Hiking ke Lipton's Seat Haputale

Pasti sudah gak asing dengan nama Lipton? Brand teh yang sudah mendunia ini ternyata berasal dari nama seorang pengusaha Inggris yang juga memiliki perkebunan teh di Sri Lanka. Lipton’s Seat adalah viewpoint yang cukup terkenal. Berlokasi di kawasan perkebunan teh Dambatene di ketinggian 1970 mdpl, pada cuaca yang baik kamu bisa melihat laut sebelah selatan Sri Lanka loh dari viewpoint ini. Sebelum pergi ke sini, saya tak tahu banyak soal Lipton’s Seat. Berangkat tanpa membawa harapan, saya pulang membawa pengalaman seru di sini.

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-8

Masih dalam perjalanan untuk mengenal teh Sri Lanka, pemberhentian saya di Haputale membawa saya hiking ke Lipton’s Seat. Memang bukan hiking yang ekstrem namun perjalanan ke Lipton’s Seat memberikan cerita dan teman baru juga.

Dari informasi yang saya baca, Lipton’s Seat berjarak 18 km dari pusat Haputale. Tenang.. kita bisa menggunakan transportasi publik sampai titik terdekat yaitu Dambatene Tea Factory. Kemudian dari pabrik teh, perjalanan bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 7 km atau bisa juga naik tuktuk. Tarif bus dari Haputale ke Dambatene Tea Factory cukup murah, sekitar 50 rupee saja atau 5000 rupiah. Sementara itu, saya memilih jalan kaki sejauh 7 km (sekali jalan) karena ingin melihat lebih banyak sekaligus menikmati kebun teh yang indah dan sejuk.

Kemarin sore nya, tanpa sengaja saya satu penginapan dengan Ben, seorang turis Singapura yang ketemu dan sempat ngobrol di Adam’s Peak. Kemudian kami merencanakan untuk hiking ke Lipton’s Seat barengan dan berangkat pagi untuk mendapatkan pemandangan terbaik. Menurut informasi yang saya baca, usahakan tiba sebelum jam 10 pagi karena setelah jam 10 kabut akan menutupi pemandagan dari atas sana.

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-19

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-3

Kami berangkat jam 7 pagi dari Awinco Inn. Beli sarapan dan bekal di pasar Haputale. Kebetulan antara pasar dan tempat menunggu bus sangatlah berdekatan. Sewaktu menunggu bus, kami juga menemui 3 turis Australia dan 2 turis China. Sama-sama menunggu bus yang dalam waktu 15 menit tiba sambil menurunkan gerombolan anak-anak SD.

Untuk menuju Dambatene Tea Factory, kamu bisa menaiki bus dengan tujuan Dambatene. Perjalanan dari Haputale ke Dambatene memiliki pemandangan spektakuler. Ada danau, perbukitan, jurang-jurang, kebun teh, dan rumah-rumah warga yang tidak begitu padat. Saya sangat menikmati perjalanan 30 menit menuju Dambatene. Yup.. meskipun jarak Haputale – Dambatene hanya 11 km namun perjalanan bisa memakan waktu lebih lama karena jalanan yang berkelok-kelok. Tapi jangan shock, begitu jalan, bus akan melaju dengan sangat kencang. Jantung bakal cekat-cekot karena jurang di sisi kanan/kiri dan tak jarang kabut turun sehingga membuat jarak pandang berkurang.

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-2

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-18

Meskipun kaki saya masih sakit sehabis mendaki Adam’s Peak namun entah mengapa saya meng-iya-kan hiking ke Lipton’s Seat sejauh 14 km pulang-pergi. Perjalanan dimulai dengan jalanan menanjak yang tak begitu ekstrem. Setelah melewati Dambatene Tea Factory, kamu akan menjumpai rumah-rumah warga terlebih dahulu. Kemudian pemandangan akan berganti dengan perbukitan teh hijau tanpa batas. Jalanan cukup sepi pagi itu sehingga mengizinkan kita untuk mendengar suara alam dengan lebih intim.

Sesekali kami menaiki jalan setapak membelah perkebunan teh untuk mencari jalan pintas. Sambil memotret, kami juga berinteraksi dengan para pemetik teh. Mayoritas pemetik teh di sini adalah perempuan-perempuan dari beragam umur. Mereka tanpa malu-malu mengajak saya untuk memotret mereka sambil memetik teh. Mungkin mereka sudah terbiasa dan baiknya, mereka tidak meminta bayaran seperti orang-orang di India.

Entah kenapa berjalan 1-2 km di kota terasa begitu melelahkan namun berjalan berkilo-kilometer di alam justru membahagiakan. Mungkin mata tidak terdistraksi dengan beragam informasi, hanya warna hijau alam dan birunya langit pagi. Ditambah udara yang sejuk dan suara alam yang menenangkan. Berjalan satu jam membelah perbukitan benar-benar tidak terasa.

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-10

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-6

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-5

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-9

Oh iya, di dekat Lipton’s Seat akan ada pos penjaga yang akan meminta kamu untuk membeli tiket. Harga tiketnya hanya 50 rupee kalau tak salah. Yah apa lah arti 5000 rupiah untuk pemandangan yang cantik begini?

Dari pos penjaga, Lipton’s Seat sudah tak begitu jauh, mungkin hanya 1 km saja. Sementara itu, ketika sampai kamu akan melihat gardu pandang di atas bukit beserta warung teh di sampingnya. Di paling ujung jalan juga akan terlihat patung Sir Lipton yang duduk santai sambil menikmati pemandangan dari atas sana.

Hanya sekitar 1 jam jalan kaki, kami tiba juga di Lipton’s Seat. Hal pertama yang kami lakukan adalah memesan teh di warung terdekat. Rileks sambil menikmati pemandangan lembah dan berbukitan di seberang. Hati-hati dengan monyet di sekitar dan waspada dengan jurang di sekitar.

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-13

Processed with VSCO with g3 preset

 

Setelah 15 menit bersantai, waktunya saya foto-foto dengan Sir Lipton. Really well-chosen, sir! Ternyata Sir Lipton cukup piawai dalam memilih tempat bengong ya. Sebuah bukit di mana kamu bisa menikmati pemandangan di kedua sisi.

Hari makin siang dan orang-orang semakin banyak yang berdatangan. Saya dan Ben memutuskan untuk turun gunung karena dia berencana untuk checkout pada jam 10 pagi untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

Yang seru dalam perjalanan ini, kami memilih jalur pulang yang berbeda. Iseng-iseng lihat GPS, ada jalan lebih dekat menuju jalur pulang. Kalau sebelumnya kami mengikuti jalur mobil yang memutar gunung, kami bisa menemukan jalur setapak yang bisa langsung membelah bukit sehingga menghemat waktu dan tenaga.

Sambil melewati perkebunan teh yang cukup sibuk pagi itu, kami melewati jalan setapak yang sangat sepi dan ditumbuhi rerumputan yang sudah meninggi. Nampaknya sudah lama tidak dilewati. Ow..ow.. satu hal di kepala saya, ular! Saya takut banget sama ular tapi rasanya juga sudah setengah jalan. Akhirnya jalan cepat tanpa lihat kanan kiri, hanya fokus ke depan.

Sering saya berasumsi, “dikit lagi sampai” dan ternyata gak sampai-sampai. Sempat putus asa dan ingin menyalahkan Ben dengan inisiatifnya ini haha. Saya terus jalan dan kemudian selesai membelah bukit dengan hutan-hutan pinus dan rerumputan yang lebat. Kami disambut oleh pemandangan lembah dan bukit yang sangat indah. Istirahat sebentar untuk minum, makan roti, dan mengambil gambar.

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-12

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-15

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-17

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-16

Setelah itu, perjalanan terus disambut oleh tangga yang menurun. Kembali masuk ke perkebunan teh yang lebih ramah dari ketakutan akan ular. Tak sampai 10 menit, kami sudah tiba di jalan raya yang sangat dekat dengan Dambatene Tea Factory. Wow.. kalau pergi bisa memakan waktu 1,5 jam, perjalanan pulang hanya memakan waktu 45 menit. Akhirnya Ben dan saya berpisah karena dia buru-buru. Sementara saya masih ingin belajar tentang teh di Dambatene Tea Factory.

Ketika saya upload gambar ke social media soal pemandangan di sini, banyak yang nyeletuk “kok kayak di puncak?”. Well.. apa yang kamu harapkan ketika main ke kebun teh? Pasti pemandangannya serupa. Yang mau saya ceritakan di sini bukan cuma pemandangan namun pengalaman dan keseruan. Kalau kamu lelah jalan-jalan di kota dengan beragam kesibukan dan polusinya, kenapa gak coba pergi hiking ke Lipton’s Seat di Sri Lanka?

lipton-seat-sri-lanka-by-febry-fawzi-14

You may also like

12 Komentar

  1. Betul banget Feb, mau di manapun berada, kebun teh itu secara pemandangan hampir mirip. Cuma setiap perkebunan teh khan mempunyai cerita dan pengalaman yang berbeda.

    Btw, selama di Sri Lanka dirimu pakai SIM Card local kah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.