Nara dan Kuil Terbesar se-Jepang

Mungkin Nara tak seterkenal Kyoto, padahal Nara merupakan ibukota permanen pertama Jepang. Nara menjadi ibukota Jepang pada tahun 710-784 hingga kemudian dipindahkan ke Kyoto karena pengaruh ajaran Buddha sudah begitu kuat di Nara. Kuatnya ajaran Buddha yang berkembang di Nara masih bisa dilihat hingga sekarang. Nara menjadi kota yang paling tepat bagi Anda yang ingin mengetahui akar budaya Jepang. Di sini terdapat kuil pertama dan terbesar di Jepang. Tak hanya itu, bagi pecinta binatang, Nara menjadi kota yang paling seru untuk dikunjungi karena Anda dapat bertemu rusa-rusa lucu bebas berkeliaran. Selain untuk melihat “The Ancient Capital of Nara” saya juga ingin reunian dengan seorang teman.

Dari Kobe, saya terus melaju bersama kereta Hankyu menuju pusat kota Osaka. Untuk menuju Nara, kita bisa ke Stasiun Namba dengan naik Kintetsu Nara Line (40 menit, ¥540) atau naik JR Nara Line di stasiun Osaka (45 menit, ¥780) dan Tennoji (30 menit, ¥450). Dari rincian harga tersebut, saya langsung melirik harga termurah yaitu naik JR Nara Line dari stasiun Tennoji. Kebetulan saya sudah punya daily pass Osaka subway sehingga tidak perlu membayar lagi naik subway dari Umeda ke Tennoji. Walaupun sebenarnya, lebih direkomendasikan untuk naik Kintetsu Nara Line karena stasiunnya lebih strategis dibanding JR Nara Line. Kenapa? Stasiun Kintetsu Nara Line berada lumayan dekat dengan Nara Park, sehingga cukup berjalan kaki untuk menuju objek wisata di sekitarnya.

Perjalanan dengan JR Nara Line sangat menghibur. Kalau sebelumnya perjalanan ke Kobe hanya dihibur oleh pemandangan sub-urban dan perumahan, kini perjalanan ke Nara dihibur oleh pemandangan hijau persawahan. Waktu itu sekitar jam tiga sore, kereta hampir dipenuhi oleh para pelajar yang baru pulang sekolah. Melihat seragam sekolah khas Jepang rasanya seperti menonton anime di dunia nyata.

Saya tiba di stasiun JR Nara dan langsung menuju ke tourism information. Di sana kita bisa bertanya sesuka hati, dibantu oleh staf yang bisa berbahasa Inggris. Kota yang sudah berumur lebih dari 1300 tahun ini berada di peringkat empat sebagai kota yang paling sering dikunjungi turis di Jepang (setelah Tokyo, Kyoto, dan Osaka). Maka tak perlu kesulitan untuk mendapatkan informasi. Setidaknya kota ini memiliki banyak papan informasi jadi tak perlu takut nyasar. Kita juga bisa meminta peta serta buku panduan singkat soal berwisata di Nara.

Dari stasiun JR Nara, saya naik bus loop line menuju Todaiji, tarifnya hanya ¥100. Sebelum saya bercerita soal Todaiji, bangunan kayu terbesar dunia itu, saya mau cerita soal Nara Park. Awalnya saya kira Nara Park atau Nara-kōen hanyalah sebuah taman biasa, ya selayaknya Yoyogi Park atau Shinjuku Gyōen di Tokyo. Ternyata, Nara park merupakan sebuah ruang hijau yang sangat luas. Terletak di pusat kota Nara, taman ini juga menyimpan ‘national treasure’ atau warisan sejarah yang umurnya sudah berabad-abad. Beberapa situs sejarah ini berupa kuil, pagoda, dan taman klasik. Di Nara Park ini juga dilepas ribuan rusa. Bahkan rusa-rusa tersebut banyak berkeliaran di jalan.

Salah satu tempat yang paling sering dikunjungi di Nara Park adalah Todai-ji. Merupakan rumah bagi Daibutsu atau patung Buddha terbesar se-Jepang. Daibutsu-den atau aula yang menyimpan patung Buddha ini merupakan bangunan kayu terbesar dunia, juga telah masuk ke dalam daftar World Heritage oleh UNESCO. Ketika tiba di depan pintu masuk, kita akan disambut terlebih dahulu oleh toko-toko souvenir. Ada juga becak khas Jepang yang ditarik oleh abang-abang, kalau naik ini nanti akan didongengi juga loh. Sore hari itu juga saya melihat banyak anak-anak sekolah yang berkumpul di pelataran pintu masuk, sepertinya mereka sedang studi-wisata. Tak ketinggalan, banyak sekali rusa-rusa bebas berkeliaran. Memohon-mohon ke pada pengunjung untuk memberikan shika sembei atau biskuit rusa (¥150).

Sebelum bisa melihat Daibutsu, pertama-tama kita akan disambut oleh Nandai-mon yang dijaga oleh dua buah patung besar. Setelah melewatai Nandai-mon, kita akan berjumpa dengan Todaiji Museum yang baru dibangun pada 2011. Ikutilah terus jalanan berbatu menuju loket tiket. Kita akan dikenakan biaya masuk sebesar ¥500. Dari loket, saya terus berjalan melewati koridor dan ketika menengok ke arah kiri saya bedecak kagum. “wooow. gede banget”. Ini merupakan kedua kalinya saya melihat bangunan raksasa dari kayu setelah di Forbidden City, Beijing.

Terdapat pelataran luas sebelum masuk menuju Daibutsu-den. Kita juga bisa membasuh tangan dan berkumur di choyuza yang memang biasa terdapat di kuil-kuil. Begitu memasuki pintu masuk, kita langsung disambut oleh patung Buddha setinggi 15 meter. Orang Jepang yang berkunjung kebanyakan berdoa dulu di depan patung Buddha sebelum memulai berkeliling di dalam hall ini. Tak hanya patung Buddha, kita juga menjumpai berbagai patung berukuran besar, seperti avalokiteshvara dan dewa-dewi lainnya.

Jadi, bangunan yang sekarang kita lihat ini merupakan hasil rekonstruksi yang dilakukan pada tahun 1692 dan ukurannya yang sekarang hanya dua per tiga ukuran aslinya. Tak bisa membayangkan lebih jauh lagi seberapa besar ukuran aslinya? Di dalam hall ini juga terdapat replikasi ukuran-ukurannya yang terdahulu serta yang sekarang, jadi bisa membandingkan seberapa bedanya.

Ada yang unik di dalam hal ini. Ada sebuah pilar besar yang di bagian bawah terdapat lubang cukup besar. Bagian ini memiliki mitos, siapa yang berhasil melewati lubang tersebut maka keinginannya akan terkabul. Meskipun agak mustahil bagi orang dewasa untuk melewati lubang di pilar ini namun banyak orang tua yang menyuruh anak-anaknya masuk melewati lubang di pilar tersebut. Lucu ya?

Asik berkeliling, saya tak sadar waktu sudah hampir menunjukkan pukul 5. Kebetulan saya sudah janjian dengan seorang teman di Stasiun Kintetsu Nara. Saya langsung bergegas ke luar Todaiji dan menaiki bus menuju stasiun. Sayang sekali belum bisa eksplor lebih banyak mengenai objek di sekitar Todaiji. Selain wajib dikunjungi, Todaiji juga menurut saya menjadi salah satu tempat di Jepang yang perlu untuk dikunjungi kembali.

You may also like

23 Komentar

  1. Baca postingan ini jadi merasa melakukan hal yang “agak mustahil” karna tiga taun lalu, saya (yang pastinya sudah termasuk orang dewasa) sukses ngelewatin lubang di pilar di Todaiji ini 😀

  2. Beneran kaya setting yang sering baca di komik Jepang hehehe… Kurang Usagi ama Mamoru yang bawa setangkai mawar merah 😀

      1. Berarti bisa dikatakan warga Jepang keren ya… promosi kota ama keindahan negaranya lewat komik hehe
        Indonesia kapan ya bikin komik macem gituan? 😀

  3. Wah enak sekali pas datang ke Todaiji termasuk sepi… Waktu saya kesana aaarrrgghhh… penuh banged dan kaki rasanya mau putus karena jalan dari JR ke JR bolak balik… tetapi asli emang keren banget yaa….

  4. Ah, kemaren gak sempat ke sini…Noted, sepertinya harus dimasukkan keberangkatan berikutnya. 😀
    *Oktober segeralah datang, tanpa melewatkan tanggal-tanggal gajian dibulan sebelumnya*

    😀 😀 😀

      1. Koq, asa list dari hari ke hari semakin bertambah banyak yah, belom ada ‘checked list’..arghhhhhhh…dunia ini gak selebar daun kelor ternyata. Luas sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.