Ingin Mengenal Teh Sri Lanka? Mampir ke Haputale Yuk!

Haputale sering menjadi destinasi yang terlupakan, biasanya para pelancong lebih memilih untuk berkunjung ke Nuwara Eliya sebagai base dari perjalanan ke Horton Plains atau ke Ella untuk melihat air terjun. Padahal kalau ingin mencari ketenangan dan lebih mengenal teh, Haputale adalah destinasi yang tepat. Anda dapat dengan mudah menemui tempat-tempat belajar teh dan juga mengeksplor kebun-kebun tehnya. Perjalanan ke Sri Lanka dan menyempatkan diri untuk tinggal di Haputale selama 3 hari 2 malam membuat saya semakin kenal dengan teh di Sri Lanka.

Bersamaan dengan deru mesin kereta yang semakin melambat, kedatangan saya di Haputale disambut oleh kabut putih halus di stasiun Haputale. Jam masih menunjukkan sekitar pukul 3 siang, matahari sekelebat hilang dimakan kabut yang datang entah dari mana. Haputale terkesan sangat misterius dan damai. Suasana di stasiun kedatangan tidak gaduh seperti kebanyakan stasiun. Begitu keluar stasiun pun, tidak ada ratusan supir tuktuk, melainkan hanya beberapa saja, bisa dihitung pakai jari.

Untuk membuat perjalanan lebih nyaman, saya sudah memesan kamar di Awinco Rest Inn. Tidak seperti Nuwara Eliya dengan tarif guesthouse yang cukup mahal (di atas Rp 300.000) namun di Haputale kamu bisa menemui guesthouse bagus hanya dengan biaya Rp 100.000, contohnya Awinco Rest Inn.

Jarak Awinco Rest Inn dari Stasiun Haputale hanya 1 km saja, jadi saya memutuskan untuk jalan kaki sambil mengenal kawasan sekitar. Sambil berjalan santai, saya mulai memetakan kota kecil Haputale ini. Ada beberapa restoran ‘middle east’ di mana kamu bisa menemukan makanan seperti nasi briyani. Ada juga kantor pos, bank, atm, dan toko-toko sembako di sekitar simpang rel. Sepertinya ini adalah kawasan pusatnya di mana juga menjadi terminal kecil untuk bus-bus yang melintas dari dan ke Haputale.

Sambil berjalan, saya terpukau dengan pemandangan di sekitar Haputale. Nampaknya kota kecil ini memang berdiri di tengah bukit di mana kita bisa menikmati pemandangan lembah dan gunung-gunung yang hijau. Tak jarang kabut turun dari puncaknya dan menyapu jalanan, sampai-sampai jarak pandang jadi berkurang. Sangat mistis.

Tak pakai susah, saya menemukan si penginapan. Lokasinya tepat di pinggir jalan raya dan kebetulan jalanan di sini juga agak sepi jadi tidak begitu menggangu. Penginapannya adalah sebuah rumah besar yang memiliki banyak kamar. Terdapat ruang tamu yang digunakan untuk makan dan berkumpul. Penginapan ini dikelola oleh seorang keluarga yang ramah, kamu bisa meminta tolong dan bertanya ke mereka jika kesusahan. Kamar yang saya dapat cukup besar untuk ditiduri sendiri, terdapat dua tempat tidur, kamar mandi dalam dengan air panas, handuk, selimut hangat, dan meja. Sementara itu jendela menghadap samping, tepatnya hutan dan ada ‘air terjun’ kecil yang memberikan suara gemericik air yang menenangkan. Semua ini saya dapatkan hanya dengan Rp 100.000/malam loh!

Sementara saya sudah mendapatkan basecamp untuk memulai petualangan teh di Haputale, kemudian saya bisa merencanakan kemana saja saya harus pergi. Sebenerya agenda saya ada 3, yaitu berkunjung ke Adhisam Monastery, trekking ke Lipton’s Seat, dan belajar tentang teh di pabriknya. Sayangnya Adhisam Monastery hanya buka untuk umum saat akhir pekan saja. Akhirnya jalan-jalan sore diganti dengan pergi ke perkebunan teh di sekitar Haputale.

Sambil jalan santai, saya menikmati angin sore yang sejuk di Haputale. Sebenarnya kaki saya masih encok gara-gara naik ke Adam’s Peak tapi tidak terlalu buruk untuk naik turun tangga selama 5 jam. Ada banyak kebun teh di sekitar Haputale, salah satunya adalah yang di dekat pusat bisnis. Kebunnya cukup luas dan sangat sepi. Sebenarnya saya agak serem jalan-jalan sendirian tapi demi mencari petualangan saya terus menyusuri dan masuk lebih dalam ke perkebunan teh tersebut.

Memang untuk lebih mengenal teh Sri Lanka, kita harus terjun langsung ke perkebunannya. Menghirup langsung udaranya, menginjak tanahnya, dan melhat langsung kesibukan di dalamnya.

Perjalanan teh Sri Lanka saya masih berlanjut. Lebih seru dan lebih dalam lagi dalam petualangan selanjutnya:

You may also like

8 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.