Mencari Shangri-la di Koyasan

Kawasan Kansai di Jepang menyajikan banyak sekali tempat-tempat menarik untuk dikunjungi. Mulai dari kota bisnis seperti Osaka hingga kota budaya seperti Kyoto dan Nara. Perjalanan ke Jepang kali ini, saya memiliki waktu lima hari untuk mengeksplorasi kawasan Kansai. Tentu kota-kota tadi sudah masuk ke dalam itinerary namun saya masih penasaran dan ingin mencari kota lain untuk dikunjungi. Akhirnya setelah ubek-ubek Lonely Planet, saya menemukan satu tempat yang nampaknya sangat menarik. Dari deskripsinya, tempat ini menawarkan keotentikan, kedamaian, dan keindahan alamnya. Tempat tersebut adalah Koyasan, terletak di prefektur Wakayama.

Mencari Shangri-la di Koyasan
Mencari Shangri-la di Koyasan

Koyasan atau Mount Koya merupakan pusat ajaran Buddha Shingon. Merupakan salah satu sekte atau aliran Buddha yang sangat penting di Jepang, ditemukan pada tahun 805 oleh Kobo Daishi atau lebih juga dikenal dengan nama Kukai. Ajaran Shingon Buddhism ini dibawa oleh Kukai dari Cina. Setelah melakukan perjalanan keliling Jepang selama bertahun-tahun, akirnya Kukai menemukan tempat yang tepat untuk mengembangkan ajaran tersebut, yaitu di Koyasan. Tempat yang berada di dataran tinggi, dikelilingi oleh pepohonan cemara yang teduh, dan suasana yang damai membuat Koyasan menjadi tempat yang cocok untuk dijadikan basis meditasi para biksu. Mulai dari satu kuil, kini kawasan Koyasan sudah dipenuhi oleh ratusan kuil. Tak salah jika Koyasan disebut sebagai Shangri-la-nya Jepang. Jaraknya yang tak terlalu jauh dan dapat dijangkau oleh transportasi umum membuat tekad saya untuk berkunjung ke Koyasan semakin kuat. Ditambah lagi saya mendapatkan teman jalan, orang Jepang asli yang tentunya akan banyak membantu. Siang itu, saya janjian dengan Jun. Saya kenal dengan Jun lewat jejaring sosial khusus pelancong. Kebetulan juga, malamnya nanti saya akan menginap di tempat Jun. Sebelum berangkat saya main ke tempatnya dulu di daerah Tennoji, Osaka, untuk menitipkan tas ransel. Sekitar jam satu siang, kami baru meluncur ke stasiun Shin Imamiya untuk naik kereta menuju Koyasan.

Berhubung kami kesiangan, akhirnya kami memutuskan untuk menaiki kereta limited express. Jalur yang kami ambil adalah Nankai Electric Railway. Kereta ini berangkat dari stasiun Namba menuju Gokurakubashi, yang selanjutnya perjalanan dilanjutkan oleh cable car menuju stasiun Koyasan. Tarif yang dikenakan di kereta limited express ini adalah ¥1610 dengan waktu tempuh hanya 80 menit. Sementara jika kamu mau naik kereta ordinary express, tarifnya adalah ¥1210 dengan waktu tempuh 10 menit lebih lama. Jika sudah tiba di stasiun Gokurakubashi, kamu bisa membeli tiket terusan cable car menuju stasiun Koyasan sebesar ¥360 dengan waktu tempuh hanya 5 menit. Nah, kebetulan kemarin Jun menyarankan saya untuk membeli paket Koyasan World Heritage ticket di counter Nankai yang ada di stasiun Shin-imamiya (pastinya ada juga di stasiun Namba). Kalau mau paket di kereta kelas express harganya ¥2,780 dan untuk kelas limited express ¥3,310. Tiket ini berlaku untuk satu hari (24 jam), jadi kalau kita mau menginap dan baliknya keesokan hari pun masih bisa digunakan. Selain tiket pulang pergi, paket inipun juga memberikan diskon-diskon tiket masuk dan belanja di toko souvenir.

Saya mesti bilang, perjalanan naik kereta menuju Koyasan adalah salah satu perjalanan kereta terbaik saya. Pertama-tama kereta menjauh dari kawasan urban Osaka. Memasuki kawasan sub-urban yang lebih ramah bagi mata. Hamparan persawahan hijau beserta kompleks perumahan khas Jepang tersuguhkan dalam perjalanan ini. Makin jauh berlari, kereta ini mulai memasuki kawasan pedesaan di mana jarak antar rumah semakin jarang. Pemandangan sekitarpun mulai diselimuti oleh hamparan pepohonan hijau tinggi menjulang. Tak berapa lama, kereta mulai berderit, kecepatannya terasa berkurang. Oh.. nampaknya kami sedang melaju menanjak bukit. Pemandangan makin spektakuler lagi. Di kanan saya gunung, di kiri lembah yang cukup dalam. Kereta bagaikan masuk ke dunia mistis, jalur ini terus membawa kami masuk ke dalam koridor pepohonan cemara yang menyejukkan mata. Sayapun ikutan menarik napas panjang. Spektakuler sekali! Perjalanan berat menanjak inipun akhirnya harus berakhir di stasiun Gokurakubashi. Ketika ke luar dari kereta, kami langsung disambut oleh udara segar nan sejuk pegunungan. Ditambah hembusan angin sepoi-sepoi menyapa, sekaligus membawa aroma teduh pepohonan cemara dan pinus di sekitar. Hmm… Kami terus berjalan, melewati koridor yang dihiasi oleh deretan kertas-kertas doa dan didampingi oleh suara lonceng yang berdering dimainkan angin. Tak jauh dari pemberhentian kereta terdapat stasiun cable car yang akan mengajak setiap penumpang naik lebih tinggi lagi. Ini merupakan pengalamna pertama saya menaiki cable car. Meskipun hanya 5 menit namun saya sudah sangat puas menaiki cable car menuju stasiun Koyasan tersebut.

Dari stasiun Koyasan inilah perjalanan berkeliling Shangrila-nya Jepang dimulai. Ada banyak tempat yang bisa dieksplor, mulai dari kompleks makam terbesar se-Jepang yang menyimpan jasad dari biksu Kobo Daishi hingga kompleks kuil yang super keren di Garan. Saya sangat semangat untuk mengeksplorasi kawasan ini.

You may also like

6 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.