O, begitu, yah gak bakal sempet lagi donk, katanya itu salah satu yang tercantik, katanya. kalo begitu mari eksplorasi yang lainnya. 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.