Berburu Okonomiyaki, Takoyako, dan Hiroshimayaki

Kembali ke September 2013. Rasanya kurang afdol kalo gak nuntasin cerita perjalanan di Kansai dan malah mendahulukan laporan internship di bulan Novemeber tahun yang sama. Sedikit review, tujuan saya pergi ke Jepang di bulan September 2013 lalu adalah untuk menemui teman-teman baru saya yang ‘ketemu di jalan’. Saya akan menghabiskan 5 malam  di daerah Kansai, di mana 4 malam di Osaka dan 1 malam di Kyoto.

Mariko and Akiko berjalan di daerah Chuo

Hari rabu itu saya telah bertemu dengan Akiko dan Mariko. Mereka sengaja mengambil cuti dari kantor untuk menemani saya seharian jalan-jalan di Osaka. Setelah ditemani berkunjung ke Osaka Castle, mereka mengajak saya untuk makan siang. Ketika mereka tanya saya mau makan apa dengan spontan saya bilang “Takoyaki and Okonomiyaki!”. “Okay, iko! (let’s go)” kata Mariko.

Dari Osaka Castle, kami berjalan melewati NHK Osaka Hall terus sampai daerah Tanimachi. Daerah ini merupakan salah satu pusat bisnis di Osaka. Bisa dilihat dari ‘hutan beton’ di sekeliling. Mariko bercerita bahwa kantornya berada di dekat daerah ini. Ternyata cukup jauh juga antara kantor dan rumahnya karena Mariko tinggal di prefektur Nara, bukan Osaka. Tapi yang namanya Jepang, walaupun tinggal di prefektur tetangga tapi hanya membutuhkan waktu 40 menit untuk sampai di kantor. Padahal mungkin kalau di Jakarta ibarat dia kerja di daerah Thamrin sementara rumahnya di Bekasi, bisa berapa jam tuh? paling cepat 2 jam kayaknya *tepok jidat*.

Honmamon-tei

Serbu makanannya!

Awalnya mereka mau mengajak saya ke kedai andalan mereka namun ternyata tutup. Kemudian Akiko kembali mencari tempat makan di daerah ini dan menemukan restoran Teppanyaki di daerah Chuo. Ini pertama kalinya saya masuk ke restoran teppanyaki. Ketika masuk saya mendapati restoran ini sepi, hanya ada satu pembeli. Untuk restoran di tengah kota menurut saya tempat ini cukup ‘old school’. Di sini terdapat beberapa meja yang dilengkapi dengan papan penggorengan. Restoran ini dipenuhi dengan printilan dan dekorasi yang agak jadul. Ditambah dengan TV a la 90an.

Ketika diberikan menu saya bingung dengan beberapa istilah. Akhirnya saya menyerahkan semuanya kepada Akiko dan Mariko. Mereka memesan Okonomiyaki, Takoyaki, dan Hiroshimayaki. Saya hanya berpesan ke mereka untuk tidak memesan menu berbahan babi. Jadinya okonomiyaki dan hiroshimayakinya menggunakan isi seafood.

Ini menunya.

Terlihat sangar ya?

Tak sampai setengah jam, hiroshimayaki yang belum matang diletakkan di atas papan goreng di meja kami. ceeeesss… Katsuobushi (かつおぶし) di lapisan paling atas berjoget girang kepanasan. Belum selesai hiroshimayaki dipanggang, datang lagi okonomiyaki dengan bentuk yang mirip. ceess… wangi harumnya membuat perut semakin keroncongan. Kemudian takoyaki yang bentuknya menggemaskan juga tiba, siap untuk disantap!

Jadi apa sih perbedaan okonomiyaki dan hiroshimayaki? Okonomiyaki sendiri adalah pancake atau pizza a la Jepang. Isinya bermacam-macam, mulai dari daging (biasanya daging babi), octopus, cumi, udang, sayuran, mochi, atau keju. Adonan okonomiyaki sendiri merupakan perpaduan dari tepung yang dipadukan dengan nagaimo, air atau dashi, telur, dan irisan kol. Makanan ini sangat terkenal di daerah Kansai, terutama di Osaka. Selain di sini, makanan ini juga terkenal di Hiroshima dan namanya sering disebut dengan hiroshimayaki. Berbedaannya terletak pada isi dan toppingnya. Kalau okonomiyaki biasanya dilumuri oleh mayonaise, sejauh ini hiroshimayaki yang saya temui tidak diolesi mayonaise. Selain itu, hiroshimayaki juga berisi yakisoba/udon, yaitu mie goreng a la Jepang.

“Dibelah mas Okonomiyakinya..”

Ini Hiroshimayaki-nya 🙂

Setelah dibelah, squid-nya berkeliaran.

Setelah dicoba, jadi enakan mana antara okonomiyaki dengan hiroshimayaki? menurut saya, rasa yang paling pas buat saya adalah hiroshimayaki. Kenapa? karena beiri yakiudon jadi rasanya lebih padat dan lebih kenyal, berbeda dengan okonomiyaki yang terasa kopong atau kadang lembek jika tidak dimasak hingga matang. Kedua makanan ini tambah lezat dengan taburan nori halus. Rasanya jadi tambah gurih.

Kalau ada yang bilang “males banget makan direstoran tapi disuruh masak sendiri” nah itu tidak ngaruh di saya karena memang sensasi makan di teppanyaki tuh seru banget. Letak keseruannya adalah ketika melihat kepulan asap dan bahan-bahan yang berjoget kepanasan di atas papan masak. Ketika okonomiyaki dibelah dengan spatula, kepulan asapnya tambah heboh, ditambah aroma sedap yang menusuk hidung masuk hingga ke perut, tentu akan menambah sensasi lapar. Belum lagi suara nyesss dan ceeess yang ditimbulkan. Sluurrrpp oishii!

Takoyaki!

My kawaii girl, Akiko & Mariko.

Makan di restoran ini pun diberikan minuman air putih dingin gratis. Jadi bisa juga untuk menghemat budget jalan-jalan. Apalagi setiap meja diberikan satu termos tersendiri, jadi bisa refill terus. Makan di sini memang lebih enak sharing karena bisa berbagi jenis makanan. Layaknya makan pizza, setiap orang bisa mencicip setiap jenis potongan yang berbeda. Lagi pula harga makanan di sini juga lumayan mahal. Satu buah okonomiyaki/hiroshimayaki itu paling murah 800 yen. Sementara, untuk takoyaki berisi 6 itu seharga 800 yen.

Yuk goreng-goreng lagi..

-6.211544106.845172

6 tanggapan pada “Berburu Okonomiyaki, Takoyako, dan Hiroshimayaki”

  1. Pingback: Jantung Kehidupan Osaka di Umeda | TRIP TO TRIP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.