Bertamu ke Ikuta-Jinja dan Kitano-cho di Kobe

Kobe terkenal dengan kota pelabuhannya yang cantik dan juga daging wagyu yang super mahal. Kali ini, kunjungan saya ke Kobe bukan untuk mencari daging wagyu yang terkenal itu namun hanya sekedar untuk berkeliling kota, menikmati atmosfir kotanya yang katanya berbeda dari kota-kota di Jepang lainnya. Kobe merupakan ibu kota dari prefektur Hyugo, berada di kawasan Kansai dan merupakan salah satu dari 10 kota terbesar di Jepang.

Welcome to Kobe
Welcome to Kobe
Hankyu Railway station, Umeda, Osaka.
Hankyu Railway station, Umeda, Osaka.

Sebenarnya tidak ada sesuatu yang mendesak bagi saya untuk berkunjung ke Kobe. Saya berpikir, mumpung sudah di osaka dan ada waktu, tak ada salahnya untuk melihat-lihat sekitar. Kalau dilihat-lihat di internet sih, sepertinya memang benar bahwa Kobe merupakan kota yang menarik. Terletak di antara laut dan pegunungan Rokko, membuat siapapun yang berkunjung akan dimanjakan oleh pemandangan kota pelabuhan yang apik.

Efek jalan-jalan seharian di Osaka membuat saya teler. Alhasil, saya baru bangun jam 10 pagi. Ditambah gegoleran dulu, terus sarapan, dan baru mandi. Jadilah saya berangkat jam 12 dari penginapan di Toyo Hotel. Dari Shin Imamiya, saya mesti naik Nankai Line menuju stasiun Umeda. Nah, di sinilah pusat dari segala aktivitas migrasi penduduk setempat. Salah satu cara paling mudah dan murah menuju Kobe adalah dengan naik kereta di jalur Hankyu. Stasiunnya sendiri terpisah dari stasiun Japan Railway (JR). Tarif yang dikenakan dari Umeda menuju stasiun Sannomiya di Kobe adalah 320 yen, dengan waktu tempuh selama 25 menit.

Sedikit mengenai kereta Hankyu line, saya sangat menyukai perusahaan perkeretaan ini karena mereka memiliki selera yang bagus dalam hal desain. Lihat saja warna gerbong-gerbongnya yang terkesan ekslusif ini. Belum lagi, tarifnya lebih murah ketimbang JR. Sayangnya, menu pembelian tiket di jalur Hankyu ini tidak memiliki menu berbahasa Inggris atau bertuliskan huruf romanji. Jadi, kalau tidak mengerti, mintalah bantuan ke pada petugas.

Kobe selama berabad-abad menjadi kota pelabuhan penting bagi Jepang. Memasuki abad ke-19, kota ini menjadi pintu masuk bagi perdagangan dengan asing bersama dengan pelabuhan di kota Yokohama, Nagasaki, Hakodate, dan Niigata. Peranannya yang penting ini membuat Kobe menjadi salah satu kota terbesar dan maju di Jepang. Tak heran jika kamu mendapati pemandangan gedung-gedung tinggi perkantoran di pusat kota Kobe.

Pusat kota Kobe berada pada daerah Sannomiya. Di sinilah kamu bisa turun ketika naik kereta di jalur Hankyu. Dari Sannomiya, kamu bisa mengakses berbagai tempat yang menjadi atraksi utama kota Kobe. Selain pusat perbelanjaan dan juga hiburan, di Sannomiya juga kita bisa menemui sebuah kuil yang cukup besar. Ikuta-jinja atau kuil Ikuta merupakan salah satu kuil Shinto yang cukup menawan dan sayang untuk dilewatkan. Kuil ini disebut-sebut sebagai salah satu kuil tertua di Jepang. Pada salah satu literatur tertua di Jepang, Nihon Shoki, kuil ini dibangun oleh kekaisaran Jingu pada awal abad k-3 setelah masehi. Sebenarnya hampir tak percaya karena ketika berkunjung ke sana, kuil ini masih terlihat kokoh dan apik. Mungkin karena kuil ini melakukan revitalisasi secara berkala seperti aset sejarah lainnya di Jepang.

Beranjak dari Ikuta-jinja, saya mencoba untuk mencari jalan menuju Kitano-cho, yaitu sebuah wilayah yang dulunya dijadikan kompleks perumahan gaijin atau ekspatriat. Uniknya, Kitano memiliki bangunan-bangunan bergaya Eropa. Kawasan Kitano berdiri di kaki pegunungan Rokko. Dalam bahasa Jepang, kawasan ini diberina nama Ijinkan. Beberapa rumah di sekitar kawasan ini kini telah disulap menjadi kafe dan butik, sementara itu ada juga rumah yang dijadikan museum, beberapa di antaranya mengenakan tarif masuk beberapa lainnya gratis.

Tempat ini menjadi salah satu tempat favorit saya di Jepang. Kawasan Kitano sangat ramah bagi pejalan kaki. Jalannya memiliki tipe naik turun karena memang berada di kaki gunung namun justru inilah yang membuat saya terpukau dengan pemandangan di sekitarnya. Jajaran perumahan bergaya klasik ini tetap berjejer rapih meskipun kontur lahannya tidak rata. Meskipun sedang musim panas namun kawasan ini tetap teduh. Perjalanan berkeliling ditemani dengan rindangnya pohon maple yang masih menghijau.

Bagi yang muslim, kamu bisa menemukan masjid di kawasan Kitano ini. Masjidnya cukup besar dan bagus (untuk ukuran di Jepang). Bahkan ketika saya solat di sana, saya bertemu dengan orang Indonesia. Lucunya, ketika akan mengambil wudhu, saya bertemu dengan seorang mas-mas, kami cuma tatap-tatapan seolah sedang berkomunikasi “lo orang Indonesia ya?”. Demi memecah kecanggungan, kami berdua melontarkan pertanyaan yang sama secara berbarengan “dari mana mas?”. Ternyata dia sedang bekerja di Jepang. Tinggal di dekat Kyoto namun sedang jalan-jalan di Kobe.

Dari Kitano, saya berjalan kaki menuju pusat kota lagi. Tujuan saya adalah melihat pelabuhan untuk mendapatkan signature photo dari Kobe. Sayangnya ketika sampai di kawasan Sannomiya, saya baru sadar bahwa saat itu sudah jam 3 sore. Saya ada janji untuk bertemu dengan seorang teman di Nara pada jam 5 sore. Sementara untuk ke Nara saya mesti balik ke Osaka, setidaknya membutuhkan waktu 1,5 jam untuk bisa sampai Nara. Akhirnya saya langsung bergegas ke stasiun dan naik kereta menuju Osaka.

Selain menyajikan pemandangan yang apik, Kobe juga merupakan kota yang menyenangkan. Meskipun kota besar, kota ini tak terkesan angkuh dan sibuk. Kita masih bisa merasakan kesan santai a la pesisir laut. Kota ini juga berubah menjadi lebih cantik ketika musim dingin tiba. Pada akhir tahun, kita bisa melihat illumination dan Kobe menjadi kota yang terkenal akan illumination-nya. Selain itu, jika kamu berniat untuk berkunjung ke Kobe, cobalah untuk mampir ke Chinatown karena merupakan Chinatown terbesar se-Jepang. Shin-Kobe Ropeway juga menjadi hal yang seru, kamu bisa melihat kota ini dari atas ketinggian.

***

Selain Hankyu Railways, kamu juga bisa menuju Kobe dengan Japan Railways (JR) dari Osaka station. Tujuan akhirnya adalah JR Sannomiya Station. Tarif yang dikenakan yaitu 410 yen dengan waktu tempuh 20 menit. Sementara itu, Hanshin Railways juga beroperasi dari stasiun Umeda dan Osaka-Namba station menuju Sannomiya station. Tarifnya 410 yen dengan waktu tempuh 45 menit.

You may also like

10 Komentar

  1. Jadi cuma sehari ya jalan jalan ke kobe trus langsung ke nara? Niatnya mau gitu juga nanti, tp sedalia ngunjungin himeji, gatau deh kuat atau ngga, hahaha.
    Masjid kobe nya cakep yaa, jadi pengen mampir nanti.
    Btw salam kenal feb *nyasar kesini gara gata mau baca soal trip jepangnya*

    1. Salam kenal.. makasih loh udah berkunjung dan komentar di postingan Jepang 😀

      Gak direkomendasiin sih dari Kobe ke Nara haha jauh dan banyak waktu kebuang. Enaknya sediain waktu sehari buat Nara sendiri 🙂

  2. Jauh2 ke Jepang tetep nemu perantau dari Indonesia ya hehe…
    Nggak ada foto bangunan di Kitano-cho Feb?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.